RSS

Jodoh Pasti Bertamu

Dalam gelap ia masih saja memegangi ponselnya dan menatap layar dengan intensitas cahaya yang telah diperkecil itu dengan lekat. Sesekali ia meletakkan ponsel itu di atas meja lampu tidurnya, kemudian menarik selimut hingga menutupi wajah dan berusaha memejamkan mata. Namun, selang beberapa detik ia kembali menurunkan selimutnya kemudian menggapai ponselnya dan menatap layar ponsel itu kembali. Hal itu ia lakukan berulang kali. Dan pada akhirnya selalu saja napas kecewa itu tak dapat tertahan.
            “Arrrgh!!!” Ia kesal sendiri kemudian meletakkan kembali ponselnya. Lagi, ia menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Pikirannya melayang. Mengapa seminggu ini laki-laki itu sama sekali tak menghubunginya? Apa salah ia pada lelaki itu? Dan bahkan pertemuan di kantor hanya sekedar tegur sapa biasa, tak seperti biasanya. Matanya terbuka kembali, memang sulit sekali dapat terpejam disaat kegelisahan itu tak urung pergi. Ia kembali menggapai ponselnya. Ia membuka kembali pesan-pesan lamanya bersama laki-laki itu. Pesan-pesan sejak lima bulan lalu itu masih tersimpan dalam ponselnya dengan sangat lengkap dan rapi, seperti halnya tiap scene pertemuan dan kebersamaan mereka yang masih tersimpan utuh dalam memori ingatannya.
***
            Senin pagi di awal November tahun lalu, pagi itu adalah pagi awal ia bekerja. Pagi pertama yang mempertemukannya dengan laki-laki itu. Laki-laki berhidung mancung dengan kulit hitam manis, berambut hitam lurus dengan gaya jabrik, tinggi laki-laki itu lebih tinggi darinya, mungkin sekitar 170 cm, bulu matanya panjang, itu yang membuat laki-laki tersebut terlihat manis dimatanya. Pertemuan itu biasa saja, hanya pertemuan biasa karena laki-laki itu adalah rekan kerjanya, yang tak biasa adalah apa yang ia jalani bersama laki-laki tersebut setelah pertemuan itu. Ia dan laki-laki itu sama-sama bertugas sebagai kasir, karena pekerjaan tersebut mereka sering sekali menghabiskan waktu bersama, bercerita banyak hal dan membahas banyak topik. Dimatanya, laki-laki itu... berbeda, bukan laki-laki biasa.
            Bulan pertama diawal tahun baru, ia hijrah dari jeans ketat menuju rok panjang, dari rambut bercat coklat yang dikuncir dengan berbagai pita menjadi tertutup oleh jilbab berbagai mode yang ia kenakan. Berbagai tutorial hijabpun ia jelajahi dan ia tonton videonya untuk dapat tampil cantik  dengan hijabnya. Rekan kerjanya memandang sinis  perubahan itu, salah satu dari rekan kerjanya mengatakan, “Ahh, paling berubah karena naksir Imam, paling ntar balik lagi keawalnya. Awalnya uda neraka ya neraka aja.”  Imam ikut mendengar komentar mereka terhadap wanita itu, dan Imam kerap sekali menegur wanita-wanita bermulut tajam itu. Sayangnya, semakin Imam menegur wanita-wanita itu untuk membelanya, Ia semakin diasingkan oleh rekan-rekan kerjanya tersebut. Entahlah, sejah awal rekan-rekan kerjanya memang tidak menyukainya, mungkin karena kedekatannya dengan Imam yang dirasa telah mengusik hati wanita-wanita itu. Wanita-wanita yang menyukai Imam
            Sore di minggu pertengahan awal bulan tahun baru, ketika itu ia tengah duduk termenung di bangku kasir menatap kosong meja kasir. Ia tersentak begitu mendengar suara berat Imam, “Cobaan saat kita berubah menjadi lebih baik itu emang berat,” Ia menoleh sekilas ke arah Imam, kemudian tersenyum.
