RSS

42 Hours





            Awan masih biru, langit tak menunjukkan sesuatu yang salah. Hari ini peraturannya berangkat pakai motor, ada dua motor yang akan pergi. Seharusnya dengan jumlah 4 orang, dua laki-laki dan dua perempuan. Akantetapi, salah seorang teman perempuan meminta izin untuk tidak bisa ikut, orang tuanya datang, begitu alasannya. Sudah mencoba mencari pengganti, namun tak  ada yang bisa, ada yang sakit, ada juga yang sudah terlanjur membuat agenda lain.
            Pukul delapan kurang, ponsel bergetar. Teman setim yang berjanji akan menjemput telah menunggu di simpang, begitu kabar yang kubaca melalui pesan singkatnya di line. Aku bergegas pamit pada teman dan berjalan menuju simpang. Tak jauh, hanya berjarak tiga rumah saja.
            “Maaf lama,” ujarku, kemudian bergegas menaiki motor dengan posisi duduk menyamping. Jujur, sebenarnya aku tak suka dibonceng laki-laki, bukan mahrom. Tetapi apa daya, ini sebuah keharusan untuk menempuh perjalanan jauh yang membahayakan, bukan? Satu lagi, dalam hati ini tengah bergelayut rasa cemas. Bagaimana tidak? Kami akan pergi bertiga, dan hanya aku yang perempuan, jarak yang akan ditempah pun bukan sejenggal dua jengkal, sejam dua jam tetapi empat hingga lima jam.
            “Iya, nggak apa. Oh ya, kita nggak jadi pakai motor, kita pakai mobil bareng anak Teluk Meranti,” mataku membulat. Senyum itu tak tertahan. Hati ini lega. Allah memang punya banyak cara.
            Ia kemudian mengendarai motor. Kami menuju SPBU di depan pasar pagi dekat kampus. Ia bilang, disana tempat ia dan anak dessa Teluk Meranti berjanji untuk bertemu.
            Begitu sampai di SPBU, aku melihat Dhea. Ia teman sejurusanku, syukurlah ia ternyata juga ikut survey. Ia bersama seorang laki-laki, Wawan, begitu nama yang laki-laki itu sampaikan ketika berkenalan. Kami kemudian pergi menuju tempat dimana mobil tersebut dirental.
            Masalah. Ternyata mobil yang akan dirental belum benar-benar pasti. Kami kemudian dibawa oleh dua orang lelaki, teman dari Wawan, menuju rumah dimana mobil tersebut seharusnya berada. Ahh, semakin tidak jelas saja. Jarum jam tak menunggu kesiapan kami, jarum-jarum itu berputar seenaknya. Wawan, kali ini kami harus memanggilnya abang. Ya, ternyata ia angkatan 2011. Bang Wawan dan salah seorang lelaki asing itu sibuk menelpon. Sementara Dhea, pergi meninggalkan kami untuk menjemput uang dari teman setimnya. Aku dan Yono, teman setimku hanya bisa menunggu kepastian.
            “Uda fix, jam 9 kita dijemput di depan hotel Mona,” ujar bang Wawan. Dua laki-laki asing itu kemudian pamit. Kami mengucap syukur dan menunggu Dhea kembali sembari bercerita.
            Pukul Sembilan kurang beberapa menit, kami masih menunggu di depan Hotel Mona, Dhea tengah menjemput dua teman setimnya yang baru saja selesai masak. Ya, mereka masak untuk kebutuhan makan selama perjalanan, keren bukan? Aku salut.
            Mobil yang ditunggu-tunggu datang. Si supir memberi kode, bang Wawan menghampirinya sementara aku dan Yono hanya melihat dari jauh. Senyumku sudah mengembang saja. Sudah tidak sabar melihat tempat Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) ku nantinya.
            Dengan senyum mengembang kami menyambut bang Wawan yang menghampiri kami usai berbicara dengan supir. Wajahnya datar. Kulihat mobil tersebut melaju pergi meninggalkan hotel Mona. Ada apa? Mata kembali beralih pada sosok laki-laki berkaca mata dihadapanku.
