RSS

Luka di Merah Muda


Aku berdiri diam memperhatikan sekitar sambil memegang nampan berisikan semangkok mie ayam dan segelas teh es, kulihat kantin kantorku yang hanya menyediakan 8 meja makan dengan 4 kursi di masing-masing meja. Kecil, memang, dan siang ini semua meja sudah terisi penuh.
“Ntar mie ayamnya dingin loh didiemin aja,” aku terlonjak kaget mendengar suara tersebut. Kucari asal suara yang ternyata bersal dari arah sebelah kananku. Laki-laki berambut cepak dengan kulit sawo matang itu tersenyum tengil. Laki-laki itu juga tengah memegang nampan. Nampannya berisi bakso dan segelas jus jeruk. Aku melihatnya dengan bingung. Sepertinya ini kali pertama aku melihatnya. Sebelumnya tidak pernah.
“Itu, mejanya kosong. Duduk disana yok!” Ajaknya. Aku masih bingung. Mengapa laki-laki ini sok kenal dan sok dekat sekali? Padahal aku sama sekali tak mengenalinya.
“Udah, jangan kelamaan mikir. Ntar jam istirahatnya habis loh!” Ia memulai langkah maju, dan berjalan menuju meja yang ia maksud. Meja itu beberapa menit lalu diisi. Hanya saja tiba-tiba kosong begitu aku tersadar dari lamunanku. Aku hanya mengikutinya dengan gugup.
Kami duduk berhadapan. Sebelum menyantap mie ayam tersebut, aku menengadahkan tangan terlebih dahulu untuk berdo’a, sekilas aku melihat ke arahnya dan ia justru tengah menatapku. Mataku gugup begitu mengetahui dia tengah menatapku. Aku menundukkan pandanganku dan memulai do’a. Kemudian mulai menyantap mie ayamku.
“Nama kamu siapa?”
Aku melihat kearahnya sekilas, kemudian menunduk dan menjawab, “Zitta.”
“Nama yang imut! Kamu bagian akuntan ya?” Ha? apa wajahku terlihat seperti rumus-rumus keuangan hingga ia dapat menebak seperti itu? Aku mengangguk sembari meneguk segelas teh es.
Ia berdehem, kemudian kembali bertanya, “Kok kamu nggak nanya aku? Kamu udah kenal aku? Atau nggak mau kenal sama aku? Atau...” Ahh, laki-laki ini...dia laki-laki cerewet pertama yang pernah kutemui, oh bahkan dia laki-laki pertama yang makan semaja denganku. Hanya berdua saja. Ya, aku tak pernah makan dengan lelaki hanya berdua dalam satu meja, kecuali dengan abi atau laki-laki yang masih ada hubungan keluarga denganku. Aku memang menjaga jarak dengan laki-laki, bukan karena trauma atau sebagainya, hanya saja, aku ingin menghindari zina dan menjaga hati. Adapun lelaki yang dekat denganku hanya sekedar teman satu departemen kerja dan beberapa orang yang memang satu kompleks perumahan denganku. Sementara untuk teman perempuan sendiri, aku punya banyak di kantor. Tapi untuk sahabat, hanya satu orang, aku biasa memanggilnya ‘Ukhti Kila’ dia atasanku, biasanya aku makan di kantin berdua dengannya. Tapi untuk hari ini, ia tak masuk kerja karena sakit.
“Hei! Kok malah ngelamun? Hobby ngelamun ya?” Tanya laki-laki itu lagi. Aku tersenyum kecil, “Maaf, nggak kok,” jawabku sekenanya.
“Aku Rama Aryando, aku Supervisor baru pindahan dari kantor pusat, baru pindah kemarin. Panggil aja Rama,” aku tersedak. Ia langsung menyodorkan minum, aku mengambil air minum yang disodorkannya dengan spontan dan meneguknya. Setelah itu aku baru sadar kalau minum yang diberinya adalah jus jeruk miliknya. Astaghfirullah, berarti aku dan dia sudah...ahh tidak-tidak!
“Makasih,” ujarku. Sejujurnya, tadi aku tersedak karena mendengar perkenalan darinya, ia memperkenalkan dirinya tanpa ku tanya. Ia lucu sekali.
Kulirik jam tanganku menunjukkan pukul 14.00 wib pertanda jam istirahat dikantorku sudah habis. Jam istirahat siang ini entah mengapa terasa begitu singkat. Aku yang kebetulan memang sudah menghabiskan makananku, sejenak meneguk teh es ku hingga tak tersisa. Sementara Rama tampak terburu-buru menghabiskan baksonya. Aku menggeser bangguku kemudian berdiri. Aku pamit kepadanya dan berlalu pergi meninggalkannya yang masih terburu-buru menghabiskan makanannya.
