Aku
berdiri diam memperhatikan sekitar sambil memegang nampan berisikan semangkok
mie ayam dan segelas teh es, kulihat kantin kantorku yang hanya menyediakan 8
meja makan dengan 4 kursi di masing-masing meja. Kecil, memang, dan siang ini semua
meja sudah terisi penuh.
“Ntar
mie ayamnya dingin loh didiemin aja,” aku terlonjak kaget mendengar suara
tersebut. Kucari asal suara yang ternyata bersal dari arah sebelah kananku.
Laki-laki berambut cepak dengan kulit sawo matang itu tersenyum tengil. Laki-laki
itu juga tengah memegang nampan. Nampannya berisi bakso dan segelas jus jeruk.
Aku melihatnya dengan bingung. Sepertinya ini kali pertama aku melihatnya. Sebelumnya
tidak pernah.
“Itu,
mejanya kosong. Duduk disana yok!” Ajaknya. Aku masih bingung. Mengapa
laki-laki ini sok kenal dan sok dekat sekali? Padahal aku sama sekali tak
mengenalinya.
“Udah,
jangan kelamaan mikir. Ntar jam istirahatnya habis loh!” Ia memulai langkah
maju, dan berjalan menuju meja yang ia maksud. Meja itu beberapa menit lalu
diisi. Hanya saja tiba-tiba kosong begitu aku tersadar dari lamunanku. Aku
hanya mengikutinya dengan gugup.
Kami
duduk berhadapan. Sebelum menyantap mie ayam tersebut, aku menengadahkan tangan
terlebih dahulu untuk berdo’a, sekilas aku melihat ke arahnya dan ia justru
tengah menatapku. Mataku gugup begitu mengetahui dia tengah menatapku. Aku
menundukkan pandanganku dan memulai do’a. Kemudian mulai menyantap mie ayamku.
“Nama
kamu siapa?”
Aku
melihat kearahnya sekilas, kemudian menunduk dan menjawab, “Zitta.”
“Nama
yang imut! Kamu bagian akuntan ya?” Ha? apa wajahku terlihat seperti
rumus-rumus keuangan hingga ia dapat menebak seperti itu? Aku mengangguk
sembari meneguk segelas teh es.
Ia
berdehem, kemudian kembali bertanya, “Kok kamu nggak nanya aku? Kamu udah kenal
aku? Atau nggak mau kenal sama aku? Atau...” Ahh, laki-laki ini...dia laki-laki
cerewet pertama yang pernah kutemui, oh bahkan dia laki-laki pertama yang makan
semaja denganku. Hanya berdua saja. Ya, aku tak pernah makan dengan lelaki
hanya berdua dalam satu meja, kecuali dengan abi atau laki-laki yang masih ada
hubungan keluarga denganku. Aku memang menjaga jarak dengan laki-laki, bukan
karena trauma atau sebagainya, hanya saja, aku ingin menghindari zina dan
menjaga hati. Adapun lelaki yang dekat denganku hanya sekedar teman satu
departemen kerja dan beberapa orang yang memang satu kompleks perumahan
denganku. Sementara untuk teman perempuan sendiri, aku punya banyak di kantor.
Tapi untuk sahabat, hanya satu orang, aku biasa memanggilnya ‘Ukhti Kila’ dia
atasanku, biasanya aku makan di kantin berdua dengannya. Tapi untuk hari ini,
ia tak masuk kerja karena sakit.
“Hei!
Kok malah ngelamun? Hobby ngelamun ya?” Tanya laki-laki itu lagi. Aku tersenyum
kecil, “Maaf, nggak kok,” jawabku sekenanya.
“Aku
Rama Aryando, aku Supervisor baru pindahan dari kantor pusat, baru pindah
kemarin. Panggil aja Rama,” aku tersedak. Ia langsung menyodorkan minum, aku
mengambil air minum yang disodorkannya dengan spontan dan meneguknya. Setelah
itu aku baru sadar kalau minum yang diberinya adalah jus jeruk miliknya.
Astaghfirullah, berarti aku dan dia sudah...ahh tidak-tidak!
“Makasih,”
ujarku. Sejujurnya, tadi aku tersedak karena mendengar perkenalan darinya, ia memperkenalkan
dirinya tanpa ku tanya. Ia lucu sekali.