“Bapaknya nggak mau nganterin kita. Dia ngebatalin gitu aja setelah tau tujuan dan situasi jalan tempat Kukerta kita,” senyum yang mengembang itu seketika mengempis. Garis yang melengkung berganti datar. Jantungku entah masih berdetak atau tidak, yang kutahu, hatiku serasa dihempas amat kuat.
“Lalu?” tanyaku pelan.
Bang Wawan mengambil posisi duduk di kiri Yono. Dari cara ia mendudukkan tubuhnya, tampak ada amarah yang tertahan. Ada kecewa yang teramat dalam.
“Entahlah, ini lagi nyari mobil lain. Kita lihat aja, kalau nggak dapat mobil sampai jam sepuluh, kita nggak jadi pergi hari ini,” terangnya sembari mengotak-atik ponsel lalu mencoba menghubungi seseorang.
Aku dan Yono berdiskusi, jika tidak sekarang kapan lagi? Pikir kami bersama. Pergi dengan motor saja tidak memungkinkan, apa lagi kami hanya berdua, salah seorang teman laki-laki yang seharusnya ikut tiba-tiba meminta izin karena masuk rumah sakit. Langit tak menunjukkan sesuatu yang salah, tetapi mengapa begini?
Dhea datang bersama dua temannya. Maya dan Widia, aku tahu nama itu ketika kami berkenalan. Kau tahu? Mereka datang membawa lauk-pauk yang telah dimasak dengan rajutan senyum tak sabar akan pergi melihat tempat Kukerta pula. Dan seketika, rajutan senyum itu enyah oleh berita yang jangankan untuk didengar, untuk disampaikan saja rasanya tak kuasa.
Seorang laki-laki dari tim mereka datang lagi dengan senyuman yang sama dan dengan cara yang sama pula, senyum itu hilang.
Tidak ada hari lain, mau tidak mau harus hari ini, itu prinsip kami. Dan memang kondisinya seperti itu. Sulit mencari hari, setiap orang punya kesibukan yang berbeda dan tak banyak yang peduli itu.
Masing-masing dari kami asyik mengotak-atik ponsel. Menghubungi orang-orang yang dirasa bisa memberi informasi mengenai rental mobil. Berlomba dengan waktu, mobil tak kunjung didapatkan. Pukul sepuluh sebentar lagi. Bang Wawan bersama Zaid kemudian bergerak pergi menuju tempat rental mobil yang bisa didatangi. Nihil.
Beberapa menit setelahnya, aku mendapati mobil yang bisa dirental. Akantetapi, mobil tersebut baru bisa diambil pukul dua belas. Kami berdiskusi. Mau tidak mau. Kami memutuskan untuk mengambil mobil tersebut.
Sebelum berangkat, kami makan bersama di kost Dhea. Jam dua belas kurang usai makan siang, bang Wawan pergi menjemput temannya yang akan menjadi supir kemudian menjemput mobil di Sidomulyo.
Kami menanti penuh harap. Tiap mendengar klakson mobil, kami melihat keluar, berpikir itu mobil yang akan kami tumpangi. Lucu.
Ponsel berdering, bang Wawan memanggil dari sebrang sana.
“Mobil diambil jam 12 harus balik jam 12, sementara kita nggak mungkin bisa balik jam 12, nggak mungkin ngurus semuanya selesai malamkan? Ambil dua hari juga dananya besar, jadi gimana?” Tanya bang Wawan dari sebrang sana. Kami menyarankan untuk lobby sewa satu setengah hari.
Syukurlah, lobby kami diterima dengan tambahan biaya setengah dari harga dan mobil itu harus dikembalikan besok sore tepat pukul 6.
Menunggu bang Wawan kembali dengan mobil rental, kami berdiskusi mengenai persiapan untuk pergi. Apakah harus pulang dulu ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan baju dan lain-lain atau tidak, mengingat kami akan menginap sementara persiapan yang ada saat ini hanya untuk pergi balik hari.
