Dahulu, sebelum daerah itu terkenal
dengan nama Indragiri, terdapat sebuah negeri yang terbentang dari Peranap
hingga Kelayang, negeri tersebut dipimpin oleh raja yang adil.
Seluruh penduduk negeri hidup
makmur. Akantetapi, kemakmuran tersebut terusik oleh kesedihan raja yang
mengetahui kalau istrinya tidak bisa mempunyai anak. Kesedihan raja tersebut
terdengar hingga ke pelosok negeri.
“Maafkan aku, Suamiku,” permaisuri
tertunduk sedih. Sayup-sayup kicauan burung yang tengah bertengger di ranting
pohon luar jendela kamar bersahut-sahut.
Tangan raja menyentuh dagu
permaisuri, dengan lembut diangkatnya wajah permaisuri. Raja tersenyum.
Sejujurnya raja tersebut masih teramat sedih, akan tetapi ia juga tak ingin
melihat permaisurinya merasa bersalah atas kesedihannya.
“Aku akan lebih sedih jika kau terus
bersedih seperti ini juga. Kita akan cari solusinya,” hibur sang raja.
Permaisuri tersenyum.
Kesedihan mendalam tersebut kemudian
sirna begitu salah seorang pengawal memberi tahu kepada raja, bahwa raja dapat
memohon permintaan ke negeri Khayangan untuk diberi keturunan.
Tak mengambil waktu lama, raja
meminta izin kepada permaisurinya untuk pergi ke negeri Khayangan.
“Istriku, berdo’alah kepada Tuhan,
semoga raja di negeri Khayangan mau memberikan kita anak dan mohon restumu
untuk kepergianku, Jagalah dirimu baik-baik,” pesan raja kepada istrinya yang
cantik jelita.
Permaisuri kemudian duduk di
singgasana untuk sementara waktu menggantikan sang raja. Ia juga tak
henti-hentinya berdo’a agar raja Khayangan mau memberi mereka anak.
Perjalanan raja menuju ke negeri
Khayangan akhirnya berhasil. Ia dapat bertemu dengan raja Khayangan yang begitu
tampan.
“Ampun paduka, saya ...” belum
sempat raja menyampaikan maksud kedatangannya, paduka raja negeri Khayangan
tersenyum karena sudah lebih dahulu mengetahui maksud kedatangan sang raja.
“Aku mengerti,” ucap raja Khayangan
sembari tersenyum lembut.
Baginda raja Khayangan menyuruh
pengawalnya untuk mengambil seorang bayi perempuan dari negeri Khayangan. Bayi
perempuan itu kemudian dihadiahi kepada raja.
Mata raja berbinar ketika melihat
seorang bayi mungil yang masih merah. Senyumnya mengembang. Ia mengambil bayi
tersebut dan membawanya pulang atas izin raja negeri Khayangan.
“Terimakasih banyak, Baginda. Aku
berjanji akan menjaga bayi ini sebaik mungkin dan merawatnya dengan penuh kasih
sayang,” ucap raja haru. Baginda raja Khayangan mengangguk sembari tersenyum.
Berita kembalinya raja setelah
mendapatkan bayi perempuan cantik terdengar hingga seluruh negeri. Semua rakyat
bergembira sebab raja mereka tak lagi bersedih.
“Bayi yang cantik. Terimakasih,
Tuhan,” ucap permaisuri yang menggendong bayinya penuh rasa syukur dan berulang
kali menciumi kening serta kedua pipi bayinya.
Detik yang tak pernah berhenti
berdetak tersebut membuat waktu terasa
begitu singkat. Tahun-tahun berlalu dengan penuh kebahagian.
Putri raja tersebut kian beranjak
dewasa. Ia tumbuh menjadi putri cantik jelita, bermata hitam pekat, beralis
tebal, bulu matanya yang panjang melentik, hidung mancung, bibir merah yang
tipis serta kulitnya yang seputih salju. Selain itu sang putri juga berakhlak
mulia. Kecantikan dan kebaikan akhlak sang putri terdengar hingga ke negeri
sebrang.
“Siapkan kereta, aku akan datang ke
negeri sebrang untuk melamar putri cantik dari Khayangan tersebut,” titah
pangeran dari negeri sebrang kepada prajuritnya. Pangeran tersebut merupakan
pangeran tampan yang juga baik hati.