***
Jam istirahat siang ini kembali seperti jam istirahat biasanya, aku makan siang bersama ukhti Kila di kantin. Ketika kami tengah asyik makan, Rama datang menghampiri kami.
“Permisi, boleh gabung?” Aku dan ukhti Kila menatap Rama bingung, kemudian kami saling pandang. Aku mengerti arti mata ukhti Kila, dia seolah tengah bertanya, ‘Apa kamu kenal laki-laki ini?’ dan aku hanya membuka mulut gugup tanpa suara. Kemudian menutup mulutku kembali. Tanpa jawaban dari kami, Rama kemudian duduk di samping kananku. Entah mengapa, jantungku seolah mau copot, debarannya begitu kencang. aliran nadiku begitu panas, sepertinya darah pada nadi mengalir dengan kecepatan cahaya. Aku melepas sendok dan garpu yang sebelumnya kupegang. rasanya tanganku menggigil. Kulihat kembali Rama. posisi duduknya begitu dekat denganku, bahkan aku bisa melihat dengan jelas bagaimana garis wajahnya. Aku menundukkan mataku, menahan pandanganku. dan bergeser sedikit menjaga jarak. Rama melihatku, ia sepertinya sadar bahwa aku tengah menjaga jarak darinya, tapi semoga saja ia tak menyadari detak jantungku yang bergitu kencang. Aku menelan ludah, melihat kearah ukhti Kila, memberi isyarat agar kami segera meninggalkan tempat tersebut.
“Hai, aku Rama, temannya Zitta,” Rama tersenyum ramah ke arah ukhti Kila, aku hanya memasang mimik bingung. Sejak kapan Rama menjadi temanku? Apakah perkenalan singkat kemarin membuat kami menjadi teman?
Kulihat ukhti Kila tersenyum ramah. Ukhti Kila memang wanita hebat. Ia pandai bersikap sebagaimana yang seharusnya. “Zitta, kita masih ada yang harus diselesaikan di kantor, kan? Balik sekarang, yuk!” Ajaknya. Ahh, ukhti Kila! Ia memang hebat. Tahu saja apa yang tengah aku inginkan saat ini.
“Iya ukhti, ayuk!” Ajakku begitu semangat. Rama tampak kaget melihat ekspresiku. Sepertinya ia tahu bahwa aku tengah berusaha menghindarinya.
“Kok cepet banget baliknya?” Rama melihat jam di pergelangan tangannya kemudian melanjutkan kata-katanya, “Jam istirahat masih lama loh!” Ujarnya lagi.
Aku berdehem panjang. Mencari alasan yang tepat tanpa harus berbohong, “Ada urusan penting soalnya, duluan ya, Assalamu’alaikum,” pamitku kepadanya, ia tampak gugup menjawab salamku.
***
“Itu yang kamu ceritakan kemarin?” Tanya ukhti Kila ketika kami menyusuri koridor menuju ruang kerja. Aku berdehem sambil mengangguk. Ukhti Kila tersenyum.
“Hati-hati dengan hati ya!” Pesannya dengan senyum lembut. Aku balik tersenyum. Tidak. Tidak akan mungkin lebih dari ini. Tegasku pada hati.
***
Semaki lama, Rama semakin sering berkomunikasi denganku, baik itu komunikasi langsung di tempat kerja maupun komunikasi melalui pesan singkat, beberapa kali ia mencoba menelponku namun aku tak pernah mengangkat telponnya, pesannya yang kurasa tidak begitu penting juga ku abaikan, hanya pesan-pesan seputar kerjaan yang aku respon.
Dimataku, Rama itu adalah laki-laki yang baik dan humoris. Dia begitu lucu. Namun, sayang, sepertinya ia tak religius, karena ia tak pernah mengucapkan salam kepadaku. Ahhh, mungkin saja dia memang laki-laki yang belum mendapatkan hidayah itu. Semoga saja suatu saat ia mendapatkan hidayah dari salam-salam yang selalu ku ucapkan kepadanya.
Ketika tengah membaca sebuah buku agama di meja belajar kamarku, ponselku berdering, kulihat ada satu pesan masuk,
From : Rama
Kalau rama jatuh cinta sama Zitta, boleh tidak?
 Mataku seketika melotot memandangi layar ponselku. kualang sekali lagi membaca pesan itu, memastikan bahwa aku tak salah baca.
