RSS

Sajak tanpa makna

Menjamah rasa pilu
Membiarkan mutiara tergenang basah
Diteriaki keledai, membisu
Dikatai tuli, mendungu
Mungkin
tlah mati pikir
Tapi aku memikir
Tlah mati rasa, tapi merindu
Tak punya hati, tapi mencinta
Oh gila!
 _______________________________________________________________________________________
Langitku Hitam
Tak mungkin ada pelangi
Kau beri bintangpun aku enggan
Rembulan saja juga tak cukup
Lalu kau bisikkan tanya, “haruskah ku hadirkan mentari?”
Bibirku membisu
Kelu
Haruskah kau bertanya?
 ___________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Dalam sunyi Aku berteriak sepi
Lirih senandungkan lagu rindu
Wajah teduh itu gerimis di mataku
Tempat kau bertapa mulai gemuruh
Putus tasbihku terhenti pada bait do’a yang menyelipkan namamu
Bila Prasangkaku seumpama bunga
Maka pertunjukanmu adalah hama
Kau tahu apa yang terjadi pada bunga yang terserang hama?

Gugur. Layu. Lalu mati.

Ma


Ma,
Wajah teduhmu adalah penyejuk hatiku
Tawa renyahmu adalah bahagiaku
Senyum manismu adalah penyakit menular yang menyenangkan
Air matamu adalah lukaku, dimana tiap tetesnya mengoyak ngoyak bathinku
Ma,
Hatiku buncah mencinta
Rasaku bangga menggelora
Tiada dua bahagiaku
lahir dari bibir rahimmu
Ma,
Tak ada bunga atau peluk cium manja
Aku tak seromantis itu
Tapi kupastikan langit tlah terjamah oleh namamu
Malaikat begitu mengenalmu
Allah pun tahu
Ada kau dalam tiap hembusan napasku
Ada kau pengisi sajak wajib tasbihku
Ada kau di bait utama do'aku
Ma,
Padamu surga
Surga yang belum mampu kuraih
Tapi tenanglah, aku akan selalu menjangkau untuk meraihnya
seperti aku selalu menjangkau bahagia untukmu, Ma.

