RSS

Aku dan Kau


Perlu menanti empat tahun untuk dapat bertemu tanggal ini. Sebagaimana aku menanti hormon cinta itu enyah dari otakku. Ya, hormon Phenilethylamine itu hanya mampu bertahan tak kurang dari empat tahun. Ini tahun ke empat kita. Maksudku, tahun ke empat usai aku dan kau sempat menjadi kita.
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan, “Tidak ada rasa cinta yang benar-benar murni  setelah 4 tahun. Bahkan cinta yang sangat dalam sekalipun akan kehabisan efek itu ketika sudah berjalan lebih dari 4 tahun. Hal itu dikarenakan tubuh sudah kebal terhadap semua efek hormon tersebut. Jika sudah begitu, rasa cinta akan cenderung berubah menjadi ketergantungan emosi dan seksual.”
Ku ingatkan sekali lagi, ini tahun ke empat kita. Maaf, maksudku tahun ke empat sejak masa aku dan kau sempat menjadi kita.  
 “Kau ini aneh! Membakar semua kenangan dengannya, tetapi justru mengambil gambar saat semuanya terbakar dan menyimpannya. Hampir tiap failed anniv melihat foto itu. Itukan juga bagian dari kenangan yang semestinya kau musnahkan, Ge! Gimana mau move on kalo begini terus!” 
Menghela napas berat.  Membalikkan gambar itu dan menempelkannya ke atas meja. Benar kata gadis berkerudung panjang ini, bagaimana bisa kenangan itu lenyap sekalipun tlah menjadi abu sedang aku mengabadikan potret ketika api itu melahap kenangan kita satu persatu? Kita? Hah! Itu tiga tahun lalu.
Empat tahun lalu. Kita memutuskan bersama. Berpikir bahwa waktu akan berpihak pada kita. Kau sempat berjanji, “Kau tenang saja, jelaskan saja tentang keyakinanmu, sebab aku pun bukan penganut yang taat.”
Berjalan meniti perbedaan yang dilihat sinis oleh ibumu dan ayahku itu ternyata tak mudah. Hingga akhirnya kita menyadari bahwa yang satu hanya Tuhan, bukan kita.
“Aku sudah melupakannya. Sungguh!” jeda sesaat, “Memang bukan dalam arti lupa sebenarnya. Hanya mengubah rasa saat teringat.”
Zafa mengangkat alisnya. Keningnya mengkerut menatapku lamat-lamat. Tatapan curiga penuh ketidak percayaan.
“Penelitian mengatakan, hormon cinta hanya bertahan kurang dari empat tahun, Za. Ini tahun ke empat!” Aku memasang senyum paling lebar. Dibuat natural agar Zafa percaya.
Zafa tertawa, “sejak kapan kau percaya penelitian itu? Bukankah kau yang mengatakan kalau cinta itu energi? Dan dalam hukum Termodinamika satu, energi tidak dapat dimusnahkan, begitu katamu.” Belum sempat aku menjelaskan, ia menyambung pernyataannya, “Ooo hay! Kau jatuh cinta lagi ya? Orang-orang bilang, hanya ada satu cara untuk move on, yaitu dengan jatuh cinta lagi! Ayo katakan  pada siapa? Pada Randy? Atau Kiki? Deri juga tampaknya tak kalah saing dalam mendekatimu?” Aku tergelak. Bicara apa sahabatku ini.
“Zafa, please.” Aku menatap Zafa. Berbicara lewat mata bahwa ia seharusnya paham, aku tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Kali ini bukan sekedar karena aku tak percaya lagi pada laki-laki. Bukan sekedar karena aku menganggap laki-laki semuanya sama. Bukan pula karena rasaku masih tertahan padamu. Tetapi lebih kepada ajaran agama yang memang melarang adanya hubungan tidak halal berlebel pacaran. Memang tidak semua pacaran itu zina. Tetapi semua zina bermula dari pacaran, bukan?