Tubuhku kaku. Aku terdiam. Aku masih memegangi ponselku, namun tak melakukan apapun. Ingin mengetik sesuatu untuk membalas tapi tak tahu harus mengetik dari huruf apa dan hendak menulis kata apa. Ku urungkan niatku kemudian beristighfar dalam hati. Ku letakkan ponselku kembali ke atas meja dan aku mencoba mengalihkan kembali pikiranku pada buku yang tengah ku baca. Namun, ahh, tidak bisa. pikiranku masih memikirkan kata-kata itu. Ku pukul-pukul pelan keningku sebagai gerakan meminta agar pikiran itu tak bermain dibenakku. Tapi tetap saja tidak bisa. Aku beranjak dari bangku kemudian membaringkan tubuhku ke atas ranjang. Kupejamkan mataku dan kututup wajahku dengan bantal. Aku berharap bayang-bayang tulisan itu ikut larut dalam gelap. Tapi tidak, justru tulisan itu seperti bersinar dengan jelas di depan mataku yang tengah terpejam. Aku bolak-balikkan badanku. Gelisah.
Dalam kegelisahan itu terdengar pintu kamarku diketuk dibarengi dengan suara wanita yang tak asing, aku menyeru mempersilahkan pintu dibuka. Ku intip dari balik bantal, tampak umiku berdiri diambang pintu membawa sebuah kotak kecil berwarna coklat.
“Umi? bawa apa?” Aku bangkit dari posisiku.
“Ini, ada titipan dari tukang pos tadi siang, tapi umi baru ingat sekarang buat ngasih ke kamu, kamu belanja online ya?” Aku mengingat-ingat kemudian mengangguk.
“Iya, mi, itu jam tangan. Makasih ya, mi” aku mengambil sodoran kotak coklat dari umi kemudian langsung membukanya. Benar saja, isinya jam yang kupesan minggu lalu.
“Iya, ya udah kalau gitu umi balik ke kamar dulu. Oya, kamu udah sholat isya, kan?”
“Udah kok, mi,” umi tersenyum kemudian memutar balik langkahnya.
“Umi,” kuhentikan langkah umi dengan sebuah panggilan. Ragu, tapi berusaha mengambil keputusan.
“Zitta boleh nanya sesuatu, mi?” Tanyaku pelan separuh takut.
“Tentu boleh, sayang, asal jangan tanya tentang perhitungan akuntansi aja, umikan dulu jurusan kebidanan, mana tahu yang begituan,” umi terkekeh. Aku ikut tertawa ringan, kemudian mulai mengambil mimik serius.
Aku berdehem. Menghela napas panjang. Masih dalam ragu aku bertanya, “Mi, kalau Zitta jatuh cinta, dosa nggak?”
Umi terdiam. Umi berjalan balik ke arahku kemudian duduk di tepi ranjang. “Zitta jatuh cinta dengan siapa?” Tanya umi lembut.
“Dengan...” jeda sebentar. Kemudian aku melanjutkan, “Rekan kerja dikantor, mi. Namanya, Rama. dia baik, lucu,” terangku.  Kulihat garis wajah umi serius. “Dosa ya, mi?” Tanyaku lagi dengan nada takut.
Umi tersenyum, “Siapa bilang jatuh cinta dosa, sayang? Jatuh cinta itu nggak dosa, tapi apa yang kamu lakukan dengan cinta itulah yang dapat menjadikan cinta bernilai dosa atau tidaknya.” Umi tersenyum semakin manis membuat aku menjadi salah tingkah, “Kalau boleh tahu, mengapa kamu bisa jatuh cinta dengan laki-lai itu?”
Aku terdiam. Aku sendiri bahkan tak tahu mengapa aku bisa mengatakan kalau aku jatuh cinta, tapi ukhti Kila bilang itu cinta. “Zitta, nggak tau, mi. Zitta Cuma rasa kalau perasaan Zitta aneh kalau dekat dan ingat  Rama. Itu saja, mi.”
“Rama sendiri bagaimana?”
“Rama...” aku menceritakan kepada umi tentang Rama dan pesan singkat yang dikirimkan Rama beberapa saat lalu. Lagi, umi tersenyum.
“Kalau begitu, sebaiknya kamu bilang kepada Rama, untuk menghalalkan cinta kalian. Lagi pula, umur kamu juga udah 24, bukan? Suruhlah Rama datang kerumah menemui, abi.” aku ternganga? Harus secepat itukah? Rasanya aku belum siap bila harus secepat itu. Bahkan aku baru mengenal rama satu bulan ini? Tapi, bila berlama-lama aku juga takut terjatuh dalam dosa.