            “Tapi setidaknya, apa yang mereka katakan tidak benar, bukan? Kamu berubah bukan karena aku, bukan?” Kepalanya kembali berputar memandangi Imam. Kali ini pandangannya kaku. Ia gugup. Entah mengapa nadinya terasa dingin. Wajahnya terasa panas. Ia berharap Imam tak melihat adanya kepiting rebus diwajahnya. Sejujurnya dalam hati wanita itu, ia memang begini karena lelaki itu. Imam begitu sempurna,  laki-laki sholeh yang begitu rajin beribadah, Imam juga sering sekali membelikannya buku-buku agama, meski sebenarnya buku-buku yang dibelikan Imam hanya sampul luarnya saja yang ia baca karena ia begitu malas membaca. Dan ia begini, karena nasehat-nasehat Imam, karena dari nasehat-nasehat itu yang ia tanggkap bukan soal aturan agama, azab atau sebagainya. Tapi tentang...Imam, Imam yang sepertinya menyukai wanita dengan sosok muslimah, yaa... seperti ber-rok dan berjilbab,  dan ia begini karena ia ingin disukai oleh IMAM.
            “Hei? Mengapa kamu diam saja? Ini semua bukan karena akukan?” Tanya imam memastikan.
            Wanita itu menghela napas gugup. Senyumnya kaku, dengan kebohongan ia menjawab, “Tentu saja bukan,” ia tertawa kecil menutupi kebohongannya dan berusaha mencairkan nadinya yang mungkin sudah membeku. “Kamu pede sekali. Ini karena aku ingin menjadi lebih baik saja. Dan seperti katamu, wanita muslimah wajib berjilbab,bukan?”
            Imam tersenyum. Senyumnya. Senyum itu yang membuat wanita itu menyukai Imam. Tak hanya senyum itu, tapi sikap Imam kepadanya. Sikap yang seolah-olah begitu perhatian dan menjadikannya bak seperti putri, dan Imam adalah pangerannya. “Syukurlah, aku sangat berharap semua yang kamu lakukan karena Allah, karena ketika kita melakukan karena makhluk, nantinya Allah akan beri kita rasa kecewa, karena Ia ingin kita tahu, betapa cemburunya Allah ketika kita lebih mencintai makhluk-Nya. Dan aku nggak mau kamu ngerasain kecewa itu.”
            Senyum wanita itu memudar. Tapi ia masih berusaha kembali menebalkan senyum. Di hatinya, ada rasa bersalah. Bersalah karena telah membohongi Imam dan bersalah karena ia telah membuat Allah cemburu. Ampuni Tika Ya Allah, bathinnya.
***
            Malam di akhir bulan kedua tahun baru, Ia melihat layar ponsel sambil tersenyum. Direbahkannya badan ke atas ranjang kemudian memainkan ponselnya seperti tengah mengetik sesuatu.
To : Imam
Wa’alaikum salam. Ini baru selesai sholat, Mam. Imam udah sholat?
            Seperti biasa, Tika memang selalu tersenyum riang jika sudah mendapatkan pesan singkat dari Imam. satu malam saja Imam tak mengiriminya pesan, rasanya ada saja yang kurang, ada saja yang hambar. Mungkin karena memang beberapa bulan terakhir mereka memang sangat intens saling berkirim pesan dan biasanya itu dilakukan setiap malam, karena dari pagi hingga sore mereka terikat langsung waktu bersama di tempat kerja. Hal itulah yang kian membuat rasa di hati tika semakin bersemi untuk Imam.
From : Imam
Ini baru selesai sholat juga. Baru keluar masjid dan lagi liatin langit malam, Bulannya indah deh! Emang ya ciptaan Allah itu luar biasa indahnya, coba deh tika keluar atau liat dari jendela kamarnya...