Kemalasan yang didukung jarak tempuh untuk pulang membuat kami memutuskan pergi seadanya tanpa membawa baju dan lainnya, maklum rumah kami rata-rata jauh. Sementara itu, Maya justru memutuskan tidak ikut dikarenakan ada ujian besok pagi, dengan berat hati dan sedikit sedih kami menyetujui keputusannya. Bagaimanapun juga kuliah tetap nomor satu, meskipun pergi survey ini adalah bagian dari kepentingan kuliah, tetapi kembali lagi pada skala prioritas.
Pukul dua kurang beberapa menit, terdengar klakson mobil. Di gerbang kami melihat bang Wawan turun. Kami bersorak riang dengan senyuman amat lebar. Berangkat dengan rute mengantar maya terlebih dahulu.
Di dalam mobil, bang Wawan duduk di samping supir. Aku, Dhea dan Widia duduk di urutan nomor dua, paling belakang duduk Zaid dan Yono. Perjalanan menuju Kecamatan Teluk Meranti, kabupaten Pelalawan siap untuk dimulai!
Perjalanan yang tak membosankan, kami asik bercerita. Entah apa yang diceritakan yang pasti ada saja yang di bully dan menciptakan gelak tawa. Dhea adalah korban yang acap sekali menjadi korban bully.
Jalanan menuju kecamatan Teluk Meranti sebelumnya baik-baik saja hingga simpang Bunut. Akantetapi setelah simpang tersebut, jalanan menjadi tidak baik-baik saja, aspal jalan hanya beberapa kilometer saja dari sana, setelahnya jalanan pasir berdebu. Hujan membuat jalan tanah liat itu menjadi lengket dan tidak kokoh.
Semakin jauh, medan semakin sulit. Lewat dari simpang desa Kuala Panduk menuju Teluk Meranti, jalanan bergelombang, lobang besar disertai lumpur.  Hal inilah yang kemudian membuat supir kami dipuja-puja, abang supir itu berhasil melewati medan-medan sulit dengan baik meski disertai suara-suara riuh dari dalam mobil. Terlebih ketika kami hampir slip.
“Jangan dihindari, lewati saja,” pesan bapak-bapak yang kami tumpangi. Bapak itu kami dapati ketika melewati simpang Bunut, ia meminta tumpangan menuju desa Patodaan, kebetulan untuk menuju Teluk meranti, kami melewati desa Patodaan.
Kau tahu? Semula kami ragu dengan bapak itu, bagaimana tidak? Mengaku tinggal disana akantetapi tiap ditanya jalan, bapak itu selalu saja menjawab lurus-lurus saja dan beberapa kali menjawab tidak tahu. Ketika turun, bapak itu memberi petunjuk jalan, semula kurang meyakinkan karena ketika dicek pada google map, kami sudah keluar sangat jauh dari rute yang seharusnya. Namun, ketika bertanya pada warga sekitar, ternyata petunjuk jalannya benar, berarti google map itu yang salah. Ya, kita memang tidak boleh berprasangka buruk dengan orang lain. Maafkan kami yang telah berprasangka buruk ya, pak.  
Malam itu pukul tujuh. Begitu datang, kami langsung diajak makan malam disalah satu rumah makan dekat lokasi acara. Ya, Kami datang diwaktu yang tepat, tengah ada acara penutupan lomba MTQ di desa tersebut. Malam menunjukkan kalau desa tersebut tak terlalu buruk, bahkan amat bagus dan diluar ekspektasi. Warga dan perangkat desanya ramah.
Usai makan, kami dihampiri oleh pak Lurah. Kami menceritakan maksud dan tujuan dari kedatangan kami. Malu-malu kami juga mengakui kalau kami tidak memiliki persiapan banyak untuk menginap, semua diluar rencana. Syukurlah, bapak tersebut murah hati menawarkan kami penginapan. Ia pamit pergi untuk berbicara dengan seorang ibu mengenai penginapan yang ditawarkan. Penginapan itu berada tepat di depan rumah makan yang tengah kami tempati. Kami disuruh mengambil dua kamar untuk menginap.
Semula kami disuruh beristirahat saja, akantetapi kami menolak karena hendak menghadiri acara penutupann MTQ tersebut. Luar biasa, anak-anak kecamatan Teluk Meranti amat berbakat, pintar mengaji, lihai menari dan merdu bernasyid-marawis. Aku salut melihatnya.