Aku hanya mengangguk dan memeluk umi. Meski hatiku masih berpikir-pikir untuk mengatakan apa yang dipesankan umi tersebut.
***
Kila masih memilih-milih buku yang hendak dipilihnya, disela-sela itu ia berkata,  “Zitta, kenapa ya, ana perhatikan, Rama tak pernah terlihat sholat dimushola kantor?”
“Ana juga heran, ukhti. Ana hendak bertanya namun takut Rama tersinggung, ana juga rasa, ana belum punya hak untuk itu.”
 “Paling tidak Zitta cobalah ingatkan Rama, bukankah sesama muslim kita harus saling mengingatkan?” Aku tersentak. Benar kata ukhti Kila, aku bahkan tak pernah bertanya kepada Rama seputar agama, tentang mengapa ia tak pernah kelihatan di mushola, dan tak pernah juga menasehatinya untuk memulai percakapan dengan salam. Mungkin mulai sekarang aku harus lakukan itu. Aku melihat kesekitar, tak sengaja aku melihat Rama berada di toko buku yang sama dengan kami. Tapi...aku tak percaya dengan apa yang kulihat, kulihat rama tengah asyik memilih-milih buku di rak buku rohani umat kristiani. Jantungku seakan berhenti kala itu. Pikiranku berkecamuk menduga-duga tentang Rama.
“Zitta??” Sapa ukhti Kila memegang bahuku. Aku masih menatap Rama di sudut sana.
“Rama muslimkan, Ta?” Tanya ukhti Kila. Aku terdiam. Bahkan aku sendiri tak tahu pasti soal itu. Ahh, mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku tak mencari tahu agamanya terlebih dahulu sebelum hatiku kubiarkan jatuh untuknya? Apa benar dia seorang muslim? Atau dia adalah seorang kristiani? Aku tak ingin banyak berprasangka. Kakiku langsung saja melangkah cepat menghampiri Rama.
“Rama...” nadaku terdengar sayup. Rama melihatku. Kupandangi buku yang tengah berada ditangannya, buku itu berjudul, Kasih Yesus.” Aku semakin tersentak.
“Zitta?”
“Kamu?”
“Ya, bukankah kamu sudah tahu sejak awal?” Aku menggeleng. Jujur saja, aku tak penah tahu kalau Rama adalah seorang non muslim, tanda-tanda itu tak terlihat. Terlebih ia selalu menjawab salamku. Ia juga tak menunjukkan ciri-ciri umat kristiani. Wajahnyapun tak tampak jelas menyatakan tentang agamanya itu.
Dadaku seketika sesak. Rasanya ada yang sakit di bagian merah muda itu. Ada yang luka namun tak ada yang berdarah. Ada harapan yang seketika hancur. Mengapa kenyataan tak berpihak pada rasa? Mengapa Tuhan kita berbeda? Bukankah Tuhan itu satu? Dan yang lebih menyakitkan, mengapa aku baru mengetahui ini semua disaat hatiku telah benar-benar jatuh? Mengapa, Ya Allah?
Aku melangkah mundur kemudian berlari meninggalkan toko buku tersebut. Meninggalkan Rama dan juga ukhti Kila. Kubiarkan buku dalam genggaman tanganku terjatuh begitu saja, seperti hatiku yang kubiarkan jatuh begitu saja hingga menjadi hancur seperti saat sekarang ini. Terdengar Rama memanggilku untuk menahan langkahku pergi. Namun aku tak acuhkan itu.
***
“Umi!” Aku memeluk umi-ku erat begitu umi membukakan pintu rumah. Aku menyembunyikan wajahku dalam dekapan umi. Aku merasa malu. Malu pada diriku sendiri. Mengapa aku bisa begitu mudah menilai Rama adalah muslim dan menjatuhkan hatiku padanya sedang aku tak pernah bertanya secara pasti, sedang aku tak pernah ingin tahu lebih pasti. Seharusnya aku bertanya. Seharusnya aku tahu lebih cepat. Dan seharusnya aku dapat lebih menjaga hati agar tak jadi begini.
“Kamu kenapa, Zitta?”
“Rama, mi...Rama,”
“Ada apa dengan Rama, sayang?”
“Rama, bukanlah seorang muslim, mi,” umi langsung melepas pelukannya. Ia memandangku. Menatapku lekat seolah meminta penegasan akan kalimat yang baru saja kuucapkan.
“Astaghfirullah, bagaimana bisa kamu baru mengetahui ini semua, nak?”
“Zitta yang bodoh, mi,” tangisku makin berderai. Ku masukkan kembali kepalaku dalam dekapan umi.