Datanglah pangeran tersebut melamar
sang putri dengan menghadap raja.
“Apa gerangan yang membuatmu datang
kemari, Pangeran?” Tanya baginda.
Pangeran membungkuk memberi hormat
kepada raja. Matanya melirik sekilas sang putri raja yang tengah duduk
menundukkan pandangan di pinggir tangan kursi singgasana raja.
Putri tampak malu dan juga sesekali
melirik ragu ke arah pangeran.
“Ampun, Paduka raja, niat hamba
datang kemari ingin melamar putri raja. Mohon maaf atas kelancangan hamba.”
Raja tersenyum. Ia melihat ke arah
putrinya, kemudian berkata, “maaf, Pangeran, aku menolak lamaranmu, putriku
layak mendapatkan yang lebih baik darimu,” jawab raja dengan nada sedikit
sombong.
Putri raja kaget mendengar jawaban
ayahnya. Ia menganggkat wajahnya dan bersungut kemudian meninggalkan ruang
kerajaan.
Langkahnya terhenti ketika tanpa
sengaja menabrak permaisuri yang tak lain adalah ibundanya.
“Ada apa putri cantikku?” Sapa
ibunda yang heran melihat wajah putri cantikya bersedih.
“Ayah menolak lamaran pangeran, Bu.
Padahal pangeran tersebut tampan dan terkenal baik hati. Aku juga sudah
melihatnya, dia laki-laki yang sopan, Bu. Tapi ayah menolaknya,” keluh sang
putri. Permaisuri tersenyum dan memeluk putrinya.
“Ayahmu pasti ingin yang terbaik
untukmu, Nak. lagi pula kau masih sangat muda untuk menikah,” nasehat ibunda.
Hari-hari berlalu dengan kicauan
burung yang terdengar kian nyaring sebab semakin banyak saja burung yang
bertengger di ranting-ranting pohon sekitar kerajaan. Dan semakin banyak pula
laki-laki yang datang untuk melamar sang putrid, dari mulai pangeran kerajaan,
pengawal, prajurit, putra-putra bangsawan, hingga rakyat negeri berbagai
profesi datang untuk melayangkan pinangannya.
Sadar kalau putrinya begitu cantik
dan memesona serta menjadi incaran banyak laki-laki, sang raja menjadi sedikit
pemilih dan menginginkan menantu yang istimewa. Beliau ingin memiliki menantu
yang tak hanya tampan, akan tetapi juga memiliki kesaktian mandraguna.
“Sayang, kau itu begitu cantik, jadi
tak boleh sembarang orang memilikimu. Orang itu tak hanya tampan, tapi juga
harus sakti mandraguna.”
Sang putri menatap bingung raja,
“Apa maksud, Ayah? Kesaktian mandraguna apa yang ayah inginkan? Bukankah kita
tidak boleh mempersulit laki-laki yang hendak menikahi kita, ayah?” Tanya
putri.
“Ayah akan mengadakan sayembara,”
ayah menatap lurus dengan senyuman penuh isyarat tanpa menjawab pertanyaan
putrinya.
Putri mengikuti langkah raja yang
berjalan di depan singgasana.
“Sa ...sayembara apa, Ayah? Mengapa
harus diadakan sayembara?”
Raja berbalik melihat putrinya. Ia
tersenyum kembali, “Sayembara untuk bisa menikahi putri ayah tersayang ini,”
jawab raja masih bermain rahasia dengan sedikit menggoda putrinya.
Sang raja kemudian memanggil salah
seorang prajuritnya.
“Ampun, Baginda. Ada apakah gerangan
hingga hamba dipanggil menghadap baginda?” Tanya prajuri tersebut duduk
menyembah di hadapan sang raja yang tengah duduk di atas singgasana.
“Tolong sampaikan ke seluruh negeri,
bahwa aku mencari seorang menantu yang tampan dan memiliki kesaktian.”
Prajurit menatap bingung, “Kesaktian
semacam apa, Baginda? Apa maksud, Baginda?”
Raja turun dari singgasananya. Ia
menyuruh prajurit berdiri kemudian raja berjalan mendekati prajurit dan
berbisik.
Esok paginya, seluruh prajurit
menyebar untuk menyampaikan woro-woro dari raja. Beberapa prajurit pergi ke
pasar, alun-alun dan tempat-tempat keramaian lainnya.
“Woro-woro,” prajurit dengan
gagahnya berdiri di tengah pasar memegang kertas perintah raja di tangannya.