Kota Bertuah, 22 Desember 2015

Ai Wasureta


Aku tahu ia adalah lelaki yang sangat pelupa. Acap kali ia lupa dimana menyimpan kunci apartemen, lupa membawa handuk ke kamar mandi, lupa membawa ponsel, lupa mematikan AC dan banyak lagi. Tapi, aku tak pernah menyangka, kalau kali ini, aku menjadi bagian dari lupa-nya.
Langkah kakiku terhenti. Sebenarnya aku masih harus melangkah 9 sampai 12 langkah lagi menuju pintu apartemnku.Mataku membulat memperhatikan dua orang yang baru saja keluar dari apartemen di depan mataku.
“Hinata-san? Mizuki Oneesan?” Nada suaraku terdengar kecewa. Aku tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mataku, Mizuki oneesan, dokter berusia 28 tahun itu sudah kuanggap sebagai kakakku. Ia tinggal di apartemen yang sama denganku, hanya saja ia berada di lantai dua. Sementara Hinata ...dia kekasih halal-ku. Apartemen Hinata berada tepat di depan pintu apartemenku, kami memang belum satu apartemen karena ini kali pertama kami bertemu kembali di Kyoto setelah menikah. Usia pernikahan kami baru memasuki satu bulan dan kami belum pergi berbulan madu karena sehari setelah menikah Hinata harus kembali ke Kyoto atas tuntutan pekerjaannya, sementara aku harus menjaga ibuku yang sakit untuk beberapa waktu, hingga sekarang aku baru bisa menyusulnya ke Kyoto.
Aku ingin sekali melangkah mendekati mereka lalu mengomeli mereka, tetapi kakiku justru berbalik. Aku berlari. Pergi.
“Aira-chan!”Aku mendegar panggilan itu dengan sangat jelas. Tapi kakiku enggan berhenti. Aku menaiki anak tangga menuju atap apartemen. Air itu menyeruak keluar. Kupandangi langit hitam. Bintang malam ini tak seperti bintang malam itu.
“Semua tak seperti yang kau pikirkan, Aira-chan,” telingku mendengar suara itu tapi kepalaku enggan menoleh ke asal suara tersebut. Kepalaku lebih nyaman memandangi langit.
“Aku hanya berusaha menjaga Hinata, menjaga Hinata untukmu, hingga kau kembali. Itu saja.”
“Apa maksudmu?”  Kali ini aku menoleh, kemudian melanjutkan perkataanku sebelum jawaban keluar dari mulut Mizuki,“Alasanmu lucu sekali Mizuki Oneesan. Kau tahu, usia Hinata sudah 27 tahun, dia bukan anak usia lima tahun yang harus kau jaga!” Marahku pada Mizuki.
Mizuki tertunduk. Kemudian kembali memandang ke arahku, “Ini,” ia menyodorkan sebuah map biru kehadapanku. Kupandangi map biru itu kemudian melirik ke arah Mizuki. Tanganku mengambil map tersebut dari tangan Mizuki dan membukanya.
Dadaku sesak. Seketika pipiku terasa basah kembali. Kepalaku menggeleng. Aku menggigit bagian bibir bawahku kemudian menoleh ke arah Mizuki, berharap ia menjelaskan kalau apa yang kubaca hanyalah mimpi buruk.
“Aku tak sengaja bertemu dengannya seminggu yang lalu di Kamogawa. Saat itu ia baru saja dipecat karena lupa saat presentasi bisnis. Dan kau tahu, saat itu ia mengaku lupa jalan pulang dan bahkan ia tak mengenaliku. Kupikir dia bercanda, tapi aku teringat pada salah seorang pasiensku, kakek Yamamoto, aku sering menceritakannya padamu, bukan? Namun aku masih berharap dia tak seperti kakek Yamamoto, untuk itu aku langsung membawanya kerumah sakit. Tapi ternyata setelah diperiksa, hasilnya ialah apa yang kau pegang di tanganmu saat ini.”
“Tidak! Tidak mungkin! Alzeimer hanya terjadi pada lansia, Oneesan. Kakek Yamamoto sudah 72tahun, wajar saja bila dia terkena alzeimer, sementara Hinata masih berusia 27 tahun!”
“Yang kau katakan memang benar, tapi belakangan ini, ada beberapa pasiens seusia Hinata yang juga terkena Alzeimer, jadi bukan tidak mungkin Hinata terkena penyakit tersebut,” Mizuki menyeka air matanya dan terus menghadap lurus melihat pemandangan Kyoto di malam hari. Ia terlihat sangat serius.
“Dan,” ia melanjutkan perkataannya dan menoleh ke arahku. Aku menatap matanya menantikan kata selanjutnya, “Tadi ia bertanya padaku tentang siapa kau, Aira,” jantungku serasa berhenti berdegup. Lidahku kelu.
Mizuki merangkulku. kemudian menyeret tubuhku untuk tenggelam dalam dekapan hangatnya. Aku bergeming.“Tapi kau tenang saja, untuk saat ini, hanya daya ingat Hinata yang mengalami penurunan secara signifikan, sisanya, belum begitu mengalami penurunan yang begitu terlihat, oh ya, satu mukjizat Tuhan, dia masih bersikap seperti muslim, ternyata Alzeimer belum merusak agamanya, bahkan ia tak terlihat seperti pernah menjadi umat kristiani. Aku salut ketika melihatnya mendirikan sholat dan mengaji. Itu luar biasa,” senyumku terbit untuk sejenak, meski hatiku masih sakit tapi setidaknya Hinata tidak lupa bahwa dia adalah seorang muslim, meski mungkin ia lupa kalau dia adalah seorang mualaf.
“Apakah nanti dia akan seperti kakek Yamamoto?”Aku keluar dari dekapan Mizuki, memandanginya dengan mata merah. Ia mengangguk.
“Setelah ia masuk ke tahap yang lebih parah, ia akan mengalami penurunan emosi dan tidak tahu bagaimana cara melakukan aktifitas sehari-hari. Lalu, akan menjadi seperti balita, seperti kakek Yamamoto,” aku menelan ludah. Mengapa harus Hinata? Mengapa harus suamiku?
Mizuki memelukku lagi. Bulir-bulir air itu belum berhenti membasahi pipi. “Aira-chan, sekalipun dia tak mampu mengingatmu kembali, sekalipun dia tak bisa bersikap sebagaimana yang kau inginkan,  jangan pernah tinggalkan dia, karena semua ini juga bukan kemauannya. Bukan dia yang melupakanmu, tapi alzeimerlah yang membuatnya lupa akan dirimu.”
***
Aku mengetuk pintu apartemen Hinata dengan hati-hati. Sementara tangan kananku mengetuk pintu, tangan kiriku memegang sebungkus keripik nenas oleh-oleh yang kubawa dari kota asalku, Pekanbaru. Keripik nenas adalah makanan kesukaan Hinata, dulu setiap aku kembali ke Pekanbaru, ia selalu minta dibawakan keripik nenas. Tangan kananku berhenti mengetuk begitu pintu dibuka oleh Hinata. Ia memandangiku dengan wajah bingung.
Ohaiyo!” Sapaku riang dengan senyum lebar, bermaksud mencairkan kebingungan dari wajahnya.
“Kau?Ada apa mengetuk pintu apartemenku pagi-pagi begini?”Aku menghela napas panjang. Ia bahkan tak membalas senyum lebarku. Hanya memasang wajah datar.
“Kau benar-benar tak mengingatku? Lihat aku bawa apa?” Aku memperlihatkan kepadanya keripik nenas yang kubawa.
“Itu apa?”
“Ini keripik nenas, makanan khas dari Pekanbaru. Kau suka sekali ini. Kau mau coba?”Ia terdiam. Tanpa menunggu jawaban darinya aku langsung membuka bungkusan keripik nenas tersebut, kuambil satu dan kusodorkan kepadanya. Dengan wajah bingung ia mengambil keripik itu dari tanganku dan mencobanya.
“Enak,” katanya dengan senyum. Aku balik tersenyum, bila ia bisa merasakan rasa keripik itu kembali, akankah ia mampu merasakan rasa cinta ini kembali? Akankah ia bisa mengingatku kembali?
“Oh ya, kau lihat ini, siapa tahu dengan melihat ini kau bisa mengingatku kembali,” aku mengeluarkan dompetku dan memperlihtan kepadanya foto saat aku berdua dengannya usai acara akad nikah. Itu satu-satunya foto kami berdua yang aku punya, sisanya kutinggalkan di Indonesia.
Hinata melihat foto tersebut. Ia terdiam kemudian berkata, “Wah, kita pernah berfoto berdua? Apakah kita berteman dekat? Siapa namamu?” Tanyanya. Wajahnya polos. Hatiku sedikit kesal. Mengapa ia tak mengingatku sama sekali?
***
Aku menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Mataku memandang luas pohon-pohon maple yang mengelilingi danau Ooi River, ada yang telah menguning, ada yang berwarna merah dan juga jingga. Indah. Ooi River yang berada di tengah pegunungan Arashiyama ini masih sama seperi dulu, seperti dua tahun yang lalu. Mataku beralih melihat laki-laki itu. Ia tampak asing dengan tempat ini.