“Mi, apa Zitta masih boleh bersanding dengan Rama meski kami berbeda?” Pertanyaan bodoh. Aku bahkan tahu jawabannya. Tapi jujur aku mengharapkan jawaban lain. Namun tak ada jawaban lain, selain, “Tidak boleh atau boleh asal Rama menjadi mualaf,” dan aku tak mungkin memaksa Rama menjadi mualaf. Jadi intinya, TIDAK BOLEH. HARAM.
Umi menggeleng. Ia hanya mempererat pelukannya. “Allah punya rencana indah, sayang. Bila bukan Rama. pasti ada yang lebih baik dari itu.”
“Tapi, mi...” perkataanku terhenti, aku justru melanjutkannya dalam hati. Hanya Rama yang Zitta mau.
***
Malam itu, badanku terasa begitu lemas. Tak ada aktifitas yang ingin kukerjakan. Aku hanya berbaring di atas ranjang usai sholat Isya. Tak lama muncul pesan singkat dari ukhti Kila.
From : Ukhti Kila
Zitta, ada kalanya rasa hadir bukan untuk diabadikan, namun disingkirkan karena dia hanyalah ujian. Seperti rasa Zitta saat ini. Ana yakin, Zitta mampu. Lagi pula Zitta baru dekat dengannya satu bulan ini, bukan?
 Aku menelan ludah. Aku membenci kata-kata ukhti Kila malam ini. Kata-kata itu memang begitu mudah terangkai, namun sadarkah? Tak semudah itu menyingkirkan rasa? Dan mengapa Allah harus beri rasa bila akhirnya harus disingkirkan? Mengapa Allah beri cinta yang diharamkan-Nya? Mengapa?
Belum sempat aku membalas pesan singkat dari ukhti Kila, masuk pesan singkat berikutnya.
From : Rama
Dulu aku selalu berfikir, mengapa orang-orang harus menjalin hubungan terlarang beda keyakinan itu. Aku sering bertanya mengapa mereka membiarkan rasa mereka jatuh? Mengapa mereka tak berusaha menghindar atau memusnahkan rasa itu. Dan dari semua pertanyaan itu, aku selalu mendapatkan jawaban klise. Klise dimataku, tepatnya. Namun, sejak mengenalmu, alasan klise itu tak lagi klise, bahkan tampak jelas dan nyata. Yaitu, Mereka tak pernah memutuskan untuk jatuh cinta pada seseorang yang tak sama dengan mereka, cinta itu jatuh sendiri, rasa itu tumbuh sendiri, bersemayam dan menetap sendiri. Bahkan sulit untuk disingkirkan meski sudah diusahakan. Seperti apa yang terjadi padaku saat ini. Bahkan saat jelas dimataku kita berbeda, cinta itu tetap memilihmu dengan harapan perbedaan itu dapat dapat kita lumatkan. Bukankah Tuhan satu? Lalu mengapa kita tak sama? Mengapa kita berbeda?
Aku terdiam membaca pesan panjang dari Rama. Itu pesan terpanjang yang pernah dikirimnya. Dan aku memutuskan untuk mengabaikan pesan panjang itu.
Aku memilih membalas pesan singkat dari kila, “Ukhti, mengapa Allah harus buat aku mencintai Rama? Mengapa Allah harus menghadirkan Rama dalam hidupku?”
Tak lama, ponselku berdering, tertera ‘Rama Calling’ dilayar ponsel. Aku tak mengangkatnya. Hanya membiarkannya. Berulangkali berdering. Hingga tertera tulisan 15 panggilan tak terjawab. Kemudian masuk satu pesan masuk, ternyata dari ukhti Kila.
“Karena Allah, ingin melihat seberapa cinta kamu pada-Nya. Apakah kamu akan memilih makhluk ciptaannya atau sang pencipta makhluk tersebut.” Aku terhenyak. Pilihan macam apa itu? Jelas aku tak mungkin tak memilih Tuhanku, namun bagaimana bisa aku... Ya Rabb, tak semudah itu menghapus rasa, keluhku.
***
Siang itu, tak sengaja kami berselisih langkah. Mataku bertemu pandang dengan Rama beberapa detik. Kulihat ia tersenyum seperti biasanya. Aku hanya mengalihkan pandanganku. Menunduk tanpa tersenyum dan berlalu begitu saja. Aku tak tahu apakah setelahnya Rama menoleh kearahu begitu aku berlalu atau tidak, karena aku enggan menoleh balik kearahnya. Aku hanya berjalan maju menutupi rasa yang berkecamuk dalam dada.