Pukul dua belas kami masih di luar, hendak beristirahat tetapi penjaga penginapan sedang tidak di tempat, entah bagaimana nasib menginap kami. Lurah yang semula menyuruh mengambil kamar sudah pulang. Sepertinya akan tidur di mobil. 
Allah maha baik, ada saja jalan. Kami menginap juga di penginapan tersebut. Meski dengan keragu-raguan, entah akan bayar atau tidak.  Ahh, itu nanti saja dipikirkan, yang terpenting adalah melepas penat menempuh perjalanan luar biasa.
***
Mentari sebentar lagi akan terbit. Sayang jika tak melihat sunrise ditepian Bono. Aku, Dhea, Widia, Zaid dan Yono bergegas keluar menuju anjungan untuk menikmati sunrise. Sementara bang Wawan dan bang supir, kami biarkan tidur sebab tak tega membangunkan mereka, tidur mereka amat lelap. Pasti mereka lelah sekali.
Bulatan jingga itu perlahan naik. Biasnya tak hanya mewarnai langit putih biru, tapi juga berefleksi pada air sungai. Aku merekam mentari itu dengan ponsel. Yang lain sibuk berfoto. Mentari itu kian naik namun menghilang dibalik awan. Seperti kebahagiaan kami yang menghilang ketika sampai di simpang Kuala Panduk.
Usai sarapan dan survey di desa Teluk Meranti, kami menuju desa Kuala Panduk. Tetapi tiba-tiba, di simpang desa, mobil kami mati, bannya kempes.  Kami turun dan harus mendorong mobil. Dengan gelak tawa kami  mendorong mobil. Mobil dibawa ke bengkel terdekat untuk isi angin, bocor halus dan kemudian juga di tubles.
Entah mengapa, kisah kelam itu bermula di sini. Kelam? Oh aku salah menamainya, kisah seru yang tak terlupakan itu bermula di sini. Mobil tak bisa digas, sudah didorong, hidup sebentar kemudian mati lagi.
Sampai di depan rumah kepala desa, ada yang datang membantu kami, ia mengantarkan salah seorang dari kami membeli air aki. Air aki sudah diisi, tetapi mobil tak kunjung sembuh.  Hingga akhirnya, kami meminta tolong anak laki-laki pak Kades yang kira-kira berusia duabelas tahun untuk menghantarkan Yono, ketua tim kami ke kantor kepala desa. Kami menunggu. Sekitar pukul setengah dua belas, Yono kembali membawa berita yang hampir serupa dengan desa Teluk Meranti, posko kami belum ada namun akan diinformasikan melalui telpon. Kami pun kembali mendorong mobil untuk pulang. Lagi, mobil itu mati saat ditanjakan. Keluar dari desa kuala panduk saja belum, mobilnya sudah mati lagi. Bagaimana bisa sampai ke Pekanbaru jika begini?
Mobil itu kemudian dibiarkan beberapa jam. Didinginkan, kata abang supir. Sudah diperiksa sebelumnya, jika tidak karena aki maka dinamo atau pompa minyak, tebakan para laki-laki. Kami beristirahat sejenak.
Oh tidak, ketika beristirahat, Dhea dan Widia kembali mebahas seputar lipstik, aku hanya bisa mendengar tanpa mengerti, sebab aku memang tidak suka memakai lipstik.
Wajah-wajah stress terlihat usai penantian panjang, mobil yang didinginkan tetap saja tidak mau menyala. Salah seorang warga desa membantu untuk mengantar ke bengkel. Bengkel dinamo tidak ada di desa tersebut, harus melewati simpang Bunut untuk dapat menjumpai bengkel dinamo. Kami diberi dua pilihan, mobil dibongkar di tempat dengan berbagai resiko atau digerek hingga berjumpa bengkel di simpang Bunut?
Kau tahu seberapa jauh simpang Bunut itu? Lebih dari 50 kilometer, kurang lebih seperti dari Bangkinang ke Pekanbaru, namun dengan jalan yang berpasir, berdebu, liat. Hanya sedikit aspal ketika sudah hampir dekat simpang.