Semula aku juga tak bisa terima kalau pacaran itu diharamkan. Dengan beragam alibi. Dengan banyak pembelaan. Tetapi, hampir setahun ini, hidayah itu menghampiri. Menyalinap ke dalam pori. Membuat hati menjadi hina dan malu akan dosa yang selama ini tlah terajut manis dalam ikatan pacaran. Syukur saja aku dan kau sudah tak lagi kita. Syukur pula laki-laki bajingan itu ketahuan belangnya sebelum kuterima pinangannya.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam. Sabdanya :
“Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti.” (Hadits Shahih Muslim No. 2282)
“Ya ya. Paham. Hafal malah. Belum ada seorang pun yang mampu kau cintai seperti kau mencintai dia. Dan semua laki-laki bajingan di matamu kecuali ayah, kakek, paman dan dia. Akan tetapi kau murni nggak mau pacaran karena Allah, sekalipun dia ngajak balikan. Begitu, bukan?” Aku tertawa. Sangking seringnya kalimat itu diulang, ia sampai hafal.
            “Za …kali ini aku sungguh-sungguh sudah benar-benar tak ada rasa lagi padanya. Dan bukan berarti ada yang baru juga. Sekarang, hati ini tak dihuni oleh lelaki mana pun, aku ingin menyerahkan hati ini sama Allah. Dan siapa yang mau menghuninya, silahkan minta langsung saja pada Allah.” Aku mengambil lembaran foto yang aku tempelkan pada meja kemudian menyobeknya kecil-kecil. Sungguh, rasaku padamu sudah tak ada lagi. Telah mati. Raib bersama hormon Phenilethylamine.
            Ponselku seketika berdering. Ada satu pesan masuk.
Dari : +658172635xxx
29 Februari. Ini tanggal yang kita tunggu, bukan? Aku ingat, bagaimana empat tahun lalu kita menantikan tanggal ini untuk meresmikan status di antara kita. Aku ingat betapa kau menyukai tanggal empat tahun sekali ini. Sayang, tanggal tahun ini dan empat tahun lalu berbeda. Bukan milik kita lagi. Andai kau tahu, aku menyayangimu dengan sangat. Tapi bagaimana mungkin aku bisa meminta hatimu pada-Nya sedang aku bukan hambaNya. Lucu sekali. Sad Failed Anniv, sayang.
            Aku menelan ludah. Mengapa kau hadir disaat aku nyaris berhasil melupakanmu? Tidak. Ini bukan nyaris, tetapi aku benar-benar berhasil melupakanmu. Aku yakin, pesan singkatmu adalah ujian dari Allah, tentang seberapa jujur aku telah melupakanmu. Lihat bagaimana aku menghapus pesanmu begitu saja tanpa air mata. Aku benar-benar sudah melupakanmu. Ini sungguhan!
            “Mengapa wajahmu berubah seperti itu? Pesan dari siapa?”
          “Bukan dari siapa-siapa. Tidak penting.” Senyumku mengembang natural. Benar-benar natural. Bukan dibuat-buat.
Semula, aku memang enggan membenarkan hasil penelitian tersebut. Sebab bagiku, cinta adalah energi. Kau ingat hukum Termodinamika pertama? Tentang kekekalan energi? Energi tidak dapat dimusnahkan, bukan?