Ketika di kantin, Rama menyapaku, ia menghampiri meja makanku, namun dengan segera aku pamit kepadanya dan (lagi) meninggalkannya begitu saja.
Semua itu telah berlangsung beberapa hari ini. Beberapa hari setelah aku tahu, aku dan Rama berbeda. Jujur, ada yang sakit. Ada yang meronta. Ada yang tak terima. Disini. Dihati bagian merah muda bernamakan hati.
Tiga hari berlalu, hingga kemudian suatu malam aku mendapatkan sebuah voice note yang dikirimkan Rama melalui akun jejaring social. kubuka voice note tersebut dan kudengar isinya. Ternyata isinya adalah suara Rama yang tengah menyanyikan sebuah lagu. Liriknya, begini,
Tuhan memang satu...
Kita yang tak sama...
Haruskah aku, lantas pergi, meski cinta...
Takkan bisa pergi...
Aku kenal lirik lagu tersebut, lagu yang dinyanyikan Marcell berjudul Peri cinta. Aku terdiam beberapa saat. Aku sadari satu hal. Aku tak boleh seperti ini terus. Aku tak bisa begini terus.
Kubuka kotak pesan, kemudian aku mulai menuliskan pesan untuk Rama,  
To : Rama
Tuhan memang satu, namun kita tetap saja tak sama. Tapi kamu tenang saja, tak ada tulang rusuk yang salah rangka. Ia hanya akan terpasang pas, pada rangka miliknya. Mungkin untuk saat ini sebaiknya kita saling memperbaiki diri. Biarkan waktu menjawab akhir tentang kisah ini.
Selang beberapa menit, aku mendapatkan balasan dari Rama,
From : Rama
Itu artinya, kita masih bisa bersama?
Aku tak tahu harus membalas dengan kata-kata apa. Aku hanya terdiam menatap layar ponselku.

Keep Writing and Keep Posting!

Weeeew -___- dua hari belakangan ini aku nggak bisa hadir untuk ngepost nih, temen-teman. Hal ini disebabkan dua hari belakangan ini tiap malamnya (waktu-waktu mau megang laptop buat nulis) ehh datang hujan bawa temen-temennya yang nyeremin banget. Kalian tahu kan siapa aja temen-temen hujan yang nyeremen itu? Yups si petir dan si kilat. Huuu... seram.
Oh ya, dipostingan kali ini aku juga mau mengganti mottoku nih, sebenarnya sempat dilema banget nih mikirinnya, pengen banget bisa one day one post, tapi setelah dicoba menjalaninya, ternyata rasanya kaya lagi dikejar-kejar srigala yang nggak ada ganteng-gantengnya trus tiba-tiba ketemu vampire yang nggak ada taringnya...haha kelagapan sendiri gitu, dibilang nggak ada waktu buat nulis, itu muna banget ya, karena sebenarnya tiap kita bilang nggak ada waktu, waktu itu selalu ada, tapi kitanya aja yang males, bener ngga? #peace Hmm, sejujurnya  selalu ada waktu untuk menulis, tapi waktu untuk menulis yang layak di posting gitu rasanya ngga cukup, karena kadang quality time yang aku punya buat nulis itu paling banter cuma sejam setengahan, dari 24 jam meski kadang juga ada lebih banyak dari itu (jarang banget). Kok segitunya? iya, segitunya, karena banyak hal yang begitu menyibukkan  -__-“  (Bukan sok sibuk loh ya) Hmm, mungkin kalo dikalkulasikan waktu senggang disela-sela kesibukan itu sekita 4-6 jam,  tapi sering ngga kerasa karena termakan oleh penatnya aktifitas. So kesimpulannya, one day one post diganti dulu menjadi one week, minimal one post... hehe karena yang terpenting dari motto itu adalah bagaimana budaya menulis tidak hilang. Karena aku tak ingin kehilangan dunia tulisku dan merasa asing pada duniaku sendiri. So keep writing and keep posting!! Keep reading juga, guys! J

Hujan di Ujung Harapan


Sudah siang. Matahari sudah di atas kepala. Panas matahari terasa dari tempat aku berdiri, di lantai paling atas gedung kuliahku, lantai tanpa atap. Tapi entah mengapa rasanya aku kebal dengan panas itu, karena sekitarku tak terlihat seperti siang, melainkan seperti suasana pagi dipenuhi embun. Aku menatap jauh. Kurasa pandanganku cukup jauh, tapi mengapa hanya yang dekat yang terlihat? Mengapa di ujung sana semuanya berubah menjadi putih? Kutarik napas panjang. Aku terbatuk.