“Tempat ini indah sekali, ini tempat apa?” Pertanyaan itu membuat aku lagi-lagi harus menelan kecewa. Ini sudah hari kelima aku berusaha mengingatkannya tentang siapa aku dan siapa dia, tapi dia masih tidak bisa mengingat itu. Aku sudah membawanya ke tempat biasa kami menghitung bintang, ke tempat biasa kami menghabiskan secangkir kopi, ke tempat saat pertama kali kami bertemu di Kiyomizudera, dan sekarang aku mengajaknya ke tempat dimana ia menyatakan cintanya kepadaku untuk yang pertama kali, tapi ia juga tak mengingatku.
“Kau benar-benar tak mengingat tempat ini?”Aku menatapnya. Ia menggeleng dengan polos.
“Jadi kau masih tak mengingatku?” Mataku yang telah dipenuhi genangan air menatap matanya lekat. Aku tak berkedip untuk dapat menahan genangan air itu agar tak jatuh lagi.
Ia menatap mataku. Hatiku seketika merasakan sesuatu yang aneh. Tatapannya seperti ia telah mengenaliku. Sejenak kami terdiam, terhanyut membiarkan dua pasang bola mata itu saling bicara, hingga kemudian ia membuka mulutnya untuk mengungkapkan sesuatu. Aku menelan ludah. Entah mengapa aku merasa tak sabar mendengar apa yang akan ia katakan, namun juga merasa takut mendengar kembali perkataannya yang begitu polos mengatakan bahwa ia masih tak bisa mengingatku.
“Mengapa kau melakukan semua ini? Memangnya, seberapa penting kau hingga aku harus mengingatmu?” Mataku berkedip. Air itu akhirnya membasahi pipiku lagi. Aku tak mengeluarkan jawaban apapun, hanya berlalu meninggalkannya duduk di sisi perahu yang lain. Ia tidak mengingutiku, ia hanya mematung di tempat ia berdiri.
            Aku duduk termenung di bibir perahu memandang hampa pada danau. Terasa udara musim gugur menyelinap masuk menembus jaket tebalku. Aku menggosokkan kedua tanganku yang tak dibalut sarung tangan untuk menciptakan kehangatan kemudian memasukkan tanganku ke dalam kantung jaket. Tak sengaja aku merasakan ada sesuatu dalam kantung jaket sebelah kiriku. Aku ingat, itu adalah surat ucapan selamat hari jadi yang diberikan Hinata satu tahun lalu. Rencananya aku ingin memperlihatkan surat itu dan berharap setelah membacanya Hinata dapat mengingatku kembali. Tapi rasanya percuma, Hinata tak akan mengingatku lagi. Tidak akan.
Aku beranjak kemudian meminta paman yang membawa perahu itu agar membawa kami ketepi. Begitu sampai di tepi aku mengambil surat itu dari kantung jaketku, meremasnya kemudian membuangnya begitu saja. Berlalu pergi meninggalkan Hinata. Hinata tak memanggilku, itu artinya, aku benar-benar tak berarti untuknya.
***
Ketika hendak menaiki anak tangga menuju lantai empat, tak sengaja aku bertemu dengan Mizuki, ia tampak tengah terburu-buru. Akan tetapi ia sempat berhenti untuk menyapaku, “Aira-chan, kau dari mana saja? Mengapa sendirian? Tampaknya kau menangis? Dimana Hinata? Mengapa kau tak bersamanya?” Oh tidak, ia berhenti bukan sekedar untuk menyapaku, tapi untuk mengajukan sekelumit pertanyaan.
“Aku meninggalkannya di Ooi River. “
“Apa? Kau meninggalkannya sendirian di Ooin River? Itu tempat yang amat jauh dari sini?Ia bisa saja tersesat,” Mizuki tampak begitu khawatir.
“Aku tak peduli,oneesan, sudahlah. Lusa aku akankembali ke Indonesia dan mengatakan kepada ibuku kalau Hinata dan aku sudah tidak bisa bersama lagi. Bila kau peduli padanya, kau saja yang menjaganya. Aku tak sanggup menjaga orang yang tak bisa menjaga perasaanku.” Aku kemudian berlalu menaiki anak tangga kembali tanpa menantikan jawaban dari Mizuki.
***
Pukul 17.58 waktu Kyoto aku terbangun dari tidurku, terdengar suara pintu apartemenku diketuk. Aku beranjak dari atas ranjang dengan malas. Begitu aku membuka pintu apartemenku, tak ada siapa-siapa yang kulihat. Tapi begitu mataku melihat ke depan, kulihat ada tempelan kertas di pintu apartemen 407, tempelan kertas itu berisi tulisan, “Naik ke atap tepat jam 9 malam nanti. Aku menunggumu.–HD,” aku mencabut tulisan tersebut.
Aku melihat ke arah jam dinding. Jarum-jarum jam itu telah menunjukkan pukul 21.05 waktu Kyoto, separuh hatiku ingin sekali naik ke atap karena penasaran dengan isi dari kertas itu, akan tetapi separuhnya lagi tak ingin beranjak pergi karena takut kekecewaan itu harus kurasakan lagi. Aku terus saja memandangi jam, menghitung tiap detik yang berdetak.
Pukul setengah sepuluh, akhirnya diriku mengalah pada hati, aku memutuskan untuk naik keatap apartemen.
Sebuah tikar bambu terbentang dikelilingi oleh lilin-lilin yang telah tinggal setengah, mungkin akibat sudah terlalu lama menyala. Di tengah tikar itu ada lilin kecil, dua gelas kaca dengan sebotol shake, dua piring kosong disertai dua pasang pisau dan garpu, tapi tak ada makanan disana.
Happy anniversary yang ke-2 tahun Lativia Aira, dan selamat hari jadi pernikahan kita yang ke satu bulan,” aku memutar kepalaku menoleh ke sumber suara. Kulihat Hinata tersenyum dengan sepiring Okonomiyaki yang dihiasi lilin bertuliskan angka dua. Okonomiyaki, itu makanan kesukaanku, aku biasa menyebutnya ...Pizza Jepang.
“Kau?” aku benar-benar tak menyangka.Hinata? Melakukan hal yang sama dengan apa yang ia laukan setahun yang lalu saat merayakan anniversary kami yang ke-satu tahun? Bila dia bisa melakukan hal yang samaitu berarti ...dia mengingatku? Dia telah mengingatku!
“Ayo duduk dan kita nikmati malam ini,” aku mengikutinya, seperti terhipnotis aku tak melakukan aksi yang berlawanan sedikitpun, aku duduk di atas tikar yang dikelilingi lilin lilin kecil berwarna merah itu. Tersenyum melihat ia memotong okonomiyaki dan memberinya kepadaku.
 “Enak, kau semakin mahir saja memasak okonomiyaki,” pujiku. Hinata langsung terdiam.dengan gugup ia berkata, “Maaf, itu bukan buatanku, aku membelinya karena aku tidak tahu cara membuatnya.”
Seketika aku terdiam. Bagaimana bisa Hinata mengingat semua ini akan tetapi dia tak tahu cara membuat okonomiyaki?
“Maafkan aku, Aira-chan, jujur saja aku masih belum bisa mengingatmu dan mengingat semua hal yang pernah terjadi diantara kita dan ini semua aku tahu dari surat yang kau buang di Ooi River dan juga dari cerita Mizuki.”
“Jadi ...jadi kau melakukan ini bukan karena kau telah mengingatku?” Seharusnya aku memang tak menemui Hinata lagi.
Aku berdiri, bersiap untuk meninggalkan Hinata.“Bila kau memang tak bisa mengingatku, maka biarkanlah aku melupakanmu,” aku berbalik dan berjalan pergi. Kali ini Hinata tak membiarkan langkahku pergi, ia menahanku.
“Aira-chan!” ia berdiri di hadapanku. Langkahku terhenti.
“Ingatanku memang masih belum bisa mengingatmu, tapi hatiku masih bisa merasakanmu Aira-chan, bahkan sejak pertama kali aku melihatmu, hati ini memberikan isyarat berbeda. Hanya saja saat itu aku masih belum mampu mengertikan isyaratnya. Tahukah kau, sekalipun aku tak bisa mengingatmu, rasa itu masih tetap sama. Masih tetap milikmu. Jangan melupkan aku, aku janji akan belajar mengingat dengan baik. Aku akan lawan Alzeimer ini. Boku no soba ni ite kurenai?”
Aku teringat kata-kata oneesan. Kupandangi wajah ovel Hinata, sepasang mata besarnya menatap lekat mataku. Aku memeluknya,“Sekalipun kau tak mampu mengingatku kembali. Aku tak akan pernah meningglkanmu. Aku akan bersamamu menghadapi alzeimer itu, sayang,” bisikku dalam pelukannya.