Tetapi, aku lupa satu hal tentang hukum kekekalan energi. Energi memang tidak dapat dimusnahkan, akantetapi dapat berubah ke bentuk lain. Dan mungkin itulah yang telah terjadi pada energi diantara aku dan kau.

Rasa Tak Berujung


Cerpen kali ini adalah cerpen lama yang sudah pernah di posting pada blog saya yang lama sehingga mungkin sudah dibaca oleh teman-teman semua dengan nama tokoh dan sedikit jalan cerita yang berbeda. Sempat diikutkan dalam lomba heart to heart dan hanya meraih penghargaan berupa sertifikat sebagai seratus cerpen terbaik tanpa diterbitkan. Kemudian sempat juga di ikutkan lomba bertema cinta akan tetapi tidak mendapatkan juara. Alhamdulillah, setelah direvisi beberapa bagian dan penggantian nama tokoh, akhirnya naskah ini bertemu dengan jodohnya ^_^ Ya begitulah, tidak ada karya yang buruk. Yang ada hanya karya yang belum bertemu jodohnya. Hoho.
           
            Pernahkah kalian mencintai seseorang tanpa tahu alasannya? Begitu setia dalam cinta yang tak pernah tahu kalau kalian tengah mencinta? Seberapa lama rasa itu mampu bertahan? Bertahun-tahunkah? Aku rasakan itu. Dan rasa itu bertahan hampir sepuluh tahun lamanya, mungkin lebih. Cinta melumpuhkan logika dan meningkatkan kebodohanku.
 Inikah artinya cinta?Sebuah kebodohan tiada ujung?
8 November 2005
Aku tengah terdiam sendirian menerawang jauh entah kemana. Duduk bersila di atas salah satu meja rusak yang masih bisa untuk kududuki. Kedua tangan menopang kepala yang enggan untuk tegak sempurna.
“Ehem, ngelamun sendirian aja nih?! Karin kemana? Tumben?”  Suara seseorang mengacaukan dunia kesendirianku. Kepalaku berputar mencari asal suara tersebut. Sesosok laki-laki datang mendekat dari arah barat. Dia duduk di sampingku mengikuti posisi dudukku. Aku hanya diam mengerutkan kening melihat tinggkahnya.
“Sakit?” Tanyanya lagi. Oh Tuhan …pandangan matanya menatapku sungguh membuat hati terhanyut ke dalamnya. Tolong jaga hati ini, Tuhan.
Aku menggeleng dengan malas, “Nggak, Cuma nggak enak badan aja,” jawabku tersenyum kaku di hadapannya.
“Jangan-jangan kamu demam lagi? Sini-sini aku periksa!” Laki-laki itu sedikit menggeser posisi duduknya hingga bisa berhadapan denganku kemudian membalik-balik tangan kanannya di keningku seperti seorang dokter yang sedang memeriksa apakah pasiensnya demam.
Ia menatap mataku, aku langsung gugup dan mengalihkan pandanganku seraya tersenyum kaku. “Tidak panas, banyak-bayak liatin Tio aja, entar pasti sembuh,” ia tertawa kecil. Aku ikut larut dalam tawanya.
***
“Teringat padanya lagi?” Suara berat seorang pria membuyarkan lamunanku. Aku meliriknya sekilas. Lalu kulirik kembali meja dan kursi rusak yang menjadi saksi bisu bahwa hatiku tlah direnggut oleh laki-laki yang kini tak tahu dimana dan apa kabarnya.
“Pertanyaan bodoh,” jawabku kemudian mengambil langkah untuk beranjak pergi. Langkah kaki yang hendak melangkah pergi itu tertahan. Ardi menjegat pergelangan tangan kananku.
“Maafkan aku, karena masih belum mampu mengeluarkan dia dari hatimu,” ucap Ardi. Mataku terasa perih mendengar kata-kata itu. Aku sadar, rasa cintaku pada Tio saat ini bukan hanya menyakiti diriku sendiri, tapi juga Ardi. Pria tulus yang sangat mencintaiku.
“Bukan salahmu. Lepaskan aku, ini sekolah, jangan sampai ada yang salah paham melihat kita, bapak Lukman Ardi,” melepaskan tangan dari jeratan jari-jemarinya. Ia melepaskannya dengan lembut. Kemudian aku melangkah pergi meninggalkannya.
***
Keputusanku telah bulat. Aku benar-benar tak ingin menyakiti orang yang mencintaiku. Tugasku kini bertambah, bukan hanya berusaha menghilangkan rasa cintaku untuk Tio, tapi juga menghilangkan rasa cinta Ardi kepadaku karena aku tak mampu membalasnya. Dua tugas itu menurutku punya satu cara. Berhenti. Berhenti mengajar di sekolah ini.