Kulirik
jam tanganku menunjukkan pukul 14.00 wib pertanda jam istirahat dikantorku
sudah habis. Jam istirahat siang ini entah mengapa terasa begitu singkat. Aku
yang kebetulan memang sudah menghabiskan makananku, sejenak meneguk teh es ku
hingga tak tersisa. Sementara Rama tampak terburu-buru menghabiskan baksonya. Aku
menggeser bangguku kemudian berdiri. Aku pamit kepadanya dan berlalu pergi
meninggalkannya yang masih terburu-buru menghabiskan makanannya.
***
Jam
istirahat siang ini kembali seperti jam istirahat biasanya, aku makan siang
bersama ukhti Kila di kantin. Ketika kami tengah asyik makan, Rama datang
menghampiri kami.
“Permisi,
boleh gabung?” Aku dan ukhti Kila menatap Rama bingung, kemudian kami saling
pandang. Aku mengerti arti mata ukhti Kila, dia seolah tengah bertanya, ‘Apa
kamu kenal laki-laki ini?’ dan aku hanya membuka mulut gugup tanpa suara. Kemudian
menutup mulutku kembali. Tanpa jawaban dari kami, Rama kemudian duduk di samping
kananku. Entah mengapa, jantungku seolah mau copot, debarannya begitu kencang.
aliran nadiku begitu panas, sepertinya darah pada nadi mengalir dengan
kecepatan cahaya. Aku melepas sendok dan garpu yang sebelumnya kupegang.
rasanya tanganku menggigil. Kulihat kembali Rama. posisi duduknya begitu dekat
denganku, bahkan aku bisa melihat dengan jelas bagaimana garis wajahnya. Aku
menundukkan mataku, menahan pandanganku. dan bergeser sedikit menjaga jarak.
Rama melihatku, ia sepertinya sadar bahwa aku tengah menjaga jarak darinya,
tapi semoga saja ia tak menyadari detak jantungku yang bergitu kencang. Aku
menelan ludah, melihat kearah ukhti Kila, memberi isyarat agar kami segera
meninggalkan tempat tersebut.
“Hai,
aku Rama, temannya Zitta,” Rama tersenyum ramah ke arah ukhti Kila, aku hanya
memasang mimik bingung. Sejak kapan Rama menjadi temanku? Apakah perkenalan
singkat kemarin membuat kami menjadi teman?
Kulihat
ukhti Kila tersenyum ramah. Ukhti Kila memang wanita hebat. Ia pandai bersikap
sebagaimana yang seharusnya. “Zitta, kita masih ada yang harus diselesaikan di
kantor, kan? Balik sekarang, yuk!” Ajaknya. Ahh, ukhti Kila! Ia memang hebat. Tahu
saja apa yang tengah aku inginkan saat ini.
“Iya
ukhti, ayuk!” Ajakku begitu semangat. Rama tampak kaget melihat ekspresiku.
Sepertinya ia tahu bahwa aku tengah berusaha menghindarinya.
“Kok
cepet banget baliknya?” Rama melihat jam di pergelangan tangannya kemudian
melanjutkan kata-katanya, “Jam istirahat masih lama loh!” Ujarnya lagi.
Aku
berdehem panjang. Mencari alasan yang tepat tanpa harus berbohong, “Ada urusan
penting soalnya, duluan ya, Assalamu’alaikum,” pamitku kepadanya, ia tampak
gugup menjawab salamku.
***
“Itu
yang kamu ceritakan kemarin?” Tanya ukhti Kila ketika kami menyusuri koridor
menuju ruang kerja. Aku berdehem sambil mengangguk. Ukhti Kila tersenyum.
“Hati-hati
dengan hati ya!” Pesannya dengan senyum lembut. Aku balik tersenyum. Tidak. Tidak
akan mungkin lebih dari ini. Tegasku pada hati.
***
Semaki
lama, Rama semakin sering berkomunikasi denganku, baik itu komunikasi langsung
di tempat kerja maupun komunikasi melalui pesan singkat, beberapa kali ia
mencoba menelponku namun aku tak pernah mengangkat telponnya, pesannya yang
kurasa tidak begitu penting juga ku abaikan, hanya pesan-pesan seputar kerjaan
yang aku respon.