Keterangan Kata
1.      San                                                      :  Panggilan untuk teman laki-laki
2.      Oneesan                                              : Panggilan untuk kakak perempuan bukan
kandung
3.      Chan                                                    : Dipakai pada anak kecil atau teman akrab
perempuan
4.      Ohaiyo                                                            : Ucapan selamat pagi
5.      Shake                                                  : Minuman bir Jepang
6.      Okonomiyaki                                      : Makanan Jepang berupa goring tepung dengan
kolditambah isi, seperti daging sapi, kerang,
cumi-cumi, atau udang yang diletakkan dibagian
atas sesuai dengan selera

7.      Boku no soba ni ite kurenai                : Maukah kau berada di sisiku?

Asal Mula Buah Mata Kucing



            Dahulu, sebelum daerah itu terkenal dengan nama Indragiri, terdapat sebuah negeri yang terbentang dari Peranap hingga Kelayang, negeri tersebut dipimpin oleh raja yang adil.
            Seluruh penduduk negeri hidup makmur. Akantetapi, kemakmuran tersebut terusik oleh kesedihan raja yang mengetahui kalau istrinya tidak bisa mempunyai anak. Kesedihan raja tersebut terdengar hingga ke pelosok negeri.
            “Maafkan aku, Suamiku,” permaisuri tertunduk sedih. Sayup-sayup kicauan burung yang tengah bertengger di ranting pohon luar jendela kamar bersahut-sahut.
            Tangan raja menyentuh dagu permaisuri, dengan lembut diangkatnya wajah permaisuri. Raja tersenyum. Sejujurnya raja tersebut masih teramat sedih, akan tetapi ia juga tak ingin melihat permaisurinya merasa bersalah atas kesedihannya.
            “Aku akan lebih sedih jika kau terus bersedih seperti ini juga. Kita akan cari solusinya,” hibur sang raja. Permaisuri tersenyum.
            Kesedihan mendalam tersebut kemudian sirna begitu salah seorang pengawal memberi tahu kepada raja, bahwa raja dapat memohon permintaan ke negeri Khayangan untuk diberi keturunan.
            Tak mengambil waktu lama, raja meminta izin kepada permaisurinya untuk pergi ke negeri Khayangan.
            “Istriku, berdo’alah kepada Tuhan, semoga raja di negeri Khayangan mau memberikan kita anak dan mohon restumu untuk kepergianku, Jagalah dirimu baik-baik,” pesan raja kepada istrinya yang cantik jelita.
            Permaisuri kemudian duduk di singgasana untuk sementara waktu menggantikan sang raja. Ia juga tak henti-hentinya berdo’a agar raja Khayangan mau memberi mereka anak.
            Perjalanan raja menuju ke negeri Khayangan akhirnya berhasil. Ia dapat bertemu dengan raja Khayangan yang begitu tampan.
            “Ampun paduka, saya ...” belum sempat raja menyampaikan maksud kedatangannya, paduka raja negeri Khayangan tersenyum karena sudah lebih dahulu mengetahui maksud kedatangan sang raja.
            “Aku mengerti,” ucap raja Khayangan sembari tersenyum lembut.
            Baginda raja Khayangan menyuruh pengawalnya untuk mengambil seorang bayi perempuan dari negeri Khayangan. Bayi perempuan itu kemudian dihadiahi kepada raja.
            Mata raja berbinar ketika melihat seorang bayi mungil yang masih merah. Senyumnya mengembang. Ia mengambil bayi tersebut dan membawanya pulang atas izin raja negeri Khayangan.
            “Terimakasih banyak, Baginda. Aku berjanji akan menjaga bayi ini sebaik mungkin dan merawatnya dengan penuh kasih sayang,” ucap raja haru. Baginda raja Khayangan mengangguk sembari tersenyum.
            Berita kembalinya raja setelah mendapatkan bayi perempuan cantik terdengar hingga seluruh negeri. Semua rakyat bergembira sebab raja mereka tak lagi bersedih.
            “Bayi yang cantik. Terimakasih, Tuhan,” ucap permaisuri yang menggendong bayinya penuh rasa syukur dan berulang kali menciumi kening serta kedua pipi bayinya.
            Detik yang tak pernah berhenti berdetak  tersebut membuat waktu terasa begitu singkat. Tahun-tahun berlalu dengan penuh kebahagian.
            Putri raja tersebut kian beranjak dewasa. Ia tumbuh menjadi putri cantik jelita, bermata hitam pekat, beralis tebal, bulu matanya yang panjang melentik, hidung mancung, bibir merah yang tipis serta kulitnya yang seputih salju. Selain itu sang putri juga berakhlak mulia. Kecantikan dan kebaikan akhlak sang putri terdengar hingga ke negeri sebrang.
            “Siapkan kereta, aku akan datang ke negeri sebrang untuk melamar putri cantik dari Khayangan tersebut,” titah pangeran dari negeri sebrang kepada prajuritnya. Pangeran tersebut merupakan pangeran tampan yang juga baik hati.
            Datanglah pangeran tersebut melamar sang putri dengan menghadap raja.
            “Apa gerangan yang membuatmu datang kemari, Pangeran?” Tanya baginda.
            Pangeran membungkuk memberi hormat kepada raja. Matanya melirik sekilas sang putri raja yang tengah duduk menundukkan pandangan di pinggir tangan kursi singgasana raja.
            Putri tampak malu dan juga sesekali melirik ragu ke arah pangeran.
            “Ampun, Paduka raja, niat hamba datang kemari ingin melamar putri raja. Mohon maaf atas kelancangan hamba.”
            Raja tersenyum. Ia melihat ke arah putrinya, kemudian berkata, “maaf, Pangeran, aku menolak lamaranmu, putriku layak mendapatkan yang lebih baik darimu,” jawab raja dengan nada sedikit sombong.
            Putri raja kaget mendengar jawaban ayahnya. Ia menganggkat wajahnya dan bersungut kemudian meninggalkan ruang kerajaan.
            Langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja menabrak permaisuri yang tak lain adalah ibundanya.
            “Ada apa putri cantikku?” Sapa ibunda yang heran melihat wajah putri cantikya bersedih.
            “Ayah menolak lamaran pangeran, Bu. Padahal pangeran tersebut tampan dan terkenal baik hati. Aku juga sudah melihatnya, dia laki-laki yang sopan, Bu. Tapi ayah menolaknya,” keluh sang putri. Permaisuri tersenyum dan memeluk putrinya.
            “Ayahmu pasti ingin yang terbaik untukmu, Nak. lagi pula kau masih sangat muda untuk menikah,” nasehat ibunda.
            Hari-hari berlalu dengan kicauan burung yang terdengar kian nyaring sebab semakin banyak saja burung yang bertengger di ranting-ranting pohon sekitar kerajaan. Dan semakin banyak pula laki-laki yang datang untuk melamar sang putrid, dari mulai pangeran kerajaan, pengawal, prajurit, putra-putra bangsawan, hingga rakyat negeri berbagai profesi datang untuk melayangkan pinangannya.