            Tika tersenyum membaca pesan balasan dari Imam. Ia yang biasanya malas bangkit bila telah berbaring di atas ranjang, justru dengan ringan bangkit dan beranjak menuju teras rumahnya. Dilihatnya langit malam, ada satu bulan di langit malam itu, bulan sabit yang indah sekali. Bila diputar 90 derajat ke kiri, mungkin akan terlihat seperti lengkungan senyuman. Senyuman imam yang manis tepatnya. Ahh, berpikir apa dia ini. Namun sayangnya hanya ada satu, dua...hanya dua bintang yang dapat dilihatnya di langit malam itu.
To : Imam
Iya bulannya indah banget, Mam
From : Imam
Hihi, Eh masuk lagi gih kedalam rumah, ntar sangking asyik liat bulan kena begal pula..wkwkwk
To : Imam
Aiih si Imam, udah nyuruh keluar malah nyuruh masuk cepat-cepat pula -__-
From : Imam
Hehe #peace :P ngga ada sibuk apa-apa malam ini?
To : Imam
Lagi nggak ada job nih, tadi cuma lagi nyari tutorial hijab
From : Imam
Nyari tutorial hijab? Untuk?
To : Imam
Haha, untuk dicobainlah, lagi kurang ide gimana berhijab yang cantik nih, hahaha
From : Imam
Ngapain susah-susah cari tutorial hijab? Coba buka Qur’an deh, di Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31 atau Al-Ahzab ayat 59, disana Allah udah ngasih tutorial hijabnya, itu tutorial hijab langsung dari allah, jadi ada bagusnya kamu ngikutin itu.
            Tika terdiam sejenak kemudian berpikir. Tak salah hatinya jatuh pada Imam. Imam yang benar-benar menjadi idaman para makmum. Dan membawa cinta menuju syurga.
To : Imam
 Iya juga ya..hoho
***
            Ia menutup kembali kotak pesan. Dilihatnya jam pada layar ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah duabelas malam. Laki-laki itu untuk kesekian kalinya tak lagi menghubunginya. Ingin rasanya ia mengirim pesan terlebih dahulu kepada laki-laki tersebut dan bertanya mengapa laki-laki itu tak menghubunginya. Namun, ia adalah wanita dengan gengsi yang tingginya melebihi langit ketujuh hingga ia lebih memilih berada disituasi seperti ini, berpura-pura tak terjadi apa-apa padahal di hatinya telah terjadi apa-apa.
***
            Malam ini adalah malam minggu. Tika bukan wanita yang menyukai atau terlampau mengisitimewakan malam minggu. Bukan karena statusnya yang jomblo, namun ia memang menganggap semua malam biasa saja. Oh tidak, ada yang beda memang, di malam minggu ia bisa terlelap lebih lama sehingga besok paginya ia bisa terjaga lebih lama juga, hanya itu yang ia suka dari malam minggu. Sisanya... tidak ada.
            Malam minggu di malam ini ia diajak oleh salah seorang teman laki-laki yang satu sekolah dengannya dulu sewaktu SMA. Ya, Sebenarnya status Tika yang jomblo bukan karena ia tidak laku, hanya saja karena ia tak ingin memiliki pacar. Baginya seburuk apapun kelakuannya atau senakal apapun ia dulu, ia tak ingin pacaran. Ia tak mau menjadi bekas orang lain. Jadi, ia hanya dekat saja dengan para lelaki yang menyukainya.
            “Udah hampir tiga bulan nggak jalan sama lo, rasanya sekarang gue kaya ga lagi jalan sama Tika yang dulu. Tapi, it’s okey, lo tambah cantik dengan jilbab itu,” komentar teman laki-lakinya yang bernama Willy tersebut.
            Tika hanya menyengir, “Gue diapain juga tetap cantik keles,”
            “Oh ya, sekarang gimana? Udah buka pendaftaran buat jadi pacar?”
