Dalam
gelap ia masih saja memegangi ponselnya dan menatap layar dengan intensitas
cahaya yang telah diperkecil itu dengan lekat. Sesekali ia meletakkan ponsel
itu di atas meja lampu tidurnya, kemudian menarik selimut hingga menutupi wajah
dan berusaha memejamkan mata. Namun, selang beberapa detik ia kembali
menurunkan selimutnya kemudian menggapai ponselnya dan menatap layar ponsel itu
kembali. Hal itu ia lakukan berulang kali. Dan pada akhirnya selalu saja napas
kecewa itu tak dapat tertahan.
“Arrrgh!!!” Ia kesal sendiri
kemudian meletakkan kembali ponselnya. Lagi, ia menarik selimut untuk menutupi
wajahnya. Pikirannya melayang. Mengapa seminggu ini laki-laki itu sama sekali
tak menghubunginya? Apa salah ia pada lelaki itu? Dan bahkan pertemuan di
kantor hanya sekedar tegur sapa biasa, tak seperti biasanya. Matanya terbuka
kembali, memang sulit sekali dapat terpejam disaat kegelisahan itu tak urung
pergi. Ia kembali menggapai ponselnya. Ia membuka kembali pesan-pesan lamanya
bersama laki-laki itu. Pesan-pesan sejak lima bulan lalu itu masih tersimpan
dalam ponselnya dengan sangat lengkap dan rapi, seperti halnya tiap scene pertemuan dan kebersamaan mereka
yang masih tersimpan utuh dalam memori ingatannya.
***
Senin pagi di awal November tahun
lalu, pagi itu adalah pagi awal ia bekerja. Pagi pertama yang mempertemukannya
dengan laki-laki itu. Laki-laki berhidung mancung dengan kulit hitam manis,
berambut hitam lurus dengan gaya jabrik, tinggi laki-laki itu lebih tinggi
darinya, mungkin sekitar 170 cm, bulu matanya panjang, itu yang membuat
laki-laki tersebut terlihat manis dimatanya. Pertemuan itu biasa saja, hanya
pertemuan biasa karena laki-laki itu adalah rekan kerjanya, yang tak biasa adalah
apa yang ia jalani bersama laki-laki tersebut setelah pertemuan itu. Ia dan
laki-laki itu sama-sama bertugas sebagai kasir, karena pekerjaan tersebut
mereka sering sekali menghabiskan waktu bersama, bercerita banyak hal dan
membahas banyak topik. Dimatanya, laki-laki itu... berbeda, bukan laki-laki
biasa.
Bulan pertama diawal tahun baru, ia hijrah
dari jeans ketat menuju rok panjang, dari rambut bercat coklat yang dikuncir
dengan berbagai pita menjadi tertutup oleh jilbab berbagai mode yang ia
kenakan. Berbagai tutorial hijabpun ia jelajahi dan ia tonton videonya untuk
dapat tampil cantik dengan hijabnya.
Rekan kerjanya memandang sinis perubahan
itu, salah satu dari rekan kerjanya mengatakan, “Ahh, paling berubah karena
naksir Imam, paling ntar balik lagi keawalnya. Awalnya uda neraka ya neraka
aja.” Imam ikut mendengar komentar
mereka terhadap wanita itu, dan Imam kerap sekali menegur wanita-wanita
bermulut tajam itu. Sayangnya, semakin Imam menegur wanita-wanita itu untuk
membelanya, Ia semakin diasingkan oleh rekan-rekan kerjanya tersebut. Entahlah,
sejah awal rekan-rekan kerjanya memang tidak menyukainya, mungkin karena
kedekatannya dengan Imam yang dirasa telah mengusik hati wanita-wanita itu.
Wanita-wanita yang menyukai Imam
Sore di minggu pertengahan awal
bulan tahun baru, ketika itu ia tengah duduk termenung di bangku kasir menatap
kosong meja kasir. Ia tersentak begitu mendengar suara berat Imam, “Cobaan saat
kita berubah menjadi lebih baik itu emang berat,” Ia menoleh sekilas ke arah
Imam, kemudian tersenyum.