Dimataku,
Rama itu adalah laki-laki yang baik dan humoris. Dia begitu lucu. Namun, sayang,
sepertinya ia tak religius, karena ia tak pernah mengucapkan salam kepadaku. Ahhh,
mungkin saja dia memang laki-laki yang belum mendapatkan hidayah itu. Semoga
saja suatu saat ia mendapatkan hidayah dari salam-salam yang selalu ku ucapkan
kepadanya.
Ketika
tengah membaca sebuah buku agama di meja belajar kamarku, ponselku berdering,
kulihat ada satu pesan masuk,
From : Rama
Kalau rama jatuh cinta sama Zitta,
boleh tidak?
Mataku seketika melotot memandangi layar
ponselku. kualang sekali lagi membaca pesan itu, memastikan bahwa aku tak salah
baca.
Tubuhku
kaku. Aku terdiam. Aku masih memegangi ponselku, namun tak melakukan apapun. Ingin
mengetik sesuatu untuk membalas tapi tak tahu harus mengetik dari huruf apa dan
hendak menulis kata apa. Ku urungkan niatku kemudian beristighfar dalam hati. Ku
letakkan ponselku kembali ke atas meja dan aku mencoba mengalihkan kembali
pikiranku pada buku yang tengah ku baca. Namun, ahh, tidak bisa. pikiranku
masih memikirkan kata-kata itu. Ku pukul-pukul pelan keningku sebagai gerakan
meminta agar pikiran itu tak bermain dibenakku. Tapi tetap saja tidak bisa. Aku
beranjak dari bangku kemudian membaringkan tubuhku ke atas ranjang. Kupejamkan
mataku dan kututup wajahku dengan bantal. Aku berharap bayang-bayang tulisan
itu ikut larut dalam gelap. Tapi tidak, justru tulisan itu seperti bersinar
dengan jelas di depan mataku yang tengah terpejam. Aku bolak-balikkan badanku.
Gelisah.
Dalam
kegelisahan itu terdengar pintu kamarku diketuk dibarengi dengan suara wanita
yang tak asing, aku menyeru mempersilahkan pintu dibuka. Ku intip dari balik
bantal, tampak umiku berdiri diambang pintu membawa sebuah kotak kecil berwarna
coklat.
“Umi?
bawa apa?” Aku bangkit dari posisiku.
“Ini,
ada titipan dari tukang pos tadi siang, tapi umi baru ingat sekarang buat
ngasih ke kamu, kamu belanja online ya?” Aku mengingat-ingat kemudian
mengangguk.
“Iya,
mi, itu jam tangan. Makasih ya, mi” aku mengambil sodoran kotak coklat dari umi
kemudian langsung membukanya. Benar saja, isinya jam yang kupesan minggu lalu.
“Iya,
ya udah kalau gitu umi balik ke kamar dulu. Oya, kamu udah sholat isya, kan?”
“Udah
kok, mi,” umi tersenyum kemudian memutar balik langkahnya.
“Umi,”
kuhentikan langkah umi dengan sebuah panggilan. Ragu, tapi berusaha mengambil
keputusan.
“Zitta
boleh nanya sesuatu, mi?” Tanyaku pelan separuh takut.
“Tentu
boleh, sayang, asal jangan tanya tentang perhitungan akuntansi aja, umikan dulu
jurusan kebidanan, mana tahu yang begituan,” umi terkekeh. Aku ikut tertawa
ringan, kemudian mulai mengambil mimik serius.
Aku
berdehem. Menghela napas panjang. Masih dalam ragu aku bertanya, “Mi, kalau Zitta
jatuh cinta, dosa nggak?”
Umi
terdiam. Umi berjalan balik ke arahku kemudian duduk di tepi ranjang. “Zitta
jatuh cinta dengan siapa?” Tanya umi lembut.
“Dengan...”
jeda sebentar. Kemudian aku melanjutkan, “Rekan kerja dikantor, mi. Namanya,
Rama. dia baik, lucu,” terangku. Kulihat
garis wajah umi serius. “Dosa ya, mi?” Tanyaku lagi dengan nada takut.