Bang Wawan menelpon si-empunya mobil, meminta solusi karena tentu kami tak mungkin akan sampai di Pekanbaru pukul 18.00 ketika sudah begini. Akhirnya mobil kami diderek. Biaya Derek 300ribu, uang yang tersisa di tangan bendahara gabungan (aku dan Dhea) hanya 300ribu, bagaimana nanti membayar uang bengkel? Uang makan dan uang supir?
Dhea panik. Stress. Sementara aku masih berpikir semuanya akan baik-baik saja. Jam berapapun kami pasti sampai ke Pekanbaru. Masalah uang, aku yakin teman-teman tim kami yang tidak ikut survey akan mengerti dan membantu. Tapi masalahnya kemana dicari uang tambahan sedang diantara kami tidak ada yang memegang uang lebih?
Aku menelpon salah seorang teman dari desaku, Mahatir namanya. Meminta tolong padanya untuk menghanddle teman-teman yang ada di Pekanbaru.
Bantuan dana itu datang, kami mendapat kiriman 500ribu. Masalah berikutnya,  bagaimana cara mengambil uang tersebut sedang tidak ada ATM? Ahh sudahlah, bang supir memberi saran untuk tenang dan jangan dipikirkan masalah uang tersebut.
Di tengah kondisi tersebut kami masih bisa tertawa, saling bercandaa dan saling umpan serak. Oh hai! Sungguh, ini tim terkece dengan orang-orang umpan serak dan baper dimana-mana, termasuk si abang supir bergigi gingsul yang namanya masih belum bisa disebutkan karena masih dalam tebakan, takut salah nama jadi baiknya dipanggil abang supir yang keren saja.
Tali gerek beberapa kali putus. Menempuh perjalanan jauh dengan digerek memang tak mudah, terlebih ketika melewati jalanan berbukit.
Tak sanggup menarik mobil berisi beban, kami semua terpaksa turun dari mobil dan naik di atas mobil L-300 yang menggerek kami. Bukannya sedih, kami justru senang karena ini kali pertamaa merasakan rasanya duduk di bak belakang mobil, dilihat orang-orang sepanjang jalan, melewati jalanan berdebu hingga kami harus menutup wajah dengan tisu.
Beberapa tragedi terjadi selama diderek, umumnya ketika menaiki bukit, tali Derek putus dan mobil kami bergerak mundur, mobil derek hampir saja menambrak mobil kami tetapi untunglah dengan rem dan teriakaan “Reeem!!” mobil itu tak jadi saling bertumbukan. Segalanya tak lepas dari kuasa Allah.
Sialnya, mobil derek kami mendapat masalah baru, harus didorong baru bisa menyala. Ahh, mengapa penyakit itu menular pada mobil yang menderek mobil kami? Entah sudah berapa kali kami mendorong, tapi syukurlah kami tetap masih bisa tersenyum.
“Aku tidak menyesal ikut survey, ini survey paling greget dan tak terlupakan!” Masing-masing kami menyetujui kalimat itu.
Berdo’a sepanjang jalan agar semua baik-baik saja, kurasa itu yang kami lakukan diam-diam dalam gelak tawa. Jingga yang kulihat di timur kini tlah tiba di barat. Suasana melihatnyapun berbeda. Kami menatap jingga terbenam dari bak mobil yang tengah menderek mobil kami. Sesekali kami melihat abang supir di dalam mobil. Kasihan sekali abang itu, sendirian. Pasti sangat sepi tidak ada teman bicara. Ahh, semoga saja abang itu tidak kapok menjadi supir kami.
Senja berganti kelam. Azan maghrib berkumandang, kami baru saja sampai di Sorek, bengkel yang dituju ternyata tutup. Si pemilik bengkel telah ditelpon tetapi nihil. Mobil kembali digerek. Sampai di depan bengkel berikutnya yang juga tutup, akantetapi pemilik bengkel akan segera datang, katanya. Sembari menunggu, kami bergegas menuju masjid di sebrang jalan yang tak jauh dari tempat kami berhenti untuk menyelenggarakan sholat maghrib, mengadu pada Allah dan memohon ampunan. Mungkin apa yang terjadi adalah cobaan, tapi bisa saja hukuman sebab sebuah dosa.