Aku membereskan barang-barang dari meja. Guru-guru dan siswa-siswi telah silih berganti menanyai alasan kepergianku. Ada yang menahan agar tetap mengajar di sekolah ini, ada juga yang bersikap biasa saja dan hanya turut berdo’a untuk kebaikan dipekerjaan selanjutnya. Tak ada perayaan khusus untuk kepergianku dari sekolah ini. Bukan karena tak ada yang mau mengadakan, tapi karena aku yang meminta tak diadakannya acara itu. Menurutku, itu hanya membuat bathinku kian tersiksa.
“Leoni, maksudmu apa dengan semua ini? Mengapa kamu mengundurkan diri dari sekolah ini? Bukankah ini cita-citamu sejak kecil? Menjadi seorang guru?” Desak Ardi bertanya kepadaku. Aku dapat melihat beberapa orang guru yang ada di ruang majelis guru itu melihat diriku dengan Ardi. Tapi, kali ini aku tak memperdulikan pandangan itu.
“Maksudku sudah jelas, Di. Aku …tak ingin tersiksa dengan semua kenangan yang tercipta pada masa laluku dulu di sekolah ini. Aku tak mau itu membuat aku larut dalam cinta yang tak berujung. Aku harap kamu ngerti, bapak Lukman Ardi,” tegasku padanya. Aku rasa semua barang-barang di meja ini telah selesai kubereskan.
***
Dua tahun telah berlalu. Aku menghindar bahkan lenyap dari kehidupan Ardi. Karena sejak saat itu aku menetap di Bandung. Dan Ardi tak tahu itu. Kuharap dua tahun waktu yang cukup untuk Ardi melupakan aku. Meski waktu dua tahun bahkan sepuluh tahun bukan waktu yang cukup untukku melupakan Tio.
 Taman kana-kanak, itu tempat baruku. Mengajar anak-anak yang masih lucu dan polos. Ada kesenangan tersendiri di bathinku.
 “Pagi ibu gulu yang cantik!! Ibu kenalin, aku Laldi, mulid balu,” seorang anak laki-laki menyapaku dengan cadelnya. Anak laki-laki itu tampan dan …sepertinya tak perlu kulanjutkan.
“Iya anak ibu guru yang tampan. Makasi ya udah bilang ibu cantik,” aku tersenyum ramah padanya. Tuhan, mengapa ada yang aneh? Mengapa ada getaran di hati ini saat menatap anak kecil ini? Jangan bilang aku terkena penyakit mencintai laki-laki dibawah umur?
“Raldi bekalmu ketinggalan, sayang,” terdengar suara seseorang sedikit berteriak. Sepertinya seseorang itu memanggil anak kecil yang berada di hadapanku ini. Anak kecil yang berada di hadapanku ini pun menoleh dan aku mengikuti arah tolehannya.
DEG. Rasanya seperti disambar petir. Tubuhku langsung terdiam kaku membisu detak jantung berpacu dengan irama musik rock and roll.
“Oh iya, Pa. Laldi lupa,” jawab anak kecil itu dengan polosnya.
“Pa, kenalin ini gulu Laldi.”
“Hallo, saya Tio. Hmm sepertinya kita pernah kenal? Tapi dimana ya?” Tuhan, bahkan dia lupa padaku? Sungguh bodohnya aku mengingat seseorang yang sama sekali tak mengingatku. Semuanya bagai disambar petir lalu ketiban pohon tumbang.
Sakit. Hancur. Mati. Itu yang kurasakan. Seseorang yang tak bisa kulupakan justru dengan mudahnya melupakan aku. Tuhan …mengapa aku begitu bodoh? Mampu begitu setia dalam cinta yang tak pernah tahu kalau aku mencinta?
***
 “Apa kejadian ini akan membuat kamu juga melepaskan cita-cita kamu menjadi guru TK, Le?” Pertanyaan itu. Suara itu seolah tak asing di telingaku.
“Ardi?” Mataku membelalak melihat sosok Ardi yang berada di belakangku.
“Lama rasanya aku tak melihat wajah kamu. Aku rindu kamu,”
“Kamu …?”
“Ya, aku masih mencintai kamu. Cinta itu masih setia menunggumu. Dan aku lihat semua kejadian tadi. Jawab pertanyaan aku, Le?”
Aku terdiam. Kemudian aku menggeleng. “Nggak. Aku akan tetap di sini. Tak akan melepas cita-cita ini. Aku yakin, cepat atau lambat dia akan keluar dari hati ini. Kamu masih mau membantu aku mengeluarkan dia dan menggantikan posisinya, bukan?” Ardi tersenyum.