“Kemarin kudengar berita Pekanbaru sudah tak layak huni,” suara seseorang muncul seketika beradu dengan suara tapak langkahnya mendekatiku. Aku menoleh, lelaki dengan tinggi 167cm itu berdiri disampingku.
Aku berdehem dalam tatapan terus ke depan tanpa menoleh ke arahnya. Ia tak bersuara beberapa saat, kemudian ia bertanya, “Kamu bahagia?” Aku terhenyak, apa maksud pertanyaannya? Mengapa ia bisa bertanya seperti itu? Bukankah itu pertanyaan bodoh? Siapa orang yang bahagia bila tempat tinggalnya dikatakan tak layak huni? Apa ini karena...
“Bahagia? Karena kuliah diliburkan hingga cuaca membaik?” Tebakku berpikir. Beberapa jam yang lalu Rektor Universitas memang sudah mengeluarkan woro-woro bahwasannya kuliah diliburkan selama satu minggu hingga cuaca membaik.
Ia menyengir. Sedikit tergelak lalu berkata, “Bukan. Ini tentang kata-kata saat pertama kali kita bertemu,” ha? Apa maksud laki-laki ini? Kata-kata saat pertama kali aku bertemu dengannya? Kata-kata apa yang kuucapkan? Bukankah aku bertemu dengannya pertama kali setengah tahun yang lalu? Saat kami terjebak hujan di gedung kuliah
“Kamu lupa?” Tanyanya lagi. Aku berpikir sejenak.
***
Tubuhku bersandar lemas pada tembok. Kaki ku lunglai, tapi enggan terduduk lemas. Aku menatap murka tiap rintik yang mengotori bumi itu. Tapi sepertinya tatapan murka itu justru terlihat sebagai tatapan penuh penderitaan akibat sebuah kezaliman. Sudah berulang kali aku melirik jam dipergelangan tanganku, tapi hujan tak kunjung reda.
“Belum pulang?” Suara berat itu terdengar, sepertinya itu suara untukku. Aku menoleh, kulihat bang... ah aku lupa namanya, yang pasti dia bukanlah senior yang satu jurusan denganku.
“Heh! Kok ngelamun lagi?” Suara kembali terdengar, membuyarkan semua pikiran yang memenuhi benakku. Aku tergagap, kemudian menjawab dengan nada datar, “Hujan.”
Ia justru tertawa mendengar jawabanku. Apa ada yang lucu dari sebuah jawaban hujan dengan nada datar?
“Mau ditunggu sampai kapan?” Jeda sejenak, tanpa menunggu jawabanku ia kembali berkata, “Hujan kaya gini biasanya awet,” aku menoleh menatapnya. “Jadi?”
Ia kembali tertawa. Oh tidak, aku bukan badut, bukan? Mengapa ia selalu tertawa? Apa ia sudah terlalu stress dengan kuliahnya hingga hal-hal yang tak lucu menjadi lucu?
“Ya pulanglah, hujan-hujanan.”
Aku terdiam. Ada hal yang selalu tak ingin kusampaikan, hal yang menjadi alasan terbesarku membenci hujan. “Kenapa? Kita nggak garamkan? Jadi kenapa harus takut hujan?”
Aku terdiam. Haruskah aku memberitahukan hal rahasia itu kepada laki-laki yang baru kukenal ini? Tapi... aku sudah terlampau bosan melihat ekspresinya yang akan sama dengan orang-orang sebelumnya. Aku berpikir ulang, bilapun aku tak menyampaikannya sekarang, toh kemudian hari pasti akan terungkap juga, seperti dulu sewaktu SMA.
“Saya sensitive dengan hujan, bang. Bila terkena hujan bisa langsung demam,” jawabku jujur. Ia tertawa, kali ini terbahak-bahak. Ia bahkan sulit menghentikan tawanya untuk melontarkan sebuah kata. Sudah kuduga, setiap orang akan selalu tertawa mendengar jawaban jujurku itu. “Bang, saya serius!” Aku memasang wajah kesal agar ia segera menghentikan tawanya. Ia berusaha menghentikan tawanya, kemudian membuka mulutnya dan berkata, “Sudah sejak kecil?” Aku mengangguk.
“Tak sampai membuat kamu tidak suka dengan hujankan?”
“Itu alasan utama mengapa saya tak menyukai hujan, bang. Alasan selanjutnya adalah banyaknya kesialan yang terjadi karena hujan. Hujan itu bencana!”
Ia tersenyum. “Coba deh kamu baca di al-qur’an, berulang kali Allah menyatakan hujan itu rahmat, kebencian kamu saja yang membuatnya menjadi bencana,” aku menyulam senyum, tak kuduga ia bisa berkata-kata serius, dari penampilannya ia bukan laki-laki yang alim, tapi kata-katanya...aku suka.