Waktu yang panjang. Disela-sela perbaikan, si abang supir ditanyai oleh abang bengkel, “Kaukan angkatan paling tua, coba jawab! Menurutmu kalau kau melihat cewek, apanya yang menarik?” Tanya abang terssebut dengan logat bataknya.
Sejenak abang supir terdiam bingung-bingung malu, “Matanya,” jawab abang supir kami. Abang bengkel menyalahkan. Abang supir ngotot kalau jawabannya benar karena jawaban itu adalah hak setiap orang jadi wajar saja jika yang membuat menarik menurut setiap orang itu berbeda-beda. Sepertinya ia menjawab benar-benar dari hati dan serius.
“Salah lah, yang menarik itukan tangan,” jawab tukang bengkel yang pecah dengan gelak tawa kami. Abang supir menghela napas malu. Kami saling meledek. Ya begitulah yang berlangsung sejak kemarin, apapun yang terjadi tetap saja kami asyik bercanda tawa, tim asyik dan kece, rasanya kesialan ini justru berhikmah pada kedekatan antara kami, sayang kami tak sedesa. Dan benar kata seseorang, beda penjara dan istana itu hanya satu, yaitu tentang baimana kita bersyukur.
Mengingat kalimat itu aku jadi teringat kalimat kedua yang paling aku ingat sepanjang jalan, “Sungai itu dalamnya cuma sedada bebek” kata Zaid ketika kami melewati jembatan. Kau tahu? Kata-kata itu berhasil membuat aku lupa kalau bebek itu bukan batu.
Si abang supir dan tukang bengkel pergi menuju rumah si abang tukang bengkel untuk mengambil keperluan servis dan cas aki, sementara bang Wawan, Zaid dan mister Barbie (julukan untuk Yono) sibuk melepaskan tali kawat dari mobil derek. Kami? Tim ladies? Ahh jangan ditanya, kami justru di dalam mobil membuat ladies night, saling bertukar cerita seputar laki-laki, dan entah bagaimana bisa, tiba-tiba cerita itu berganti menjadi perkara lipstik.
Tak sengaja ketika cerita berganti menjadi perkara lipstik, Zaid berdiri di pintu mobil dan mendengar.
“Ya ampun, nggak selesai-selesai lipstik orang ni,” ledeknya kemudian duduk di bangku depan mobi sementara bang Wawan duduk di bagian supir dan mister Barbie tidur di belakang mobil. Ladies night berganti ladies and gentleman night, haha. Kami memperluas percakapan dan cerita sembari menunggu perbaikann mobil. Ada saja yang diceritakan, ada saja tawa yang terpecahkan.
Sedihnya, kami belum makan dari siang hingga pukul menunjukkan pukul sepuluh. Aku, Dhea dan Widia hanya kasihan pada laki-laki terkhusus abang supir yang paginya hanya sarapan mie.
“Kalian lapar?” Tanya bang Wawan.
“Kami sih bisa aja diatur, bang. Kami mikirin kaliannyo,” sahut Dhea.
“Ngapain kalian mikirin kami, kami aja nggak mikirin kalian,” tukas Zaid tertawa, memancing emosi yang berakhir tawa.
Entah pukul berapa mobil itu selesai dibenarkan, yang kutahu usai mobil itu dibenarkan kami membayar mobil itu dengan uang dari teman Widia. Uang itu dititipkan teman Widia ketika kami melewati Patodaan jauh sebelum mobil kami rusak, niatannya dititip untuk diberikan ke orang tua temannya tersebut. Namun, kami terpaksa memakai uang tersebut atas izin teman Widia juga, karena kami tidak menemukan ATM. Sebelumnya kami hampir frustasi masalah uang dan ATM ini, tapi entah bagaimana bisa, ingatan akan uang titipan itu terlintas. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan?