Keramaian dan suasana rusuh pasar
seketika hening mendengarkan prajurit. Orang-orang sejenak berhenti
beraktifitas, dengan antusias mengaktifkan mata dan telinga mereka dengan
sebaik-baiknya untuk dapat mendengarkan pemberitahuan yang dibawa oleh prajurit
kerajaan.
“Ada apa ....Ada apa?” Bisik salah
seorang ibu kepada ibu lain di sebelahnya.
“Entahlah, semoga tidak ada kabar
buruk, hasil panen dan lainnya baik-baik saja, bukan?” Jawab ibu tersebut balik
berbisik.
“Woro-woro! Raja mengadakan sayembara! Barang siapa yang
berhasil memindahkan aliran air sungai yang biasanya dari hulu ke hilir menjadi
dari hilir ke hulu, maka akan diangkat menjadi menantu sang raja. Menikahi
putri cantik jelita,” prajurit menutup kertas pengumumannya.
Apa itu? Mana mungkin? Tidak masuk
akal.
Terdengar bisik-bisik rakyat dan
gelengan kepala dari tiap rakyat.
Sang putri dari kemarin tidak mau
keluar kamar. Ia hanya berdiri di balkon
kerajaan memandang langit.
“Dia sudah mau makan?” Tanya raja
pada permaisuri. Permaisuri menggeleng.
“Bagaimana bisa kau membuat
sayembara yang begitu tidak masuk akal, Suamiku?” Tanya permaisuri.
“Itu masuk akal, Istriku. Bila
laki-laki itu sakti, pasti ia bisa. Aku hanya ingin putriku jatuh di tangan
laki-laki yang bisa melakukan apa saja.”
“Tapi tak begini caranya, Suamiku,”
nasehat permaisuri.
“Kau lihat saja nanti, pasti akan
ada yang bisa mengubah aliran sungai itu dari hilir ke hulu,” sang raja tetap
saja pada pendapatnya.
Meskipun isi sayembara itu terdengar
tidak masuk akal, tetap saja ada laki-laki yang datang mengikuti sayembara
tersebut dan berusaha menakhlukkan isi sayembara. Akantetapi tidak ada yang
berhasil.
Sementara itu, putrid raja masih
terus saja menangis melihat sikap ayahnya.
Kabar sayembara itu terdengar
ketelinga pangeran negeri sebrang yang dulu pernah datang melamar sang putri.
“Sayembara gila macam apa itu? Mana
ada yang dapat membuat aliran air sungai berbalik arah dari hilir ke hulu. Dan
lagi pula apa manfaatnya?” Ujar pangeran begitu mendengar informasi sayembara
dari pengawalnya.
“Hamba juga tak habis pikir dengan
itu, Pangeran. Tapi itulah adanya,” pangeran berpikir mencari jalan keluar agar
ia dapat menakhlukkan sayembara tersebut.
“Segera carikan aku ahli sihir yang
dapat membuatku bisa menakhlukkan sayembara tersebut!” Perintah pangeran pada
pengawalnya.
“Baik, Pangeran,” pengawalnya
kemudian beranjak dan segera melaksanakan titah pangeran.
“Sudahlah, Nak. Jangan habiskan
banyak waktumu untuk memenuhi sayembara gila itu,” nasehat ibunda pangeran.
“Tidak, Bu. aku akan mencoba. aku
sudah datang sendiri dulu melihat sang putri. Putri itu memang cantik jelita,
Bu. Aku benar-benar menyukainya,” jelas pangeran kepada ibundanya.
“Baiklah. Terserah kau saja, Nak.
Tapi jika kau tak berhasil mendapatkannya, maka janganlah kecewa. Itu berarti
putrid raja sebrang itu bukan jodohmu, dan akan ada yang lebih baik darinya,
Nak,” nasehat ibunda lagi. Pangeran mengangguk. Setidaknya ia sudah berusaha,
pikirnya.
Silih berganti orang yang datang
hendak mencoba sayembara tersebut, akantetapi tidak ada yang berhasil. Putri
semakin gelisah dan sedih, mengingat usianya kian bertambah akan tetapi jodoh
begitu sulit didapat sebab keinginan ayahnya.