            Sadar kalau putrinya begitu cantik dan memesona serta menjadi incaran banyak laki-laki, sang raja menjadi sedikit pemilih dan menginginkan menantu yang istimewa. Beliau ingin memiliki menantu yang tak hanya tampan, akan tetapi juga memiliki kesaktian mandraguna.
            “Sayang, kau itu begitu cantik, jadi tak boleh sembarang orang memilikimu. Orang itu tak hanya tampan, tapi juga harus sakti mandraguna.”
            Sang putri menatap bingung raja, “Apa maksud, Ayah? Kesaktian mandraguna apa yang ayah inginkan? Bukankah kita tidak boleh mempersulit laki-laki yang hendak menikahi kita, ayah?” Tanya putri.
            “Ayah akan mengadakan sayembara,” ayah menatap lurus dengan senyuman penuh isyarat tanpa menjawab pertanyaan putrinya.
            Putri mengikuti langkah raja yang berjalan di depan singgasana.
            “Sa ...sayembara apa, Ayah? Mengapa harus diadakan sayembara?”
            Raja berbalik melihat putrinya. Ia tersenyum kembali, “Sayembara untuk bisa menikahi putri ayah tersayang ini,” jawab raja masih bermain rahasia dengan sedikit menggoda putrinya.
            Sang raja kemudian memanggil salah seorang prajuritnya.
            “Ampun, Baginda. Ada apakah gerangan hingga hamba dipanggil menghadap baginda?” Tanya prajuri tersebut duduk menyembah di hadapan sang raja yang tengah duduk di atas singgasana.
            “Tolong sampaikan ke seluruh negeri, bahwa aku mencari seorang menantu yang tampan dan memiliki kesaktian.”
            Prajurit menatap bingung, “Kesaktian semacam apa, Baginda? Apa maksud, Baginda?”
            Raja turun dari singgasananya. Ia menyuruh prajurit berdiri kemudian raja berjalan mendekati prajurit dan berbisik.
            Esok paginya, seluruh prajurit menyebar untuk menyampaikan woro-woro dari raja. Beberapa prajurit pergi ke pasar, alun-alun dan tempat-tempat keramaian lainnya.
            “Woro-woro,” prajurit dengan gagahnya berdiri di tengah pasar memegang kertas perintah raja di tangannya.
            Keramaian dan suasana rusuh pasar seketika hening mendengarkan prajurit. Orang-orang sejenak berhenti beraktifitas, dengan antusias mengaktifkan mata dan telinga mereka dengan sebaik-baiknya untuk dapat mendengarkan pemberitahuan yang dibawa oleh prajurit kerajaan.
            “Ada apa ....Ada apa?” Bisik salah seorang ibu kepada ibu lain di sebelahnya.
            “Entahlah, semoga tidak ada kabar buruk, hasil panen dan lainnya baik-baik saja, bukan?” Jawab ibu tersebut balik berbisik.
            “Woro-woro!  Raja mengadakan sayembara! Barang siapa yang berhasil memindahkan aliran air sungai yang biasanya dari hulu ke hilir menjadi dari hilir ke hulu, maka akan diangkat menjadi menantu sang raja. Menikahi putri cantik jelita,” prajurit menutup kertas pengumumannya.
            Apa itu? Mana mungkin? Tidak masuk akal.
            Terdengar bisik-bisik rakyat dan gelengan kepala dari tiap rakyat.
            Sang putri dari kemarin tidak mau keluar kamar. Ia hanya berdiri di  balkon kerajaan memandang langit.
            “Dia sudah mau makan?” Tanya raja pada permaisuri. Permaisuri menggeleng.
            “Bagaimana bisa kau membuat sayembara yang begitu tidak masuk akal, Suamiku?” Tanya permaisuri.
            “Itu masuk akal, Istriku. Bila laki-laki itu sakti, pasti ia bisa. Aku hanya ingin putriku jatuh di tangan laki-laki yang bisa melakukan apa saja.”
            “Tapi tak begini caranya, Suamiku,” nasehat permaisuri.
            “Kau lihat saja nanti, pasti akan ada yang bisa mengubah aliran sungai itu dari hilir ke hulu,” sang raja tetap saja pada pendapatnya.
            Meskipun isi sayembara itu terdengar tidak masuk akal, tetap saja ada laki-laki yang datang mengikuti sayembara tersebut dan berusaha menakhlukkan isi sayembara. Akantetapi tidak ada yang berhasil.
            Sementara itu, putrid raja masih terus saja menangis melihat sikap ayahnya.
            Kabar sayembara itu terdengar ketelinga pangeran negeri sebrang yang dulu pernah datang melamar sang putri.
            “Sayembara gila macam apa itu? Mana ada yang dapat membuat aliran air sungai berbalik arah dari hilir ke hulu. Dan lagi pula apa manfaatnya?” Ujar pangeran begitu mendengar informasi sayembara dari pengawalnya.
            “Hamba juga tak habis pikir dengan itu, Pangeran. Tapi itulah adanya,” pangeran berpikir mencari jalan keluar agar ia dapat menakhlukkan sayembara tersebut.
            “Segera carikan aku ahli sihir yang dapat membuatku bisa menakhlukkan sayembara tersebut!” Perintah pangeran pada pengawalnya.
            “Baik, Pangeran,” pengawalnya kemudian beranjak dan segera melaksanakan titah pangeran.
            “Sudahlah, Nak. Jangan habiskan banyak waktumu untuk memenuhi sayembara gila itu,” nasehat ibunda pangeran.
            “Tidak, Bu. aku akan mencoba. aku sudah datang sendiri dulu melihat sang putri. Putri itu memang cantik jelita, Bu. Aku benar-benar menyukainya,” jelas pangeran kepada ibundanya.
            “Baiklah. Terserah kau saja, Nak. Tapi jika kau tak berhasil mendapatkannya, maka janganlah kecewa. Itu berarti putrid raja sebrang itu bukan jodohmu, dan akan ada yang lebih baik darinya, Nak,” nasehat ibunda lagi. Pangeran mengangguk. Setidaknya ia sudah berusaha, pikirnya.
            Silih berganti orang yang datang hendak mencoba sayembara tersebut, akantetapi tidak ada yang berhasil. Putri semakin gelisah dan sedih, mengingat usianya kian bertambah akan tetapi jodoh begitu sulit didapat sebab keinginan ayahnya.
            Di negeri sebrang pangeran juga telah putus asa karena tak berhasil menemukan penyihir yang dapat membantunya menakhlukkan sayembara tersebut. Pangeran pun akhirnya memberanikan diri saja datang ke istana sebrang untuk mencoba menakhlukkan sayembara dengan kemampuannya yang tidak ada apanya.
            “Kau lagi?” Tanya raja begitu melihat peserta sayembara selanjutnya adalah pangeran yang dulu pertama kali menyatakan hendak melamar putrinya.
            “Ampun paduka raja, dengan maksud yang sama saya datang kembali.”
            “Baiklah, segera tunjukkan kemampuan sakti mandragunamu,” perintah raja dengan menunjuk kearah sungai yang terletak di kanan tempat mereka berdiri.
            Pangeran tersebut melihat ke arah sungai. Ragu-ragu ia menjulurkan kedua tangannya ke depan. Dipejamkannya mata kemudian membaca mantra yang asal karena ia tak punya kemampuan untuk itu.
            Selang beberapa menit, ia kembali membuka matanya. Raja tertawa. Beberapa pengawal, prajurit dan rakyat yang menyaksikan bersorak-sorak menertawai. Bising.