Umi
tersenyum, “Siapa bilang jatuh cinta dosa, sayang? Jatuh cinta itu nggak dosa,
tapi apa yang kamu lakukan dengan cinta itulah yang dapat menjadikan cinta
bernilai dosa atau tidaknya.” Umi tersenyum semakin manis membuat aku menjadi
salah tingkah, “Kalau boleh tahu, mengapa kamu bisa jatuh cinta dengan laki-lai
itu?”
Aku
terdiam. Aku sendiri bahkan tak tahu mengapa aku bisa mengatakan kalau aku
jatuh cinta, tapi ukhti Kila bilang itu cinta. “Zitta, nggak tau, mi. Zitta
Cuma rasa kalau perasaan Zitta aneh kalau dekat dan ingat Rama. Itu saja, mi.”
“Rama
sendiri bagaimana?”
“Rama...”
aku menceritakan kepada umi tentang Rama dan pesan singkat yang dikirimkan Rama
beberapa saat lalu. Lagi, umi tersenyum.
“Kalau
begitu, sebaiknya kamu bilang kepada Rama, untuk menghalalkan cinta kalian.
Lagi pula, umur kamu juga udah 24, bukan? Suruhlah Rama datang kerumah menemui,
abi.” aku ternganga? Harus secepat itukah? Rasanya aku belum siap bila harus
secepat itu. Bahkan aku baru mengenal rama satu bulan ini? Tapi, bila
berlama-lama aku juga takut terjatuh dalam dosa.
Aku
hanya mengangguk dan memeluk umi. Meski hatiku masih berpikir-pikir untuk
mengatakan apa yang dipesankan umi tersebut.
***
Kila
masih memilih-milih buku yang hendak dipilihnya, disela-sela itu ia
berkata, “Zitta, kenapa ya, ana
perhatikan, Rama tak pernah terlihat sholat dimushola kantor?”
“Ana
juga heran, ukhti. Ana hendak bertanya namun takut Rama tersinggung, ana juga
rasa, ana belum punya hak untuk itu.”
“Paling tidak Zitta cobalah ingatkan Rama,
bukankah sesama muslim kita harus saling mengingatkan?” Aku tersentak. Benar
kata ukhti Kila, aku bahkan tak pernah bertanya kepada Rama seputar agama, tentang
mengapa ia tak pernah kelihatan di mushola, dan tak pernah juga menasehatinya
untuk memulai percakapan dengan salam. Mungkin mulai sekarang aku harus lakukan
itu. Aku melihat kesekitar, tak sengaja aku melihat Rama berada di toko buku
yang sama dengan kami. Tapi...aku tak percaya dengan apa yang kulihat, kulihat
rama tengah asyik memilih-milih buku di rak buku rohani umat kristiani. Jantungku
seakan berhenti kala itu. Pikiranku berkecamuk menduga-duga tentang Rama.
“Zitta??”
Sapa ukhti Kila memegang bahuku. Aku masih menatap Rama di sudut sana.
“Rama
muslimkan, Ta?” Tanya ukhti Kila. Aku terdiam. Bahkan aku sendiri tak tahu
pasti soal itu. Ahh, mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku tak mencari tahu
agamanya terlebih dahulu sebelum hatiku kubiarkan jatuh untuknya? Apa benar dia
seorang muslim? Atau dia adalah seorang kristiani? Aku tak ingin banyak
berprasangka. Kakiku langsung saja melangkah cepat menghampiri Rama.
“Rama...”
nadaku terdengar sayup. Rama melihatku. Kupandangi buku yang tengah berada
ditangannya, buku itu berjudul, Kasih Yesus.” Aku semakin tersentak.
“Zitta?”
“Kamu?”
“Ya,
bukankah kamu sudah tahu sejak awal?” Aku menggeleng. Jujur saja, aku tak penah
tahu kalau Rama adalah seorang non muslim, tanda-tanda itu tak terlihat. Terlebih
ia selalu menjawab salamku. Ia juga tak menunjukkan ciri-ciri umat kristiani. Wajahnyapun
tak tampak jelas menyatakan tentang agamanya itu.