“Tapi setidaknya, apa yang mereka
katakan tidak benar, bukan? Kamu berubah bukan karena aku, bukan?” Kepalanya
kembali berputar memandangi Imam. Kali ini pandangannya kaku. Ia gugup. Entah
mengapa nadinya terasa dingin. Wajahnya terasa panas. Ia berharap Imam tak
melihat adanya kepiting rebus diwajahnya. Sejujurnya dalam hati wanita itu, ia
memang begini karena lelaki itu. Imam begitu sempurna, laki-laki sholeh yang begitu rajin beribadah,
Imam juga sering sekali membelikannya buku-buku agama, meski sebenarnya
buku-buku yang dibelikan Imam hanya sampul luarnya saja yang ia baca karena ia
begitu malas membaca. Dan ia begini, karena nasehat-nasehat Imam, karena dari
nasehat-nasehat itu yang ia tanggkap bukan soal aturan agama, azab atau
sebagainya. Tapi tentang...Imam, Imam yang sepertinya menyukai wanita dengan
sosok muslimah, yaa... seperti ber-rok dan berjilbab, dan ia begini karena ia ingin disukai oleh
IMAM.
“Hei? Mengapa kamu diam saja? Ini
semua bukan karena akukan?” Tanya imam memastikan.
Wanita itu menghela napas gugup.
Senyumnya kaku, dengan kebohongan ia menjawab, “Tentu saja bukan,” ia tertawa
kecil menutupi kebohongannya dan berusaha mencairkan nadinya yang mungkin sudah
membeku. “Kamu pede sekali. Ini karena aku ingin menjadi lebih baik saja. Dan
seperti katamu, wanita muslimah wajib berjilbab,bukan?”
Imam tersenyum. Senyumnya. Senyum
itu yang membuat wanita itu menyukai Imam. Tak hanya senyum itu, tapi sikap
Imam kepadanya. Sikap yang seolah-olah begitu perhatian dan menjadikannya bak
seperti putri, dan Imam adalah pangerannya. “Syukurlah, aku sangat berharap
semua yang kamu lakukan karena Allah, karena ketika kita melakukan karena
makhluk, nantinya Allah akan beri kita rasa kecewa, karena Ia ingin kita tahu,
betapa cemburunya Allah ketika kita lebih mencintai makhluk-Nya. Dan aku nggak
mau kamu ngerasain kecewa itu.”
Senyum wanita itu memudar. Tapi ia
masih berusaha kembali menebalkan senyum. Di hatinya, ada rasa bersalah.
Bersalah karena telah membohongi Imam dan bersalah karena ia telah membuat
Allah cemburu. Ampuni Tika Ya Allah, bathinnya.
***
Malam di akhir bulan kedua tahun baru,
Ia melihat layar ponsel sambil tersenyum. Direbahkannya badan ke atas ranjang
kemudian memainkan ponselnya seperti tengah mengetik sesuatu.
To : Imam
Wa’alaikum salam. Ini baru selesai
sholat, Mam. Imam udah sholat?
Seperti
biasa, Tika memang selalu tersenyum riang jika sudah mendapatkan pesan singkat
dari Imam. satu malam saja Imam tak mengiriminya pesan, rasanya ada saja yang
kurang, ada saja yang hambar. Mungkin karena memang beberapa bulan terakhir
mereka memang sangat intens saling berkirim pesan dan biasanya itu dilakukan
setiap malam, karena dari pagi hingga sore mereka terikat langsung waktu
bersama di tempat kerja. Hal itulah yang kian membuat rasa di hati tika semakin
bersemi untuk Imam.
From : Imam
Ini baru selesai sholat juga. Baru
keluar masjid dan lagi liatin langit malam, Bulannya indah deh! Emang ya
ciptaan Allah itu luar biasa indahnya, coba deh tika keluar atau liat dari
jendela kamarnya...
Tika tersenyum membaca pesan balasan
dari Imam. Ia yang biasanya malas bangkit bila telah berbaring di atas ranjang,
justru dengan ringan bangkit dan beranjak menuju teras rumahnya. Dilihatnya
langit malam, ada satu bulan di langit malam itu, bulan sabit yang indah
sekali. Bila diputar 90 derajat ke kiri, mungkin akan terlihat seperti
lengkungan senyuman. Senyuman imam yang manis tepatnya. Ahh, berpikir apa dia
ini. Namun sayangnya hanya ada satu, dua...hanya dua bintang yang dapat
dilihatnya di langit malam itu.