*Telah terbit dalam antologi Flashfiction bersama penerbit Nerin Media

22-11


            “Jangan bodoh!” Suara dengan isi kalimat yang itu-itu saja kembali mengusik lamunannya. Muncul sepersepuluh menit sekali. Masuk dari kuping kiri kemudian lewat tanpa rintangan hingga mencapai pintu keluar kuping kanan. Angin pantai kemudian membawa pergi suara itu.
            Sepasang bola berkornea itu telah digenangi air. Satu kedipan saja, maka  akan jatuh sempurna membelai wajah yang tak lagi seperti dulu. Sorot mata itu penuh harapan menatap jingga di ufuk barat yang hampir tenggelam.
            Lima.
            Empat.
            Tiga.
            Dua.
            Ahh! Dia selalu saja terlampau cepat berhitung. Seharusya bisa lebih lambat lagi. Tidak. Dia tidak pernah terlampau cepat. Hitungannya tepat. Jingga itu memang telah tenggelam. Tinggal langit biru dengan biasan jingga yang tak lama akan berganti kelam. Tapi, ada yang salah.
            “Sampai kapan kamu mau seperti ini?” Pertanyaan tersebut sudah pernah keluar beberapa kali, tak kalah sering dengan kaliamat ‘jangan bodoh.’
            Ombak tampak enggan menggulung senyum ketepian. Napasnya terhela sesak. Ini senja kesekian di tanggal duapuluh dua bulan sebelas.
            Apa kabar?
            Bolehkan kita meramu obat rindu?
            Ada sesuatu penting yang ingin kusampaikan. Datanglah ke tempat dimana kau bisa melihat jingga tenggelam bersama ombak yang agresif menyetubuhi pasir pantai. Aku tunggu di tanggal kembar tak bertangkai dan bulan kembar yang langka, tahun ini. Tepat Anniversarry kita ke-5 tahun.
                                                                        -Jimmi-
            Kalimat dalam surat waktu itu sangat lengkap melekat diingatannya, tak ada satu huruf atau tanda baca yang absen. “Bodoh itu saat kau menunggu sesuatu yang tak pasti,” jeda sesaat. Kepalanya menoleh menatap wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya, “Sedang Jimmi pasti datang, dia bukan laki-laki yang ingkar janji!”
            Risya, wanita itu menatap gadis dengan mata penuh harap itu dengan miris. Dipandanginya wajah yang masih terdapat bekas luka akibat menjilat aspal jalanan. Menelan ludah kemudian menggeleng. “Tapi ini bukan tanggal atau pun bulan kembar, Ay.”
            Ayla tergelak, “Kau bercanda? sekarang tanggal 22 November 2014.”
22 November 2014
            Jingga beranjak turun. Lelaki itu tak kunjung datang. Lima. Empat. Tiga.
            “Dua. Satu,” suara laki-laki tersebut membuat kepalanya menoleh melupakan sang jingga.
            “Lihat! Hitunganmu tepat sekali!” Seru laki-laki tersebut menatap langit yang telah kehilangan jingga. Gadis itu ikut menoleh kembali menatap jingga yang telah tenggelam di balik bukit tengah lautan.
            Laki-laki itu kemudian berjalan menghampirinya. Senyum gadis itu mengembang. “Lama tak bertemu? Sudah dua tahun sejak kamu kuliah S2 ke Malaysia, bukan? Sungguh aku merindukanmu!” Celotehnya tampak amat sumbringah, sedang air muka laki-laki tersebut tampak sendu.