Di negeri sebrang pangeran juga
telah putus asa karena tak berhasil menemukan penyihir yang dapat membantunya
menakhlukkan sayembara tersebut. Pangeran pun akhirnya memberanikan diri saja
datang ke istana sebrang untuk mencoba menakhlukkan sayembara dengan
kemampuannya yang tidak ada apanya.
“Kau lagi?” Tanya raja begitu
melihat peserta sayembara selanjutnya adalah pangeran yang dulu pertama kali
menyatakan hendak melamar putrinya.
“Ampun paduka raja, dengan maksud
yang sama saya datang kembali.”
“Baiklah, segera tunjukkan kemampuan
sakti mandragunamu,” perintah raja dengan menunjuk kearah sungai yang terletak
di kanan tempat mereka berdiri.
Pangeran tersebut melihat ke arah
sungai. Ragu-ragu ia menjulurkan kedua tangannya ke depan. Dipejamkannya mata
kemudian membaca mantra yang asal karena ia tak punya kemampuan untuk itu.
Selang beberapa menit, ia kembali
membuka matanya. Raja tertawa. Beberapa pengawal, prajurit dan rakyat yang
menyaksikan bersorak-sorak menertawai. Bising.
Pangeran tersebut menghela nafas
kecewa. Ia menelan ludah dan terpaksa harus kembali pulang karena tak berhasil
mengubah aliran sungai dari hilir ke hulu.
Usia sang putri semakin matang dan
bahkan melewati usia normal untuk menikah. Ia merasa menjadi perawan tua sebab
tak ada laki-laki yang mampu menakhlukkan sayembara tersebut. Putri terus saja
menangis.
“Suamiku, apa tak sebaiknya
sayembara itu kita hapuskan saja? Lihat putri kita usianya sudah semakin masak
saja,” nasehat permaisuri.
“Bicara apa kau ini, istriku? Aku
melakukan ini untuk putri kita. Dia itu cantik jelita, putri idaman seluruh
laki-laki, jadi tak boleh sembarang orang mendapatkannya.”
Raja terus saja pada pendiriannya.
Permaisuri semakin gelisah.
Laki-laki yang dahulunya datang
melamar sang putri satu persatu telah meminang wanita lain. Ada yang telah
menjadi suami dan ada juga yang telah menjadi ayah.
Usia putri yang semakin tua menjadi
pembicaraan di negeri tersebut.
“Lihat, putri kerajaan itu sekarang
menjadi perawan tua sebab ayahnya memberi syarat yang begitu mustahil.”
“Iya, aku rasa dia tak akan
menikah.”
“Benar, sayang sekali ya.”
“Iya, padahal cantik jelita.”
“Iya, sekarang saja masih cantik.”
“Beberapa tahun lagi kurasa tidak
akan ada lagi yang datang melamar.”
“Benar, mana ada yang mau dengan
perawan tua yang untuk menikahinya saja butuh syarat mustahil itu.”
“Raja sudah berubah ya sejak punya
putri cantik.”
Mulut-mulut penduduk terdengar hingga
ke telinga putri kerajaan. Putri kerajaan semakin sedih. Akan tetapi hati putri
kerajaan yang begitu baik membuatnya tidak membenci siapapun, termasuk rakyat
yang telah berbicara seperti itu.
Putri keluar dari kamarnya
menghampiri singgasana menghadap ayahnya. Dengan mata sembab putri berkata
kepada ayahnya, “Ampuni aku, Ayah. Bolehkah aku meminta seluruh penduduk negeri
untuk berkumpul?”
“Untuk apa, Nak?” Tanya raja
bingung.
“Ada yang hendak aku katakan, Ayah.
Aku mohon.”
Raja mengangguk. Beliau kemudian
memerintahkan kepada pengawal untuk mengumpulkan penduduk.
Seluruh prajurit kembali menyebar ke
seluruh pelosok negeri.
“Woro-woro!” Teriak salah seorang
prajurit di tengah alun-alun negeri yang sore itu ramai oleh rakyat yang tengah
menikmati sore.
Seluruh mata beralih memperhatikan
prajurit.
“Wah, ada pengumuman lagi!
Jangan-jangan sang raja menghapus sayembaranya! Wah, beruntung sekali pangeran
yang nanti dapat meminang putri cantik jelita itu!” Ujar salah seorang rakyat.
“Iya, meskipun sudah dapat dikatakan
perawan tua, putri itu masih saja cantik jelita.” Timpal rakyat yang lain.