To : Imam
Iya bulannya indah banget, Mam
From : Imam
Hihi, Eh masuk lagi gih kedalam rumah,
ntar sangking asyik liat bulan kena begal pula..wkwkwk
To : Imam
Aiih si Imam, udah nyuruh keluar
malah nyuruh masuk cepat-cepat pula -__-
From : Imam
Hehe #peace :P ngga ada sibuk
apa-apa malam ini?
To : Imam
Lagi nggak ada job nih, tadi cuma
lagi nyari tutorial hijab
From : Imam
Nyari tutorial hijab? Untuk?
To : Imam
Haha, untuk dicobainlah, lagi
kurang ide gimana berhijab yang cantik nih, hahaha
From : Imam
Ngapain susah-susah cari tutorial
hijab? Coba buka Qur’an deh, di Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31 atau Al-Ahzab
ayat 59, disana Allah udah ngasih tutorial hijabnya, itu tutorial hijab
langsung dari allah, jadi ada bagusnya kamu ngikutin itu.
Tika terdiam sejenak kemudian
berpikir. Tak salah hatinya jatuh pada Imam. Imam yang benar-benar menjadi
idaman para makmum. Dan membawa cinta menuju syurga.
To : Imam
Iya juga ya..hoho
***
Ia menutup kembali kotak pesan.
Dilihatnya jam pada layar ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah duabelas
malam. Laki-laki itu untuk kesekian kalinya tak lagi menghubunginya. Ingin
rasanya ia mengirim pesan terlebih dahulu kepada laki-laki tersebut dan
bertanya mengapa laki-laki itu tak menghubunginya. Namun, ia adalah wanita
dengan gengsi yang tingginya melebihi langit ketujuh hingga ia lebih memilih
berada disituasi seperti ini, berpura-pura tak terjadi apa-apa padahal di hatinya
telah terjadi apa-apa.
***
Malam ini adalah malam minggu. Tika
bukan wanita yang menyukai atau terlampau mengisitimewakan malam minggu. Bukan
karena statusnya yang jomblo, namun ia memang menganggap semua malam biasa
saja. Oh tidak, ada yang beda memang, di malam minggu ia bisa terlelap lebih
lama sehingga besok paginya ia bisa terjaga lebih lama juga, hanya itu yang ia
suka dari malam minggu. Sisanya... tidak ada.
Malam minggu di malam ini ia diajak
oleh salah seorang teman laki-laki yang satu sekolah dengannya dulu sewaktu
SMA. Ya, Sebenarnya status Tika yang jomblo bukan karena ia tidak laku, hanya
saja karena ia tak ingin memiliki pacar. Baginya seburuk apapun kelakuannya
atau senakal apapun ia dulu, ia tak ingin pacaran. Ia tak mau menjadi bekas
orang lain. Jadi, ia hanya dekat saja dengan para lelaki yang menyukainya.
“Udah hampir tiga bulan nggak jalan
sama lo, rasanya sekarang gue kaya ga lagi jalan sama Tika yang dulu. Tapi,
it’s okey, lo tambah cantik dengan jilbab itu,” komentar teman laki-lakinya
yang bernama Willy tersebut.
Tika hanya menyengir, “Gue diapain
juga tetap cantik keles,”
“Oh ya, sekarang gimana? Udah buka
pendaftaran buat jadi pacar?”
Tika tertawa, “Gila lo, umur gue
udah 23 cuy, yang gue cari suami bukan pacar,”
“Widih, ngeri... niat nikah muda
ternyata,”
Tika hanya tertawa. Ia memandang ke sekitar.
Pasar malam yang ia datangi malam ini bersama willy begitu ramai. Dan di tengah
keramaian itu ada yang telah mengusik matanya, Imam. Ia melihat Imam ada di
tengah keramaian tersebut, di dekat
posko permaianan lempar gelang. Ia berjalan mendekat sambil menyeret
memegangi tangan Willy.
Genggaman tangan Tika lepas dari
tangan Willy. Kini tubuhnya hanya terdiam kaku memperhatikan Imam tengah
tertawa bersama seorang wanita berjilbab panjang yang tengah memegang boneka,
sepertinya itu boneka beruang yang didapat dari hasil permainan mereka.
Dilihatnya lebih jeli, tangan kiri imam menggenggam tangan kanan wanita
tersebut. Mata Tika seketika perih. Hatinya pedih. Ia merasa ada yang terluka.
Ada yang sakit dan ngilu. Tapi pantaskah ia merasakan hal itu sementara ia
bukanlah orang yang pantas untuk itu?
Willy hanya memandang Tika heran.