Dadaku
seketika sesak. Rasanya ada yang sakit di bagian merah muda itu. Ada yang luka
namun tak ada yang berdarah. Ada harapan yang seketika hancur. Mengapa
kenyataan tak berpihak pada rasa? Mengapa Tuhan kita berbeda? Bukankah Tuhan
itu satu? Dan yang lebih menyakitkan, mengapa aku baru mengetahui ini semua
disaat hatiku telah benar-benar jatuh? Mengapa, Ya Allah?
Aku
melangkah mundur kemudian berlari meninggalkan toko buku tersebut. Meninggalkan
Rama dan juga ukhti Kila. Kubiarkan buku dalam genggaman tanganku terjatuh
begitu saja, seperti hatiku yang kubiarkan jatuh begitu saja hingga menjadi
hancur seperti saat sekarang ini. Terdengar Rama memanggilku untuk menahan
langkahku pergi. Namun aku tak acuhkan itu.
***
“Umi!”
Aku memeluk umi-ku erat begitu umi membukakan pintu rumah. Aku menyembunyikan
wajahku dalam dekapan umi. Aku merasa malu. Malu pada diriku sendiri. Mengapa
aku bisa begitu mudah menilai Rama adalah muslim dan menjatuhkan hatiku padanya
sedang aku tak pernah bertanya secara pasti, sedang aku tak pernah ingin tahu
lebih pasti. Seharusnya aku bertanya. Seharusnya aku tahu lebih cepat. Dan
seharusnya aku dapat lebih menjaga hati agar tak jadi begini.
“Kamu
kenapa, Zitta?”
“Rama,
mi...Rama,”
“Ada
apa dengan Rama, sayang?”
“Rama,
bukanlah seorang muslim, mi,” umi langsung melepas pelukannya. Ia memandangku.
Menatapku lekat seolah meminta penegasan akan kalimat yang baru saja kuucapkan.
“Astaghfirullah,
bagaimana bisa kamu baru mengetahui ini semua, nak?”
“Zitta
yang bodoh, mi,” tangisku makin berderai. Ku masukkan kembali kepalaku dalam
dekapan umi.
“Mi,
apa Zitta masih boleh bersanding dengan Rama meski kami berbeda?” Pertanyaan
bodoh. Aku bahkan tahu jawabannya. Tapi jujur aku mengharapkan jawaban lain. Namun
tak ada jawaban lain, selain, “Tidak
boleh atau boleh asal Rama menjadi mualaf,” dan aku tak mungkin memaksa Rama
menjadi mualaf. Jadi intinya, TIDAK BOLEH. HARAM.
Umi
menggeleng. Ia hanya mempererat pelukannya. “Allah punya rencana indah, sayang.
Bila bukan Rama. pasti ada yang lebih baik dari itu.”
“Tapi,
mi...” perkataanku terhenti, aku justru melanjutkannya dalam hati. Hanya Rama yang Zitta mau.
***
Malam
itu, badanku terasa begitu lemas. Tak ada aktifitas yang ingin kukerjakan. Aku
hanya berbaring di atas ranjang usai sholat Isya. Tak lama muncul pesan singkat
dari ukhti Kila.
From : Ukhti Kila
Zitta, ada kalanya rasa hadir bukan
untuk diabadikan, namun disingkirkan karena dia hanyalah ujian. Seperti rasa
Zitta saat ini. Ana yakin, Zitta mampu. Lagi pula Zitta baru dekat dengannya
satu bulan ini, bukan?
Aku menelan ludah. Aku membenci kata-kata ukhti
Kila malam ini. Kata-kata itu memang begitu mudah terangkai, namun sadarkah? Tak
semudah itu menyingkirkan rasa? Dan mengapa Allah harus beri rasa bila akhirnya
harus disingkirkan? Mengapa Allah beri cinta yang diharamkan-Nya? Mengapa?
Belum
sempat aku membalas pesan singkat dari ukhti Kila, masuk pesan singkat
berikutnya.
From : Rama
Dulu aku selalu berfikir, mengapa
orang-orang harus menjalin hubungan terlarang beda keyakinan itu. Aku sering
bertanya mengapa mereka membiarkan rasa mereka jatuh? Mengapa mereka tak
berusaha menghindar atau memusnahkan rasa itu. Dan dari semua pertanyaan itu,
aku selalu mendapatkan jawaban klise. Klise dimataku, tepatnya. Namun, sejak
mengenalmu, alasan klise itu tak lagi klise, bahkan tampak jelas dan nyata.