            Pangeran tersebut menghela nafas kecewa. Ia menelan ludah dan terpaksa harus kembali pulang karena tak berhasil mengubah aliran sungai dari hilir ke hulu.
            Usia sang putri semakin matang dan bahkan melewati usia normal untuk menikah. Ia merasa menjadi perawan tua sebab tak ada laki-laki yang mampu menakhlukkan sayembara tersebut. Putri terus saja menangis.
            “Suamiku, apa tak sebaiknya sayembara itu kita hapuskan saja? Lihat putri kita usianya sudah semakin masak saja,” nasehat permaisuri.
            “Bicara apa kau ini, istriku? Aku melakukan ini untuk putri kita. Dia itu cantik jelita, putri idaman seluruh laki-laki, jadi tak boleh sembarang orang mendapatkannya.”
            Raja terus saja pada pendiriannya. Permaisuri semakin gelisah.
            Laki-laki yang dahulunya datang melamar sang putri satu persatu telah meminang wanita lain. Ada yang telah menjadi suami dan ada juga yang telah menjadi ayah.
            Usia putri yang semakin tua menjadi pembicaraan di negeri tersebut.
            “Lihat, putri kerajaan itu sekarang menjadi perawan tua sebab ayahnya memberi syarat yang begitu mustahil.”
            “Iya, aku rasa dia tak akan menikah.”
            “Benar, sayang sekali ya.”
            “Iya, padahal cantik jelita.”
            “Iya, sekarang saja masih cantik.”
            “Beberapa tahun lagi kurasa tidak akan ada lagi yang datang melamar.”
            “Benar, mana ada yang mau dengan perawan tua yang untuk menikahinya saja butuh syarat mustahil itu.”
            “Raja sudah berubah ya sejak punya putri cantik.”
            Mulut-mulut penduduk terdengar hingga ke telinga putri kerajaan. Putri kerajaan semakin sedih. Akan tetapi hati putri kerajaan yang begitu baik membuatnya tidak membenci siapapun, termasuk rakyat yang telah berbicara seperti itu.
            Putri keluar dari kamarnya menghampiri singgasana menghadap ayahnya. Dengan mata sembab putri berkata kepada ayahnya, “Ampuni aku, Ayah. Bolehkah aku meminta seluruh penduduk negeri untuk berkumpul?”
            “Untuk apa, Nak?” Tanya raja bingung.
            “Ada yang hendak aku katakan, Ayah. Aku mohon.”
            Raja mengangguk. Beliau kemudian memerintahkan kepada pengawal untuk mengumpulkan penduduk.
            Seluruh prajurit kembali menyebar ke seluruh pelosok negeri.
            “Woro-woro!” Teriak salah seorang prajurit di tengah alun-alun negeri yang sore itu ramai oleh rakyat yang tengah menikmati sore.
            Seluruh mata beralih memperhatikan prajurit.
            “Wah, ada pengumuman lagi! Jangan-jangan sang raja menghapus sayembaranya! Wah, beruntung sekali pangeran yang nanti dapat meminang putri cantik jelita itu!” Ujar salah seorang rakyat.
            “Iya, meskipun sudah dapat dikatakan perawan tua, putri itu masih saja cantik jelita.” Timpal rakyat yang lain.
            “Woro-woro! Seluruh penduduk negeri diharapkan berkumpul di balai depan istana besok pagi, ada hal penting yang henak disampaikan sang putri cantik jeltita,” terang prajurit dengan nada sedikit berteriak.
            Seluruh rakyat yang mendengar pengumuman itu mengangguk angguk dan sudah tidak sabar untuk besok pagi. Semuanya sudah penasaran dengan perihal yang akan disampaikan sang putri.
            Hari berganti pagi. Mentari sudah gagah di atas sana. Suara sahut-sahut burung dara terdengar lalu lalang. Balai di depan istana sudah ramai oleh penduduk, dari yang muda, tua, anak-anak hingga bayi-bayi dalam gendongan ibunya turut serta.
            Suara riuah-riuh seperti lebah terdengar. Pintu istana kemudian dibuka. Terlihatlah raja, permaisuri dan sang putri berjalan dengan amat terhormat diatas bentangan karpet merah.
            Mata sembab putri terlihat memerah. Ia berusaha tersenyum di hadapan seluruh rakyat.
            “Selamat pagi rakyatku!” Aapa raja di atas mimbar dengan alat pengeras suara. Seluruh rakyat bergumam selamat pagi juga pada sang raja secara tidak serentak hingga terdengar bising.
            “Baiklah, pada pagi ini, putriku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian,” raja kemudian menoleh ke arah putrinya dan tersenyum, “silahkan putriku.”
            Putri tersenyum dan mengambil tempat di atas mimbar menggantikan posisi raja. Raja turun dari atas mimbar agar dapat berganti posisi dengan putrinya.
            “Selamat pagi rakyatku yang berbahagia,” sapa putri raja dengan senyum haru. Seluruh rakyat menjawab sapaan putri dengan senyum lebar karena bahagia dapat melihat putri yang cantik jelita itu kembali.
            “Saya disini hendak menyampaikan ucapan selamat tinggal, sebab saya memutuskan untuk kembali kekhayangan,” raja dan permaisuri terkejut mendengar perkataan putrinya tersebut. Mereka pun saling pandang. 
            “Akantetapi, sebab saya menyayangi kalian semua, saya akan pergi dengan meninggalkan sesuatu yang akan berarti bagi kalian, Rakyatku. Semoga kalian selalu berbahagia,” putri menangis akan tetapi bibirnya tersenyum kepada seluruh rakyat. Kemudian ia menggeser pandangannya beralih pada raja dan permaisuri, “ayah ...ibu ...aku menyayangi kalian,” ucapnya lirih. Bulir-bulir air mata turun membasahi pipinya.
            “Anakku,” lirih raja menangis.
            Ajaib. Sang putri tersbut kemudian menghilang. Air matanya berubah menjadi buah mungil yang berbentuk bulat.
            Raja langsung mengambil buah mungil yang menyerupai lengkeng kecil tersebut dan menatapnya, semula raja tak ingin memakannya, akan tetapi sadar bahwa buah tersebutlah yang dimaksud sang putri agar rakyatnya bahagia, raja akhirnya memberanikan diri memakan buah tersebut. Daging buah tersebut sangat tipis, bijinya sangat hitam dan kulitnya mengkilat persis seperti mata kucing. Rasa buah tersebut begitu manis. Semanis paras dan hati sang putri.
            “Maafkan ayah, Nak,” sesal sang raja yang menyadari sikap buruknya yang terlampau menginginkan menantu yang istimewa hingga putrinya tak kunjung menikah dan memilih kembali ke Khayangan.
            Permaisuri dan seluruh rakyat serta pengawal dan prajurit menangis haru.
            Buah tersebut kemudian diberi nama buah dara. Dara yang berarti putri. Dan untuk mempermudah penyebutan di lidah penduduk, buah itu disebut buah badara atau badaro. Akantetapi, belakangan para pendatang menyebutnya  buah mata kucing sebab wujudnya yang menyerupai mata kucing.