            Tika tertawa, “Gila lo, umur gue udah 23 cuy, yang gue cari suami bukan pacar,”
            “Widih, ngeri... niat nikah muda ternyata,”
            Tika hanya tertawa. Ia memandang ke sekitar. Pasar malam yang ia datangi malam ini bersama willy begitu ramai. Dan di tengah keramaian itu ada yang telah mengusik matanya, Imam. Ia melihat Imam ada di tengah keramaian tersebut, di dekat  posko permaianan lempar gelang. Ia berjalan mendekat sambil menyeret memegangi tangan Willy.
            Genggaman tangan Tika lepas dari tangan Willy. Kini tubuhnya hanya terdiam kaku memperhatikan Imam tengah tertawa bersama seorang wanita berjilbab panjang yang tengah memegang boneka, sepertinya itu boneka beruang yang didapat dari hasil permainan mereka. Dilihatnya lebih jeli, tangan kiri imam menggenggam tangan kanan wanita tersebut. Mata Tika seketika perih. Hatinya pedih. Ia merasa ada yang terluka. Ada yang sakit dan ngilu. Tapi pantaskah ia merasakan hal itu sementara ia bukanlah orang yang pantas untuk itu?
            Willy hanya memandang Tika heran. Diikutinya arah pandangan mata Tika, “Itu yang buat kamu berubah?” Tanya Willy menebak.
            Tika mendengar pertanyaan Willy. Tapi ia tak menjawab. Di telinganya justru terngiang kembali kata-kata Imam yang mengatakan, “Aku sangat berharap semua yang kamu lakukan karena Allah, karena ketika kita melakukan karena makhluk, nantinya Allah akan beri kita rasa kecewa, karena ia ingin kita tahu betapa cemburunya Allah ketika kita lebih mencintai makhluk-Nya. Dan aku nggak mau kamu ngerasain kecewa itu.”
            Inikah rasa kecewa itu? Inikah cara Engkau memberitahuku kalau Engkau  tengah cemburu, Tuhan? Ia mengerjapkan matanya. Seketika Wajahnya terasa basah. Bibirnya tak mampu terbuka. Dilihatnya Imam yang lewat di depan matanya bersama wanita itu dari balik persembunyiannya hingga hilang dari tatapannya.
***
            Sejak malam itu, ia tak pernah lagi berbicara dengan Imam. Pertemuan mereka hanya sekedar saling bertemu mata kemudian berlalu begitu saja. Imam masih tersenyum manis dalam pertemuan itu, namun Tika hanya memasang wajah datar dan lebih dulu berlalu pergi. Semua pesan-pesan imam di ponselnya ia hapus, ia benar-benar tak ingin lagi menyimpan memory itu. Ia kesal. Ia kecewa. Dan ia membenci Imam. Terlebih ketika bayang-bayang Imam berpegangan tangan bersama wanita itu melintas, membuat hatinya kian jenggel saja. Ia hanya tak habis pikir, bagaimana bisa sosok alim dimatanya ternyata berprilaku seperti itu? Apa arti sikap dan perhatian Imam selama ini kepadanya? Ahh, mungkin imam memang baik pada semua wanita, ia saja yang terlampau berlebihan mengartikan sikap Imam selama ini. Bodoh.
From : Imam
Assalamu’alaikum, duh udah lama rasanya nggak sms kamu. Sibuk banget sih ngurus sesuatu yang lagi penting-pentingnya. Hihi, apa kabar? Kok jadi cuek banget pas di tempat kerja belakangan ini?
            Wa’alaikumsalam, jawab Tika dalam hatinya. Hanya dalam hatinya karena ia sama sekali tak membalas pesan Imam tersebut. Ia mengabaikan pesan-pesan itu. Sekali, dua kali, tiga kali, Imam terus saja berusaha menghubunginya, dengan kalimat berbeda tentunya. Namun, Tika hanya mengabaikan pesan-pesan itu, ia hanya melihat pesan-pesan itu dengan tatapan kebencian. Meski separuh hatinya ingin sekali membalas pesan tersebut. Jujur, ia rindu Imam.