Yaitu, Mereka tak pernah memutuskan untuk jatuh cinta pada seseorang yang tak
sama dengan mereka, cinta itu jatuh sendiri, rasa itu tumbuh sendiri, bersemayam
dan menetap sendiri. Bahkan sulit untuk disingkirkan meski sudah diusahakan. Seperti
apa yang terjadi padaku saat ini. Bahkan saat jelas dimataku kita berbeda,
cinta itu tetap memilihmu dengan harapan perbedaan itu dapat dapat kita lumatkan.
Bukankah Tuhan satu? Lalu mengapa kita tak sama? Mengapa kita berbeda?
Aku
terdiam membaca pesan panjang dari Rama. Itu pesan terpanjang yang pernah
dikirimnya. Dan aku memutuskan untuk mengabaikan pesan panjang itu.
Aku
memilih membalas pesan singkat dari kila, “Ukhti, mengapa Allah harus buat aku
mencintai Rama? Mengapa Allah harus menghadirkan Rama dalam hidupku?”
Tak
lama, ponselku berdering, tertera ‘Rama Calling’ dilayar ponsel. Aku tak mengangkatnya.
Hanya membiarkannya. Berulangkali berdering. Hingga tertera tulisan 15
panggilan tak terjawab. Kemudian masuk satu pesan masuk, ternyata dari ukhti Kila.
“Karena
Allah, ingin melihat seberapa cinta kamu pada-Nya. Apakah kamu akan memilih makhluk
ciptaannya atau sang pencipta makhluk tersebut.” Aku terhenyak. Pilihan macam
apa itu? Jelas aku tak mungkin tak memilih Tuhanku, namun bagaimana bisa aku...
Ya Rabb, tak semudah itu menghapus rasa, keluhku.
***
Siang
itu, tak sengaja kami berselisih langkah. Mataku bertemu pandang dengan Rama beberapa
detik. Kulihat ia tersenyum seperti biasanya. Aku hanya mengalihkan
pandanganku. Menunduk tanpa tersenyum dan berlalu begitu saja. Aku tak tahu apakah
setelahnya Rama menoleh kearahu begitu aku berlalu atau tidak, karena aku
enggan menoleh balik kearahnya. Aku hanya berjalan maju menutupi rasa yang
berkecamuk dalam dada.
Ketika
di kantin, Rama menyapaku, ia menghampiri meja makanku, namun dengan segera aku
pamit kepadanya dan (lagi) meninggalkannya begitu saja.
Semua
itu telah berlangsung beberapa hari ini. Beberapa hari setelah aku tahu, aku
dan Rama berbeda. Jujur, ada yang sakit. Ada yang meronta. Ada yang tak terima.
Disini. Dihati bagian merah muda bernamakan hati.
Tiga
hari berlalu, hingga kemudian suatu malam aku mendapatkan sebuah voice note yang dikirimkan Rama melalui
akun jejaring social. kubuka voice note tersebut dan kudengar isinya.
Ternyata isinya adalah suara Rama yang tengah menyanyikan sebuah lagu.
Liriknya, begini,
Tuhan memang satu...
Kita yang tak sama...
Haruskah aku, lantas pergi, meski
cinta...
Takkan bisa pergi...
Aku
kenal lirik lagu tersebut, lagu yang dinyanyikan Marcell berjudul Peri cinta.
Aku terdiam beberapa saat. Aku sadari satu hal. Aku tak boleh seperti ini
terus. Aku tak bisa begini terus.
Kubuka
kotak pesan, kemudian aku mulai menuliskan pesan untuk Rama,
To : Rama
Tuhan memang satu, namun kita tetap
saja tak sama. Tapi kamu tenang saja, tak ada tulang rusuk yang salah rangka.
Ia hanya akan terpasang pas, pada rangka miliknya. Mungkin untuk saat ini sebaiknya
kita saling memperbaiki diri. Biarkan waktu menjawab akhir tentang kisah ini.
Selang
beberapa menit, aku mendapatkan balasan dari Rama,
From : Rama
Itu artinya, kita masih bisa
bersama?
Aku
tak tahu harus membalas dengan kata-kata apa. Aku hanya terdiam menatap layar
ponselku.