            Saat ini buah tersebut hanya terdapat di Peranap dan sekitarnya, yakni dari muara batang Peranap hingga perbatasan bagian hilir kecamatan Kelayang dan Rakit Kulim. Buah tersebut sudah dicoba ditanam di tempat lain seperti Pekanbaru dan juga Rengat, akan tetapi hanya tumbuh dan tidak mau berbuah. 

Cantik


            “Bagaimana?”
            Aku menatapnya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ia tersenyum menatap aku mengenakan jelana jins dengan kaus oblong. Rambut jabrik dengan kumis tipis yang membuatku semakin tampan.
            “Kau tampan, nak,” pujinya. Aku mendekapnya yang masih terbaring. Kemudian teringat sesuatu sepuluh tahun lalu.
            16 September 2005           
            “Kau suka?”
            Garis wajahnya semakin jelas. Kerutan itu bertambah seiring jarum-jarum pada jam usang di rumah tua kami berdentang. Bola mataku masuk jauh menatap sepasang bola mata hitam yang telah dipenuhi lemak-lemak mata. Pandanganku turun melihat senyum di bibir tipisnya. Beralih naik perhatikan rambut hitamnya yang tlah memutih. Usianya hampir enampuluh tahun. Tak imbang memang bila ia menjadi ayah dari bocah kecil berusiatujuh  tahun sepertiku. Tapi, itulah kenyataan. Aku hadir dipenghujung penantiannya.
            Kau tahu? Aku hampir saja frustasi ingin memiliki anak. Tapi syukurlah! Akhirnya istriku bunting! Bayi perempuan yang kunanti  hadir! Itu kau!  
            Begitu ia bercerita sepanjang hari. Sepanjang waktu. Hingga aku hafal benar kata-katanya. Hafal bagaimana tawanya diakhir cerita. Hafal bagaimana bau rokok di badannya kala mmelukku setelah kata-kata itu.
            Aku tahu. Kenyataan begitu mengecewakannya. Ia kehilangan apa yang telah lama bersamanya dan bahkan tak berhasil memiliki apa yang ia harapkan.
            “Hei! Jawab Cantik! Kau suka?”
            Ia mengulang pertanyaannya. Aku tersentak dari kenangan yang kembali terkenang. Kulihat boneka Barbie dalam bungkusan kotak yang cantik. Aku tersenyum. Usiaku hari ini genap tujuh tahun.
            “Ayah,” lembut aku meraih tubuhnya yang sedari tadi berjongkok di hadapanku. Kupeluk erat tubuh tua itu. Ku usap punggungnya pelan.
            “Aku sangat suka. Aku sangat menyayangimu. Sungguh,” Bisikku pelan kemudian menelan ludah. Entah sampai kapan aku harus terperangkap dalam permainan gila ini.
            Permainan gila ini membuat masa kecilku memiliki keindahan tersendiri. Bagaimana tidak? Tak ada yang lebih indah dari nama Cantik, gaun merah muda, dan kado boneka yang ayah perjuangkan ditengah kemiskinan kami, bukan? Sayang, ayah hanya sibuk  berjuang untuk bayi perempuan harapannya, tanpa sadar bayi perempuan itu lahir sebagai bocah laki-laki.
***
            Sepenggal kisah masa kecil yang selalu membuatku tersenyum disaat mengingatnya. Dan takkan kutemui di zaman ini, sebab ayah telah menyadari bahwa aku laki-laki. Aku tak tahu kapan ayah menyadari itu. Yang kutahu, kado indah diusiaku berikutnya adalah nama Putra.

*Dimuat dalam buku "Indahnya Masa Kecilku"