            “Maaf. Aku hanya tak ingin hatiku semakin sulit melepasmu. Dan kamu harus tahu, hatiku bukan taman bermain yang bisa kamu jadikan tempat kamu bermain. Jadi lebih baik begini,” gumamnya dalam hati.
***
            Dilihatnya di depan cermin, wajahnya yang berbalut jilbab ungu muda bermotif garis-garis tersebut terlihat cantik seperti biasanya. Tangannya memegang ujung jilbab berniat melepas jilbabnya. Dilepasnya perlahan jilbab tersebut. Ia tersenyum. Kali ini pantulan cermin itu memperlihatkan dirinya dengan rambut coklatnya yang dikuncir rapi. Ia menunduk melihat jilbabnya, terbayang olehnya bayang-bayang kebersamaannya bersama Imam.
            “Kau benar,” gumamnya sendiri di hadapan cermin.
            Ia memegang jilbabnya kembali, “Bismillah, Ya Allah, mulai saat ini, jilbab ini kukenakan karena Engkau. Sungguh, aku tak peduli dengan laki-laki itu. Ini benar-benar karena engkau,” ia menelan ludah, mengerjapkan matanya sejenak kemudian mengenakan jilbab itu kembali.
***
            Imam benar-benar tak tahan dengan sikap Tika. Ia heran mengapa wanita itu menjauhinya? Apa salah yang telah ia lakukan? Sore itu Imam menahan Tika yang hendak pulang.
            “Tunggu, Tik!”
            “Appan sih, Mam?”
            “Kamu kenapa sih? Udah satu minggu ini aneh? Nggak baik loh diamin orang lebih dari tiga hari?”
            “Siapa juga yang diamin kamu?”
            “Trus kenapa kamu aneh? Sms aku nggak dibalas? Ketemu wajahnya datar gitu nggak ada senyum? Diajak ngobrol jutek banget. Aku ada salah apa sama kamu? Apa benar yang dikatain orang-orang? Kamu merasa aku gantungin  dan phpin kamu, gitu?”
            “Ha? Pede sekali kamu, Mam. Aku nggak pernah ya suka atau apalah itu sama kamu. Jangan kegeeran banget deh jadi cowok. Dan lagi kamu kan yang pernah bilang kalo nggak semua kata orang harus didengar?!” Pertengkaran dianatara keduanya di perhatikan oleh rekan-rekan kerja meraka.
            “Lalu kenapa kamu jadi berubah kaya gini? Kenapa kamu kaya ngejauh dari aku?”
            “Aku nggak kenapa-kenapa. Aku nggak pernah berubah, kamunya aja yang baru tahu aslinya aku kaya gimana. Dan aku nggak pernah ngejauh, mungkin emang dari awal kedekatan kita itu hanya semu, nyatanya ya gini, jauh. Udahlah, aku capek, mau pulang!” Tika berlalu pergi meninggalkan Imam begitu saja. Imam hanya terdiam tanpa menghentikan langkah Tika. Ia hanya tak habis pikir tentang apa salahnya pada Tika, padahal sejujurnya seminggu Imam tak menghubungi Tika karena ia telah mempersiapkan banyak hal untuk melamar wanita itu. Tapi apa daya?
***
            Mereka berdua kemudian secara tak sengaja sama-sama saling mengajukan surat mengunduran diri. Pemilik swalayan tak habis pikir dengan kekompakan mereka yang serentak meminta mengundurkan diri. Di hari yang sama mereka sama-sama membereskan barang-barang mereka dan keluar dari swalayan tempat mereka dipertemukan 8 bulan lalu. Mereka saling menjauh tanpa menyadari hati mereka justru tengah seperti magnet yang sedang tarik menarik.
***
            Bulan kedelapan diawal tahun baru, ditengah luka perih yang berusaha ia tutupi dan perbaikan diri yang berusaha ia jalani, ia sontak heran. Dilihatnya Imam telah berada di ruang tamunya bersama dua orang tua yang sepertinya merupakan orang tua Imam. Ayahnya terlihat tengah berbincang-bincang hangat dengan orang tua laki-laki dari Imam.