Diikutinya arah pandangan mata Tika, “Itu yang buat kamu berubah?” Tanya Willy
menebak.
Tika mendengar pertanyaan Willy.
Tapi ia tak menjawab. Di telinganya justru terngiang kembali kata-kata Imam
yang mengatakan, “Aku sangat berharap semua yang kamu lakukan karena Allah,
karena ketika kita melakukan karena makhluk, nantinya Allah akan beri kita rasa
kecewa, karena ia ingin kita tahu betapa cemburunya Allah ketika kita lebih
mencintai makhluk-Nya. Dan aku nggak mau kamu ngerasain kecewa itu.”
Inikah rasa kecewa itu? Inikah cara
Engkau memberitahuku kalau Engkau tengah
cemburu, Tuhan? Ia mengerjapkan matanya. Seketika Wajahnya terasa basah.
Bibirnya tak mampu terbuka. Dilihatnya Imam yang lewat di depan matanya bersama
wanita itu dari balik persembunyiannya hingga hilang dari tatapannya.
***
Sejak malam itu, ia tak pernah lagi
berbicara dengan Imam. Pertemuan mereka hanya sekedar saling bertemu mata
kemudian berlalu begitu saja. Imam masih tersenyum manis dalam pertemuan itu,
namun Tika hanya memasang wajah datar dan lebih dulu berlalu pergi. Semua
pesan-pesan imam di ponselnya ia hapus, ia benar-benar tak ingin lagi menyimpan
memory itu. Ia kesal. Ia kecewa. Dan ia membenci Imam. Terlebih ketika
bayang-bayang Imam berpegangan tangan bersama wanita itu melintas, membuat
hatinya kian jenggel saja. Ia hanya tak habis pikir, bagaimana bisa sosok alim
dimatanya ternyata berprilaku seperti itu? Apa arti sikap dan perhatian Imam
selama ini kepadanya? Ahh, mungkin imam memang baik pada semua wanita, ia saja
yang terlampau berlebihan mengartikan sikap Imam selama ini. Bodoh.
From : Imam
Assalamu’alaikum, duh udah lama
rasanya nggak sms kamu. Sibuk banget sih ngurus sesuatu yang lagi
penting-pentingnya. Hihi, apa kabar? Kok jadi cuek banget pas di tempat kerja
belakangan ini?
Wa’alaikumsalam, jawab Tika dalam
hatinya. Hanya dalam hatinya karena ia sama sekali tak membalas pesan Imam
tersebut. Ia mengabaikan pesan-pesan itu. Sekali, dua kali, tiga kali, Imam
terus saja berusaha menghubunginya, dengan kalimat berbeda tentunya. Namun,
Tika hanya mengabaikan pesan-pesan itu, ia hanya melihat pesan-pesan itu dengan
tatapan kebencian. Meski separuh hatinya ingin sekali membalas pesan tersebut.
Jujur, ia rindu Imam.
“Maaf. Aku hanya tak ingin hatiku
semakin sulit melepasmu. Dan kamu harus tahu, hatiku bukan taman bermain yang
bisa kamu jadikan tempat kamu bermain. Jadi lebih baik begini,” gumamnya dalam
hati.
***
Dilihatnya di depan cermin, wajahnya
yang berbalut jilbab ungu muda bermotif garis-garis tersebut terlihat cantik
seperti biasanya. Tangannya memegang ujung jilbab berniat melepas jilbabnya.
Dilepasnya perlahan jilbab tersebut. Ia tersenyum. Kali ini pantulan cermin itu
memperlihatkan dirinya dengan rambut coklatnya yang dikuncir rapi. Ia menunduk
melihat jilbabnya, terbayang olehnya bayang-bayang kebersamaannya bersama Imam.
“Kau benar,” gumamnya sendiri di
hadapan cermin.
Ia memegang jilbabnya kembali,
“Bismillah, Ya Allah, mulai saat ini, jilbab ini kukenakan karena Engkau.
Sungguh, aku tak peduli dengan laki-laki itu. Ini benar-benar karena engkau,”
ia menelan ludah, mengerjapkan matanya sejenak kemudian mengenakan jilbab itu
kembali.
***
Imam benar-benar tak tahan dengan
sikap Tika. Ia heran mengapa wanita itu menjauhinya? Apa salah yang telah ia
lakukan? Sore itu Imam menahan Tika yang hendak pulang.