Secret


            Sepasang bola berkornea itu liar mengusik seluruh bagian Bandara. Sesekali ia menyalakan ponselnya dan melihat sebuah foto laki-laki yang terpampang pada layar ponsel. Jemari kiri masih memegangi ponsel, jemari kanan sudah gelisah menggaruk-garuk kepalanya, membuat sisiran rabutnya tak serapi awal ketika di cermin. Bibir atasnya ia gigit sedikit kemudian berdesis kesal. Nafas lelah terhela sudah.
            “Watashi wa okurete gomen'nasai (Maaf, saya terlambat).”
            Laki-laki itu bangkit dari duduknya. Matanya melihat gadis yang tertunduk di hadapannya itu dari sepatu sneaker bunga-bunga putih-nila hingga rambut coklat kemerahan yang dikuncir ke belakang dengan panjang sebahu.
            “Rirakkusu shite kudasai. Watashi wa zutto mae ni imasen yo. Santai saja. Aku belum lama,” Senyum gadis itu langsung terbit. Ia memberanikan diri menatap wajah laki-laki di hadapannya. Laki-laki tersebut lebih tinggi darinya sehingga ia harus mendongakkan kepalanya sedikit. Rambut hitam dipotong pendek yang rapi. Kulit kuning kecoklatan yang manis dengan hidung mancung dan alis hitam tebal di wajah perseginya.
            “Perkenalkan namaku Kyoko Chou, kau panggil saja Ky (dibaca : Key).” Gadis itu mengulurkan tangannya, laki-laki itu melihat uluran tangan wanita tersebut, ia tersenyum dan menyambut uluran tangan tersebut, “Hanif Alamsyah, panggil saja Hanif.” Gadis itu mengangguk kemudian mengajak laki-laki tersebut beranjak pergi.
            Sepanjang jalan menuju Rumah Arsi, Ky mengoceh tentang bangunan-bangunan yang mereka lewati, sementara Hanif tak lelah mengembangkan senyum dan membuka telinga untuk mendengar tiap penjelasan gadis dengan mata indah itu.
            “Lihat! Itu  Osaka Aquarium Kaiyukan! Kau tahu, itu aquarium paling spektakuler yang pernah aku datangi! Indah sekali di dalam sana. Kau serasa berada di bawah laut, hanya saja tidak basah,” tawa gadis itu di ujug katanya.
            “Oh ya? Sudah berapa banyak tempat wisata aquarium yang kau kunjungi?” Tanya Hanif penasaran. Ky tersenyum malu. Kemudian gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi dipaperkan dengan geli, “Baru itu. baru satu,” ia terkikik menahan geli. Hanif terkekeh.
            Perjalanan dari bandara ke Rumah Arsi ternyata cukup memakan waktu sekitar setengah jam. Rumah Arsi adalah sebuah rumah didik milik Nona Ashima dimana  setiap tahunnya akan selalu kedatangan dua puluh Arsitek berbakat dari berbagai tempat di Asia. Duapuluh Arsitek tersebut didapat dari berbagai tes dan seleksi ketat, yang kemudian akan dididik menjadi Arsitek hebat dunia. Hanif menjadi bagian dari duapuluh orang tersebut, sedang Ky, ia tidak berbakat dalam bidang itu. Ia berbakat dalam mengoceh, hingga ia diangkat sebagai guide peserta. Masing-masing peserta memiliki satu guide, dan Hanif mendapatkan Ky.
            “Masyaallah,” gumamnya pelan dengan mata masih berbinar menatap Rumah Arsi yang didesain begitu modern seperti Umeda Sky, hanya saja tak setinggi itu. Padahal dalam bayangannya, rumah Arsi adalah rumah seperti rumah belajar di Indonesia, tetapi, ini jutru megah, mewah, dan modern. Sepertinya itu lebih cocok disebut gedung kembar, apartemen, atau kantor high class.
            Ky mendongak bingung ke arahnya. Kalimat apa itu? “Hei! Ayo cepat ikut aku, Hanif-san! Kita sudah terlambat! Pembukaan pelajar Rumah Arsi sudah dibuka sejak sejam yang lalu!”
            Usai acara pembukaan Rumah Arsi tahun ke tujuh, seluruh peserta diantar oleh guide mereka masing-masing ke penginapan Rumah Arsi. Penginapan berada di gedung tetangga.
            “Kita satu ...?”
            “Dalam satu apartemen ini ada dua kamar, disediakan untukmu dan untukku. Jangan berpikir macam-macam. Oh ya ...” Suara ponsel Hanif menghentikan perkataannya.
            Hanif merogoh kantung celana hitamnya, dilihatnya layar ponsel mengingatkannya bahwa waktu ashar telah masuk untuk wilayah Kyoto.
            “Kenapa tidak diangkat?”
            “Itu bukan telpon, alarm jam sholat. Aku harus sholat dulu,” Hanif bergumam sesaat mencari dimana letak kamar mandi dan kemudian bergegas mengambil wudhu. Ky hanya melihat dengan heran.
            Ky diam-diam mengikuti Hanif. “Sholat? Di kamar mandi? Sholat itu apa?” Tanyanya terheran sebab ia belum pernah dipasangkan dengan pelajar arsitek muslim. Baru dua kali ia menjadi guide, tahun lalu ia dipasangkan dengan wanita dan tahun ini dengan Hanif. Hanya itu.
            “Kau mengintip?” Hanif terkejut begitu membuka pintu kamar mandi.
            “Enak saja. Tidak-tidak.”
            Hanif beranjak masuk ke kamarnya dan memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat kemudian membuka kopernya untuk mengambil sajadah dan melaksanakan sholat. Diam-diam Ky mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat.
***
            Malam ke delapan ia bersama Ky. Sudah delapan hari saja mereka menghabiskan benyak waktu bersama, sudah berjalan-jalan ke Kuil Shinto mempelajari arsitektur kuil, kemudian ke Umeda Sky, lalu ke Osaka Aquarium Kaiyukan lalu ...ahh banyak lagi.
            Hanif menengadahkan tangannya sebelum menyantap makanan di hadapannya sementara Ky menatap tingkah hanif, kemudian menyatukan kedua tangannya. Mengepal.
            “Kita selalu ketempat bangunan, apa kau tidak bosan?” Tanya Ky yang kemudian menyuapkan  sesumpit ramen ke dalam mulutnya.
            Hanif tertawa, “Namanya juga arsitek, tentu saja mempelajari bangunan.”
            Ky berdehem, “Besok kita ke Osaka Mint Bureau ya! Kau tidak mau melewatkan musim semi tanpa menikmati sakura, bukan?” Tawar Ky. Ky sangat suka tempat itu, tempatnya indah. Ratusan pohon sakura telah tertata rapi di sana, sepanjang jalan akan merasakan deretan sakura, sama halnya saat melewati terowongan akuarium yang dipenuhi nuansa laut, disana juga begitu. Indah.
            “Asyik! Ahh, aku ingin segera besok,” tawa Hanif. Laki-laki itu ...entahlah, ia tak bisa mendeskripsikan banyak. Yang ia tahu, ada sesuatu yang menggelitik hatinya, yang membuat pikirannya selalu memberi sinyal tawa pada bibirnya kala laki-laki itu melintas di pikirannya.
            Alarm sholat berbunyi usai mereka menyantap makanan, “Hanif-san,” ragu Ky memberanikan diri menyampaikan sesuatu yang belakangan mendesak mulutnya agar segera berkata, “Kau akan sholat, bukan?” Hanif mengangguk, “Usai sholat kau selalu berdo’a bukan?” Hanif mengangguk, Ky berdehem, “Dalam do’amu, bisakah kau bertanya pada Tuhan?”
            “Bertanya? Bertanya apa?”
            “Tolong tanyakan pada Tuhan mu, bolehkah aku yang bukan umatNya mencintai hambaNya?”
            Hanif terdiam. Detik terasa berhenti berdetak. Aliran darah seketika beku. Jantung tak terasa debarannya.
            Ky tahu ada yang salah pada perkataannya. Bodoh. Ia kemudian tergelak hebat, membuat gelak tawa buatan itu terkesan natural. “Aku hanya bercanda Hanif-san!” Tawanya lagi. Helaan nafas Hanif terdengar lega. Ia tersenyum. Andai Ky tahu, sudah sejak awal ia bertanya pada Tuhannya, tentang bolehkah hambanya mencintai umat yang berbeda itu? Si pemilik mata indah itu?  
***
            Langit biru cerah bergulung awan putih yang ceria. Warna merah muda sakura membuat apa yang dilihat kornea menjadi lebih indah.
            “Ternyata kau tak berbohong soal tempat ini,” senyum Hanif mengembang. Dan ia juga tahu, kalau titipan pertanyaan Ky tadi malam juga bukanlah sekedar canda. Tawa yang Ky buat-buat begitu jelas, gadis itu memang tak ahli dalam berbohong.

            Hanif menatap sakura itu lekat. Ingin rasanya mengutarakan perasaan di tempat ini. Tapi tidak. Bukankah tak ada yang lebih romantis dari rasa yang diam-diam saling berbalas dalam do’a? Meski ia tak pernah tahu apakah do’anya dan do’a Ky bertemu, tapi ia yakin janji Allah pada surah Annur ayat 24, bila tiba waktunya, do’a mereka akan terjawab. Hanif yakin itu.

*Cerpen ini telah dimuat dalam buku Kumpulan Cerpen 'Romantic Story'