            “Imam?” Tika yang tengah berdandan cantik karena permintaan dari ibunya sebab ibunya berkata akan ada tamu penting dari ayahnya yang akan datang malam itu mentap Imam heran.
            Imam tersenyum. Kemudian datang seorang wanita berjalan menghampiri mereka dan kemudian duduk di samping kanan orang tua wanita dari Imam. Tika seperti mengenal wanita itu...wanita yang pernah dilihatnya bersama Imam pada malam yang menyakitkan itu. Wanita yang tangannya digenggam erat oleh Imam.
            “Duduk, nak,” ibu Tika memandu Tika untuk duduk. Dalam bingung Tika duduk dan masih memperhatikan Imam serta sesekali melirik wanita itu.
            “Nah, sekarang Tikanya sudah berada disini, saya sebagai ayahnya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Tika,” Tika semakin heran, apa maksud ayahnya? Ada apa ini sebenarnya? Mengapa seperti...orang yang tengah lamaran? Apa mungkin?
            “Maaf, maksudnya apa ya semua ini?”
            Imam tersenyum, dengan lembut ia berkata, “Aku ingin melamarmu, Tika,”
             “Ha?” Tika ternganga tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Kamu? Tapi, bukannya kamu udah punya kekasih? Wanita itu?” Tika melirik ke arah wanita yang duduk di samping ibu dari Imam. Imam terkekeh, kedua orang tua Imam dan juga orang tua Tika ikut terkekeh, wanita tersebut juga. Tika mengernyitkan kening semakin bingung.
            “Aku? Aku adiknya bang imam,” jelas wanita itu disela-sela tawanya.

Nyanyian Air Mata


Hantaman ombak begitu kencang
menerjang kaki mungil tak berdosa
Andai ia dapat memilih
ia akan memilih berdiri di pantai tak berombak
namun hidup hanya teori pilihan
yang nyatanya sudah memiliki ketetapan
senja hadir manambah luka
membawa gemuruh menutup langit jingga
kau yang kuanggap penerang seumpama bintang
ternyata justru langit kelam penyebab kegelapan
Semua tak tertahan lagi
Mata yang selalu menatap penuh cinta kini justru nanar dalam benci
Hati yang memujamu kini leyap secepat kilat dalam dentuman petir
meraung bersama gemuruh
tak ada lagi kata
sudah cukup derita

Shopious "Media iklan toko online" !


Mau mau mau!

Saya adalah mahasiswi semester 4 jurusan Kimia, Universitas Riau. Di semester empat ini, biaya akan keperluan perkuliahan semakin besar, terlebih ada 5 praktikum yang harus saya jalani tiap minggunya, dan tiap praktikumnya harus membuat jurnal dan laporan, dimana beberapa jurnal harus melampirkan fotocopy sumber landasan teori, dan tiap laporannya harus menyertakan lampiran foto. Memang, mahasiswa tahun saya, sudah terikat pada UKT (Uang Kuliah Tunggal) dimana biaya diktat dan keperluan praktikum sudah termasuk dalam UKT tersebut, meski begitu, biaya fotocopy dan print lampiran tidak termasuk dalam UKT itu. Hal itulah yang begitu memberatkan saya.
Jika dilihat sekilas,biaya fotocopy dan print foto memang  terkesan tak seberapa, namun bila itu dilakukan dalam interval yang panjang dan berulang-ulang, akumulasi biayanya akan besar, bukan?