“Woro-woro! Seluruh penduduk negeri
diharapkan berkumpul di balai depan istana besok pagi, ada hal penting yang
henak disampaikan sang putri cantik jeltita,” terang prajurit dengan nada
sedikit berteriak.
Seluruh rakyat yang mendengar
pengumuman itu mengangguk angguk dan sudah tidak sabar untuk besok pagi.
Semuanya sudah penasaran dengan perihal yang akan disampaikan sang putri.
Hari berganti pagi. Mentari sudah gagah
di atas sana. Suara sahut-sahut burung dara terdengar lalu lalang. Balai di
depan istana sudah ramai oleh penduduk, dari yang muda, tua, anak-anak hingga
bayi-bayi dalam gendongan ibunya turut serta.
Suara riuah-riuh seperti lebah
terdengar. Pintu istana kemudian dibuka. Terlihatlah raja, permaisuri dan sang
putri berjalan dengan amat terhormat diatas bentangan karpet merah.
Mata sembab putri terlihat memerah.
Ia berusaha tersenyum di hadapan seluruh rakyat.
“Selamat pagi rakyatku!” Aapa raja
di atas mimbar dengan alat pengeras suara. Seluruh rakyat bergumam selamat pagi
juga pada sang raja secara tidak serentak hingga terdengar bising.
“Baiklah, pada pagi ini, putriku
ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian,” raja kemudian menoleh ke arah
putrinya dan tersenyum, “silahkan putriku.”
Putri tersenyum dan mengambil tempat
di atas mimbar menggantikan posisi raja. Raja turun dari atas mimbar agar dapat
berganti posisi dengan putrinya.
“Selamat pagi rakyatku yang
berbahagia,” sapa putri raja dengan senyum haru. Seluruh rakyat menjawab sapaan
putri dengan senyum lebar karena bahagia dapat melihat putri yang cantik jelita
itu kembali.
“Saya disini hendak menyampaikan
ucapan selamat tinggal, sebab saya memutuskan untuk kembali kekhayangan,” raja
dan permaisuri terkejut mendengar perkataan putrinya tersebut. Mereka pun
saling pandang.
“Akantetapi, sebab saya menyayangi
kalian semua, saya akan pergi dengan meninggalkan sesuatu yang akan berarti
bagi kalian, Rakyatku. Semoga kalian selalu berbahagia,” putri menangis akan
tetapi bibirnya tersenyum kepada seluruh rakyat. Kemudian ia menggeser
pandangannya beralih pada raja dan permaisuri, “ayah ...ibu ...aku menyayangi
kalian,” ucapnya lirih. Bulir-bulir air mata turun membasahi pipinya.
“Anakku,” lirih raja menangis.
Ajaib. Sang putri tersbut kemudian
menghilang. Air matanya berubah menjadi buah mungil yang berbentuk bulat.
Raja langsung mengambil buah mungil
yang menyerupai lengkeng kecil tersebut dan menatapnya, semula raja tak ingin
memakannya, akan tetapi sadar bahwa buah tersebutlah yang dimaksud sang putri
agar rakyatnya bahagia, raja akhirnya memberanikan diri memakan buah tersebut.
Daging buah tersebut sangat tipis, bijinya sangat hitam dan kulitnya mengkilat
persis seperti mata kucing. Rasa buah tersebut begitu manis. Semanis paras dan
hati sang putri.
“Maafkan ayah, Nak,” sesal sang raja
yang menyadari sikap buruknya yang terlampau menginginkan menantu yang istimewa
hingga putrinya tak kunjung menikah dan memilih kembali ke Khayangan.
Permaisuri dan seluruh rakyat serta
pengawal dan prajurit menangis haru.
Buah tersebut kemudian diberi nama
buah dara. Dara yang berarti putri. Dan untuk mempermudah penyebutan di lidah
penduduk, buah itu disebut buah badara atau badaro. Akantetapi, belakangan para
pendatang menyebutnya buah mata kucing
sebab wujudnya yang menyerupai mata kucing.
Saat ini buah tersebut hanya
terdapat di Peranap dan sekitarnya, yakni dari muara batang Peranap hingga
perbatasan bagian hilir kecamatan Kelayang dan Rakit Kulim. Buah tersebut sudah
dicoba ditanam di tempat lain seperti Pekanbaru dan juga Rengat, akan tetapi
hanya tumbuh dan tidak mau berbuah.