***
“Hei!” Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku mengerti maksud laki-laki ini. Aku menatap wajahnya yang tengah melihatku, lalu melirik jarum jam yang melingkar dipergelangan tanganku, kemudian mengambil langkah pergi meninggalkannya tanpa pamit. Ia tak mencegahku atau memanggilku. Sudah biasa begitu.
“Kebiasaan,” kata-kata itu terdengar samar ditelingaku. Aku tersenyum. Kuhentikan langkahku dan aku menoleh berbalik melihatnya yang belum terlalu jauh dariku, “Sebentar lagi azan akan berkumandang, Visca ingin bertemu Tuhan dan meminta hujan untuk segera turun!” Terlihat wajahnya begitu lucu ketika mendengar perkataanku. Ku lemparkan senyuman kemudian berbalik pergi.
Ini kali pertama dalam hidupku meminta hujan dalam do’aku, “Ya Allah, aku tak peduli seberapa benci aku pada hujan, seberapa murka aku pada hujan, seberapa sering aku meminta hujan tak pernah ada dalam hidupku, yang aku pedulikan saat ini adalah kotaku, bencana itu tak kunjung teratasi, justru semakin parah saja, hujan buatan sudah beberapa kali dibuat, tapi tak juga menyelesaikan. Pasiens karena gangguan pernapasan diberbagai rumah sakit di kotaku semakin banyak. Penduduk kotaku juga telah menjadi ninja belakangan ini, aktivitas kami terhambat. Ya Allah, turunkanlah rahmatmu, padamkanlah api penyebab kabut asap tersebut, aku mohon,” bulir air mata terasa mengalir.
***
Aku tengah terbaring santai di atas ranjang sembari mengotak atik ponselku. Tak sengaja saat aku membuka pemberitahuan di akun BBM-ku, kulihat seseorang memasang gambar berisikan ayat yang terjemahannya, “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (QS. Ad-Dukhaan 44:10-11)” aku tersentak membaca ayat itu, sangat sesuai dengan apa yang terjadi dengan kotaku saat ini.
“Ya Allah? Inikah azab yang kau maksud?”
Aku memejamkan mataku. Aku benar-benar merasa hina dan berdosa. Rasanya dosaku jauh lebih tebal dari kabut asap yang tengah menyelimuti kotaku. Kata-kata murkaku pada hujan terngiang-ngiang ditelingaku, tak henti-hentinya aku beristighfar.
***
Ketika membuka akun BBM di pagi hari,  kulihat banyak sekali status-status bahagia tentang hujan. Aku terheran, kapan hujan turun? Mengapa aku tak menyadarinya?
“Ma! Ma! Panggilku bangkit dari ranjang mencari mama, “Ma, hujan sudah turun ya? Kapan?” Tanyaku penasaran.
“Tadi malam. Kamunya sih tidurnya mati, sampai nggak kedengaran hujan turun,” ledek mama. Aku mengernyitkan dahi tak percaya. Tiba-tiba terdengar suara rintik-rintik.
“Hujannya datang lagi!!!” Aku begitu antusias. Aku langsung berlari keluar rumah, kupandangi rintik hujan yang turun, perlahan kemudian deras. Tahukah? Ini adalah kali pertama hatiku begitu bahagia melihat hujan. Mataku berbinar. Rasa syukur itu kuulang-ulang dalam hati. “Ya Allah, sekarang aku mengerti mengapa Engkau menyebutnya rahmat.”
“Visca! Ponselmu berbunyi!” Panggil mama. Aku berlari ke dalam kamar melihat ponselku. Kulihat pada layarnya terdapat tulisan, “Zidan Calling” aku menekan tombol hijau sembari membuka jendela kamarku seakan mataku ingin terus saja melihat hujan.
“Bagaimana hujannya?”
“Rahmat yang luar biasa. Aku janji nggak akan membenci kehadirannya lagi. Aku bahagia, bang!” Jawabku antusias.
“Abang senag kalau kamu bahagia. Satu hal yang kamu harus tahu, abang sudah selipkan cinta dalam tiap rintik hujan yang turun untuk kamu, agar hujan itu tak membuat kamu sakit lagi,” aku tak mengerti maksud kata-kata bang Zidan, “Ha? maksudnya, bang?” Tak ada jawaban. Suara telpon itu terputus begitu saja. Aku tersenyum.

*Terisnpirasi dari kisah nyata saat bencana kabut asap di Pekanbaru