“Jangan bodoh!” Suara dengan isi
kalimat yang itu-itu saja kembali mengusik lamunannya. Muncul sepersepuluh
menit sekali. Masuk dari kuping kiri kemudian lewat tanpa rintangan hingga
mencapai pintu keluar kuping kanan. Angin pantai kemudian membawa pergi suara
itu.
Sepasang bola berkornea itu telah
digenangi air. Satu kedipan saja, maka akan jatuh sempurna membelai wajah yang tak
lagi seperti dulu. Sorot mata itu penuh harapan menatap jingga di ufuk barat
yang hampir tenggelam.
Lima.
Empat.
Tiga.
Dua.
Ahh! Dia selalu saja terlampau cepat
berhitung. Seharusya bisa lebih lambat lagi. Tidak. Dia tidak pernah terlampau
cepat. Hitungannya tepat. Jingga itu memang telah tenggelam. Tinggal langit
biru dengan biasan jingga yang tak lama akan berganti kelam. Tapi, ada yang
salah.
“Sampai kapan kamu mau seperti ini?”
Pertanyaan tersebut sudah pernah keluar beberapa kali, tak kalah sering dengan
kaliamat ‘jangan bodoh.’
Ombak tampak enggan menggulung
senyum ketepian. Napasnya terhela sesak. Ini senja kesekian di tanggal duapuluh
dua bulan sebelas.
Apa
kabar?
Bolehkan
kita meramu obat rindu?
Ada
sesuatu penting yang ingin kusampaikan. Datanglah ke tempat dimana kau bisa melihat
jingga tenggelam bersama ombak yang agresif menyetubuhi pasir pantai. Aku tunggu
di tanggal kembar tak bertangkai dan bulan kembar yang langka, tahun ini. Tepat
Anniversarry kita ke-5 tahun.
-Jimmi-
Kalimat
dalam surat waktu itu sangat lengkap melekat diingatannya, tak ada satu huruf
atau tanda baca yang absen. “Bodoh itu saat kau menunggu sesuatu yang tak
pasti,” jeda sesaat. Kepalanya menoleh menatap wanita yang sedari tadi duduk di
sampingnya, “Sedang Jimmi pasti datang, dia bukan laki-laki yang ingkar janji!”
Risya, wanita itu menatap gadis
dengan mata penuh harap itu dengan miris. Dipandanginya wajah yang masih
terdapat bekas luka akibat menjilat aspal jalanan. Menelan ludah kemudian
menggeleng. “Tapi ini bukan tanggal atau pun bulan kembar, Ay.”
Ayla tergelak, “Kau bercanda?
sekarang tanggal 22 November 2014.”
22 November 2014
Jingga beranjak turun. Lelaki itu
tak kunjung datang. Lima. Empat. Tiga.
“Dua. Satu,” suara laki-laki
tersebut membuat kepalanya menoleh melupakan sang jingga.
“Lihat! Hitunganmu tepat sekali!”
Seru laki-laki tersebut menatap langit yang telah kehilangan jingga. Gadis itu
ikut menoleh kembali menatap jingga yang telah tenggelam di balik bukit tengah
lautan.
Laki-laki itu kemudian berjalan
menghampirinya. Senyum gadis itu mengembang. “Lama tak bertemu? Sudah dua tahun
sejak kamu kuliah S2 ke Malaysia, bukan? Sungguh aku merindukanmu!” Celotehnya
tampak amat sumbringah, sedang air muka laki-laki tersebut tampak sendu.
“Ini,” sebuah kertas berbalut
plastik yang cantik tampak seperti undangan tersedor di hadapannya. Dilihatnya
terdapat tulisan Jimmi & Kezha. Wajah sumbringahnya berganti bingung. Ditatapnya
Jimmi dengan wajah penuh harap kalau apa yang disodorkan tersebut adalah
undangan palsu, semuanya hanya candaan semata.
“Aku minta maaf,” Jimmi menunduk.
Ayla masih menatapnya, menanti ada penjelasan selanjutnya dari semua itu. “Ini
permintaan ayah, kau tahu bagaimana ayahku bukan? Beliau tak pernah merestui
kita?” Jimmi menatap gelang salib di pergelangan tangannya. Ayla mengikuti arah
mata Jimmi.
***
“Aku titip Ayla,” pesan Jimmi pada gadis
berjilbab bernama Risya. Risya menelan ludah, muak. Ingin tangan itu melayang
menampar Jimmi, memaki laki-laki itu, meremas wajahnya. membentaknya. Marah. Geram.
Risya mengangguk tanpa menoleh
melihat Jimmi. Ia benci laki-laki itu. Tapi sahabatnya Ayla juga bodoh! Sudah
tahu mereka tak bisa bersatu, sudah tahu takkan mendapat restu, tetapi tetap
bertahan dalam pilu dengan harapan segalanya kan berpihak seiring waktu. Bodoh!
Ia beranjak melihat Ayla dari kaca
kecil di pintu rumah sakit. Mungkin, Allah membuat Ayla kecelakaan untuk mengistirahatkan
jiwanya sesaat dan berharap saat sadar nanti Ayla lupa segalanya. Bahkan
tentang Jimmi. Amnesia, baru kali ini ada yang mengharapkannya.
29 Desember 2015
Ia masih setia pada waktu. Awan
hitam berarak menghampiri mereka. Mengalirkan rintik peluruh luka.
“Hujan!! Ayo kita harus segera
berteduh, nanti kau sakit seperti seminggu lalu,” ajak Risya menarik tangan Ayla.
Ayla enggan beranjak. Ia bersikokoh pada posisinya.
“Tidak! Kali ini aku tak akan pergi.
Aku takut nanti dia datang saat aku pergi!”
“Dia tidak akan datang Ayla!!!
Sadarlah! Jimmi sudah menikah dengan wanita lain setahun lalu! Kau melihat
sendiri undangannya di tempat ini. Jimmi sudah datang menemuimu di tempat ini
setahun lalu, Ayla! Sadarlah! Sekarang tanggal 29 Desember 2015 bukan 22
November 2014! Sadar, Ay! Sampai kapan kamu mau menganggap semua hari adalah
tanggal 22 bulan 11? Sampai kapan kamu akan selalu menanti di sini sepanjang
senja hingga langit berganti gelap?” Semua yang menyesak itu terutarakan dengan
beberapa nada penuh tekanan dipandu suara rintik hujan.
Pikiran Ayla berputar-putar. Ia tak
mengerti maksud Risya. Trauma dan kecelakaan itu membuatnya terkena penyakit
aneh dimana menganggap setiap hari adalah tanggal 22 November 2014, sebab itu
ia selalu melihat senja dan menanti Jimmi di Pantai. Ayla berdiri dari
posisinya, ingin mengucapkan sesuatu akan tetapi semua terasa berat. Kemudian
gelap.
*Telah terbit dalam buku kumpulan antologi cerpen One Time’ Penerbit : Viramedia
0 komentar:
Posting Komentar