Kami makan malam di Kerinci pukul setengah duabelasan. Nasi itu rasanya sudah tak menggoda lagi meski lapar, mungkin karena sudah terlampau telat makan. Tetapi aku tetap berusaha untuk menghabiskan makanan. Makan malam sembari melepas penat, menempuh perjalanan yang melelahkan namun amat berkesan.
Pukul duabelas malam  kami tiba di Sekijang. Sudah jatuh, baru berdiri kemudian tertimpa tangga dan jatuh lagi. Sepertinya begitu. Ban mobil belakang sebelah kiri seketika bocor. Ternyata kisah ini belum berakhir.
Abang supir bernama Rolly, ya, kami sudah tahu namanya saat mengkonfirmasi di rumah makan tadi. Ia mengeluarkan peralatan dongkrak, Widia menyenteri, Zaid mencoba membuka ban serap, yang lain mencari penyangga. Malang teramat malang,  ketika didongkrak, beban mobil tak seimbang hingga jatuh dan membuat dongkrak itu penyet, tidak bisa digunakan lagi.
Kami berjejer di pinggir jalan, melambaikan tangan dan meminta bantuan. Ada mobil yang berhenti kemudian pergi karena kami kejar. Mungkin  mobil tersebut takut dan banyak mobil yang hanya lewat.  Tentu saja, ini jalan lintas, sudah pukul duabelas lewat, mana ada yang berani berhenti menolong, bukankah zaman sekarang orang lebih baik tidak menolong dari pada kena lolong?
Dalam hati aku berdo’a, “Ya Allah, bukakanlah hati salah seorang pengemudi yang lewat agar berkenan menolong kami. Sungguh hanya kepadamu kami memohon pertolongan ya Allah,” gumamku dalam hati.
Aku selalu percaya kekuatan do’a. Aku selalu yakin dengan kejaiban hidup. Sebab itu aku masih bisa berkata semuanya baik-baik saja ketika dunia telah menentang dan ngotot berkata bahwa ia tak sedang baik-baik saja. Kau tahu? Mobil L300 yang baru saja melewati kami seketika berhenti, mobil itu mutar balik dan pengemudinya turun menolong kami. Allah, aku mencintaimu, sungguh.
Semua kembali baik-baik saja meski mobil kami harus didorong lagi agar bisa menyala.  Entah sudah berapa kali kami mendorong mobil, yang kutahu, entah mengapa hati ini justru ingin waktu berputar pelan. Dan ternyata tak hanya aku yang menginginkan itu.
Pukul setengah dua kami sampai di Pekanbaru, dan pukul dua kurang aku, Dhea dan Widia sampai di rumah Widia. Kami menginap disana hingga pagi sebab kembali ke kost sangat tidak mungkin.
Cerita ini tak sepenuhnya berakhir, sebab pagi hari kudengar ketika hendak mengembalikan mobil, ban kanan belakang mobil bocor dan harus ditambal. Luar biasa.  Dan bagi kami, satu hal lagi yang luar biasa,  abang Rolly, supir expert kami yang hingga akhir cerita belum juga turun reputasinya. Supir terbaik yang semoga saja tak jera pergi bersama kami. Terimakasih Kecamatan Teluk Meranti, abang supir dan Tim kece terbaper untuk empatpuluh dua jamnya.

*Ada masa dimana janji untuk tak akan lupa teringkari, jadi sebelum teringkari  izinkanlah kutulis sepenggaal cerita pengingat kisah kita. Detail kebersamaan itu kubiarkan menjadi rahasia rasa diantara kita saja, Tim (Bang Rolly, Bang Wawan, Zaid, Yono, Widia, Dhea, Fira).
(30 Mei - 1 Juni 2016)

6 komentar:

Unknown mengatakan...

iya greget..
kayaknya KKN nya bakal lebih greget deh... :D

Unknown mengatakan...

haha smoga, kak :D thanks for reading kakaaaa ()

Lydia Kusdyanti Iasya mengatakan...

Waaaah keren kaliiii... saluut...

Unknown mengatakan...

hihi iya keren banget... :D thanks for reading :)

Lydia Kusdyanti Iasya mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Kertas Usang mengatakan...

maaf kak bahassanya terlalu baku, stye-nya kah ?

Posting Komentar