Inilah yang membuat saya lebih memilih meninggalkan jurnal dan laporan saya yang tengah dikejar deadline untuk beberapa saat. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk memperjuangkan ‘Canon Pixma MG2570 Inkjet Multi Function Printer’ Printer yang ditawarkan oleh lazada dengan harga 675.000 di Shopious. Saya memilih printer tersebut karena kelengkapan fasilitasnya, yaitu bisa digunakan untuk scan, print dan fotocopy, dan juga harganya yang tidak terlampau mahal, namun tetap saja masih belum terjangkau oleh tabungan dan kantong anak kuliah seperti saya. Ingin meminta ke orang tua, namun, tak tega karena biaya kuliah juga sudah memberatkan mereka.
Untunglah, saya menemukan info event yang sangat menarik dari Shopious ini, meski belum pasti saya akan menang, namun bila tak mencoba, saya sudah bisa dipastikan kalah, bukan?
Sekilas tentang Shopious, shopious itu ibarat lahan pasar, yaitu wadah untuk si penjual untuk menawarkan dagangannya dan sipembeli untuk memilih-milih barang dagangan sipenjual. Bahasa kerennya ‘Media iklan toko online’ menarik sekali, bukan?
Sejujurnya, saya adalah orang yang suka banget liat-liat barang-barang online, Cuma liat-liat doang tapi. Hehe. Meski keseringan suka ngiller banget setelah liat-liat, namun rasa ingin membeli tersebut selalu saja kalah saing dengan rasa takut di hati saya. Hal ini karena temen saya pernah mengalami kasus penipuan saat berbelanja online, barangnya ngga datang-datang dan sipenjual tak bisa lagi dihubungi. Dan lagi ada juga kejadian, saat temen saya yang lain mesen jam tangan online di salah satu olshop, dari gambarnya itu, jam tangannya keren banget, bagus dan bener-bener bikin mata langsung nyamperin hati buat menghasut agar hati pengen banget memilikinya sesegera mungkin, eh tapi pas barangnya sampai di depan mata, jadi malas liat dan pengen dimasukin dalam kotak aja sangking nggak bagusnya. Beda gitu dengan yang digambarnya.
 Namun, sejak tercipta Shopious ini nih, rasa ngeri dan takut saya seketika hilang. dan untuk kalian-kalian yang punya rasa yang sama dengan saya, yuk kita jadian. #Ehh. Maksud saya, yuk berburu di Shopious aja, karena setiap toko online yang ingin menjualkan barangnya, akan menginput data identitas yang jelas terlebih dahulu. Pembelinyapun begitu. Jadi, tak ada kekhawatiran lagi, bukan? Dan lagi, barang-barang di Shopious yang KW dan yang Originalnya juga terjamin bagus, terbukti dengan testimoni-testimoni para costumernya, dan pilihan barangnyapun beragam dan banyak. Te ope begete deh!
Ahh tapi, sayangnya saat ini Shopious hanya mendukung toko online yang ada di Instagram. Jadi Penjual di Instagram tidak perlu repot-repot lagi untuk mengupload foto jualan mereka di Shopious, karena di Shopious semuanya dilakukan secara otomatis. Tidak perlu repot! Penjual hanya perlu menunggu orderan datang. Keren, sih? tapi tetap saja, hanya untuk toko online instagaram. Iya, kan? Nah kita do’akan saja semoga Shopious makin berkembang dan maju hingga tak hanya mendukung toko online yang ada di instagram saja ya, guys! Amin.
            Nah buat kamu-kamu yang punya barang keinginan juga, atau pengen banget dapat hadiah uang dari Shopious, yuk ikutan segera eventnya, deadlinenya besok loh! Segera tulis ceritamu bersama barang yang kamu inginkan ya! Segera! Jangan menunda nunda apa lagi mengurungkan niat untuk ikut, karena itu sama saja menunda-nunda kamu mendapatkan barang yang kamu mau, atau parahnya membatalakan barang yang kamu inginkan sampai ketangan kamu. Chek di Link ini ya ---> http://blog.shopious.com/about-shopious/kejutanshopious-untuk-para-penulis-blog

Oh ya, sebelumnya kenalan dulu nih sama Shopi dan Ious --> https://www.youtube.com/watch?v=3J7Qf1DVeLQ