“Tunggu, Tik!”
“Appan sih, Mam?”
“Kamu kenapa sih? Udah satu minggu
ini aneh? Nggak baik loh diamin orang lebih dari tiga hari?”
“Siapa juga yang diamin kamu?”
“Trus kenapa kamu aneh? Sms aku nggak
dibalas? Ketemu wajahnya datar gitu nggak ada senyum? Diajak ngobrol jutek
banget. Aku ada salah apa sama kamu? Apa benar yang dikatain orang-orang? Kamu
merasa aku gantungin dan phpin kamu,
gitu?”
“Ha? Pede sekali kamu, Mam. Aku
nggak pernah ya suka atau apalah itu sama kamu. Jangan kegeeran banget deh jadi
cowok. Dan lagi kamu kan yang pernah bilang kalo nggak semua kata orang harus
didengar?!” Pertengkaran dianatara keduanya di perhatikan oleh rekan-rekan
kerja meraka.
“Lalu kenapa kamu jadi berubah kaya
gini? Kenapa kamu kaya ngejauh dari aku?”
“Aku nggak kenapa-kenapa. Aku nggak
pernah berubah, kamunya aja yang baru tahu aslinya aku kaya gimana. Dan aku
nggak pernah ngejauh, mungkin emang dari awal kedekatan kita itu hanya semu,
nyatanya ya gini, jauh. Udahlah, aku capek, mau pulang!” Tika berlalu pergi
meninggalkan Imam begitu saja. Imam hanya terdiam tanpa menghentikan langkah
Tika. Ia hanya tak habis pikir tentang apa salahnya pada Tika, padahal
sejujurnya seminggu Imam tak menghubungi Tika karena ia telah mempersiapkan
banyak hal untuk melamar wanita itu. Tapi apa daya?
***
Mereka berdua kemudian secara tak
sengaja sama-sama saling mengajukan surat mengunduran diri. Pemilik swalayan
tak habis pikir dengan kekompakan mereka yang serentak meminta mengundurkan
diri. Di hari yang sama mereka sama-sama membereskan barang-barang mereka dan
keluar dari swalayan tempat mereka dipertemukan 8 bulan lalu. Mereka saling
menjauh tanpa menyadari hati mereka justru tengah seperti magnet yang sedang
tarik menarik.
***
Bulan kedelapan diawal tahun baru,
ditengah luka perih yang berusaha ia tutupi dan perbaikan diri yang berusaha ia
jalani, ia sontak heran. Dilihatnya Imam telah berada di ruang tamunya bersama
dua orang tua yang sepertinya merupakan orang tua Imam. Ayahnya terlihat tengah
berbincang-bincang hangat dengan orang tua laki-laki dari Imam.
“Imam?” Tika yang tengah berdandan
cantik karena permintaan dari ibunya sebab ibunya berkata akan ada tamu penting
dari ayahnya yang akan datang malam itu mentap Imam heran.
Imam tersenyum. Kemudian datang
seorang wanita berjalan menghampiri mereka dan kemudian duduk di samping kanan
orang tua wanita dari Imam. Tika seperti mengenal wanita itu...wanita yang
pernah dilihatnya bersama Imam pada malam yang menyakitkan itu. Wanita yang
tangannya digenggam erat oleh Imam.
“Duduk, nak,” ibu Tika memandu Tika
untuk duduk. Dalam bingung Tika duduk dan masih memperhatikan Imam serta
sesekali melirik wanita itu.
“Nah, sekarang Tikanya sudah berada
disini, saya sebagai ayahnya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Tika,”
Tika semakin heran, apa maksud ayahnya? Ada apa ini sebenarnya? Mengapa
seperti...orang yang tengah lamaran? Apa mungkin?
“Maaf, maksudnya apa ya semua ini?”
Imam tersenyum, dengan lembut ia
berkata, “Aku ingin melamarmu, Tika,”
“Ha?” Tika ternganga tak percaya dengan apa
yang didengarnya. “Kamu? Tapi, bukannya kamu udah punya kekasih? Wanita itu?”
Tika melirik ke arah wanita yang duduk di samping ibu dari Imam. Imam terkekeh,
kedua orang tua Imam dan juga orang tua Tika ikut terkekeh, wanita tersebut
juga. Tika mengernyitkan kening semakin bingung.
“Aku? Aku adiknya bang imam,” jelas
wanita itu disela-sela tawanya.