RSS

22-11


            “Jangan bodoh!” Suara dengan isi kalimat yang itu-itu saja kembali mengusik lamunannya. Muncul sepersepuluh menit sekali. Masuk dari kuping kiri kemudian lewat tanpa rintangan hingga mencapai pintu keluar kuping kanan. Angin pantai kemudian membawa pergi suara itu.
            Sepasang bola berkornea itu telah digenangi air. Satu kedipan saja, maka  akan jatuh sempurna membelai wajah yang tak lagi seperti dulu. Sorot mata itu penuh harapan menatap jingga di ufuk barat yang hampir tenggelam.
            Lima.
            Empat.
            Tiga.
            Dua.
            Ahh! Dia selalu saja terlampau cepat berhitung. Seharusya bisa lebih lambat lagi. Tidak. Dia tidak pernah terlampau cepat. Hitungannya tepat. Jingga itu memang telah tenggelam. Tinggal langit biru dengan biasan jingga yang tak lama akan berganti kelam. Tapi, ada yang salah.
            “Sampai kapan kamu mau seperti ini?” Pertanyaan tersebut sudah pernah keluar beberapa kali, tak kalah sering dengan kaliamat ‘jangan bodoh.’
            Ombak tampak enggan menggulung senyum ketepian. Napasnya terhela sesak. Ini senja kesekian di tanggal duapuluh dua bulan sebelas.
            Apa kabar?
            Bolehkan kita meramu obat rindu?
            Ada sesuatu penting yang ingin kusampaikan. Datanglah ke tempat dimana kau bisa melihat jingga tenggelam bersama ombak yang agresif menyetubuhi pasir pantai. Aku tunggu di tanggal kembar tak bertangkai dan bulan kembar yang langka, tahun ini. Tepat Anniversarry kita ke-5 tahun.
                                                                        -Jimmi-
            Kalimat dalam surat waktu itu sangat lengkap melekat diingatannya, tak ada satu huruf atau tanda baca yang absen. “Bodoh itu saat kau menunggu sesuatu yang tak pasti,” jeda sesaat. Kepalanya menoleh menatap wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya, “Sedang Jimmi pasti datang, dia bukan laki-laki yang ingkar janji!”
            Risya, wanita itu menatap gadis dengan mata penuh harap itu dengan miris. Dipandanginya wajah yang masih terdapat bekas luka akibat menjilat aspal jalanan. Menelan ludah kemudian menggeleng. “Tapi ini bukan tanggal atau pun bulan kembar, Ay.”
            Ayla tergelak, “Kau bercanda? sekarang tanggal 22 November 2014.”
22 November 2014
            Jingga beranjak turun. Lelaki itu tak kunjung datang. Lima. Empat. Tiga.
            “Dua. Satu,” suara laki-laki tersebut membuat kepalanya menoleh melupakan sang jingga.
            “Lihat! Hitunganmu tepat sekali!” Seru laki-laki tersebut menatap langit yang telah kehilangan jingga. Gadis itu ikut menoleh kembali menatap jingga yang telah tenggelam di balik bukit tengah lautan.
            Laki-laki itu kemudian berjalan menghampirinya. Senyum gadis itu mengembang. “Lama tak bertemu? Sudah dua tahun sejak kamu kuliah S2 ke Malaysia, bukan? Sungguh aku merindukanmu!” Celotehnya tampak amat sumbringah, sedang air muka laki-laki tersebut tampak sendu.
            “Ini,” sebuah kertas berbalut plastik yang cantik tampak seperti undangan tersedor di hadapannya. Dilihatnya terdapat tulisan Jimmi & Kezha. Wajah sumbringahnya berganti bingung. Ditatapnya Jimmi dengan wajah penuh harap kalau apa yang disodorkan tersebut adalah undangan palsu, semuanya hanya candaan semata.
            “Aku minta maaf,” Jimmi menunduk. Ayla masih menatapnya, menanti ada penjelasan selanjutnya dari semua itu. “Ini permintaan ayah, kau tahu bagaimana ayahku bukan? Beliau tak pernah merestui kita?” Jimmi menatap gelang salib di pergelangan tangannya. Ayla mengikuti arah mata Jimmi.  
***
            “Aku titip Ayla,” pesan Jimmi pada gadis berjilbab bernama Risya. Risya menelan ludah, muak. Ingin tangan itu melayang menampar Jimmi, memaki laki-laki itu, meremas wajahnya. membentaknya. Marah. Geram.
            Risya mengangguk tanpa menoleh melihat Jimmi. Ia benci laki-laki itu. Tapi sahabatnya Ayla juga bodoh! Sudah tahu mereka tak bisa bersatu, sudah tahu takkan mendapat restu, tetapi tetap bertahan dalam pilu dengan harapan segalanya kan berpihak seiring waktu. Bodoh!
            Ia beranjak melihat Ayla dari kaca kecil di pintu rumah sakit. Mungkin, Allah membuat Ayla kecelakaan untuk mengistirahatkan jiwanya sesaat dan berharap saat sadar nanti Ayla lupa segalanya. Bahkan tentang Jimmi. Amnesia, baru kali ini ada yang mengharapkannya.
29 Desember  2015
            Ia masih setia pada waktu. Awan hitam berarak menghampiri mereka. Mengalirkan rintik peluruh luka.
            “Hujan!! Ayo kita harus segera berteduh, nanti kau sakit seperti seminggu lalu,” ajak Risya menarik tangan Ayla. Ayla enggan beranjak. Ia bersikokoh pada posisinya.
            “Tidak! Kali ini aku tak akan pergi. Aku takut nanti dia datang saat aku pergi!”
            “Dia tidak akan datang Ayla!!! Sadarlah! Jimmi sudah menikah dengan wanita lain setahun lalu! Kau melihat sendiri undangannya di tempat ini. Jimmi sudah datang menemuimu di tempat ini setahun lalu, Ayla! Sadarlah! Sekarang tanggal 29 Desember 2015 bukan 22 November 2014! Sadar, Ay! Sampai kapan kamu mau menganggap semua hari adalah tanggal 22 bulan 11? Sampai kapan kamu akan selalu menanti di sini sepanjang senja hingga langit berganti gelap?” Semua yang menyesak itu terutarakan dengan beberapa nada penuh tekanan dipandu suara rintik hujan.
            Pikiran Ayla berputar-putar. Ia tak mengerti maksud Risya. Trauma dan kecelakaan itu membuatnya terkena penyakit aneh dimana menganggap setiap hari adalah tanggal 22 November 2014, sebab itu ia selalu melihat senja dan menanti Jimmi di Pantai. Ayla berdiri dari posisinya, ingin mengucapkan sesuatu akan tetapi semua terasa berat. Kemudian gelap.


*Telah terbit dalam buku kumpulan antologi cerpen  One Time’ Penerbit : Viramedia


0 komentar:

Posting Komentar