            “Ini,” sebuah kertas berbalut plastik yang cantik tampak seperti undangan tersedor di hadapannya. Dilihatnya terdapat tulisan Jimmi & Kezha. Wajah sumbringahnya berganti bingung. Ditatapnya Jimmi dengan wajah penuh harap kalau apa yang disodorkan tersebut adalah undangan palsu, semuanya hanya candaan semata.
            “Aku minta maaf,” Jimmi menunduk. Ayla masih menatapnya, menanti ada penjelasan selanjutnya dari semua itu. “Ini permintaan ayah, kau tahu bagaimana ayahku bukan? Beliau tak pernah merestui kita?” Jimmi menatap gelang salib di pergelangan tangannya. Ayla mengikuti arah mata Jimmi.  
***
            “Aku titip Ayla,” pesan Jimmi pada gadis berjilbab bernama Risya. Risya menelan ludah, muak. Ingin tangan itu melayang menampar Jimmi, memaki laki-laki itu, meremas wajahnya. membentaknya. Marah. Geram.
            Risya mengangguk tanpa menoleh melihat Jimmi. Ia benci laki-laki itu. Tapi sahabatnya Ayla juga bodoh! Sudah tahu mereka tak bisa bersatu, sudah tahu takkan mendapat restu, tetapi tetap bertahan dalam pilu dengan harapan segalanya kan berpihak seiring waktu. Bodoh!
            Ia beranjak melihat Ayla dari kaca kecil di pintu rumah sakit. Mungkin, Allah membuat Ayla kecelakaan untuk mengistirahatkan jiwanya sesaat dan berharap saat sadar nanti Ayla lupa segalanya. Bahkan tentang Jimmi. Amnesia, baru kali ini ada yang mengharapkannya.
29 Desember  2015
            Ia masih setia pada waktu. Awan hitam berarak menghampiri mereka. Mengalirkan rintik peluruh luka.
            “Hujan!! Ayo kita harus segera berteduh, nanti kau sakit seperti seminggu lalu,” ajak Risya menarik tangan Ayla. Ayla enggan beranjak. Ia bersikokoh pada posisinya.
            “Tidak! Kali ini aku tak akan pergi. Aku takut nanti dia datang saat aku pergi!”
            “Dia tidak akan datang Ayla!!! Sadarlah! Jimmi sudah menikah dengan wanita lain setahun lalu! Kau melihat sendiri undangannya di tempat ini. Jimmi sudah datang menemuimu di tempat ini setahun lalu, Ayla! Sadarlah! Sekarang tanggal 29 Desember 2015 bukan 22 November 2014! Sadar, Ay! Sampai kapan kamu mau menganggap semua hari adalah tanggal 22 bulan 11? Sampai kapan kamu akan selalu menanti di sini sepanjang senja hingga langit berganti gelap?” Semua yang menyesak itu terutarakan dengan beberapa nada penuh tekanan dipandu suara rintik hujan.
            Pikiran Ayla berputar-putar. Ia tak mengerti maksud Risya. Trauma dan kecelakaan itu membuatnya terkena penyakit aneh dimana menganggap setiap hari adalah tanggal 22 November 2014, sebab itu ia selalu melihat senja dan menanti Jimmi di Pantai. Ayla berdiri dari posisinya, ingin mengucapkan sesuatu akan tetapi semua terasa berat. Kemudian gelap.


*Telah terbit dalam buku kumpulan antologi cerpen  One Time’ Penerbit : Viramedia


Jatuh Lebam



Jatuh
Langkah tertindih di tahun ketujuh
rusak asa tulang rapuh
pilu bergeser hujan jadi luruh
benciku nanar angkuh
muak lemah dengan kukuh
terkoyak nadi paruh lumpuh

Lebam
Langit malam mengecam kelam
Mencekam rindu jadi dendam
hati temaram lepas genggam

*Telah terbit dalam buku kumpulan antologi puisi  ‘Infinity’ Penerbit : Viramedia



Sajak tanpa makna

Menjamah rasa pilu
Membiarkan mutiara tergenang basah
Diteriaki keledai, membisu
Dikatai tuli, mendungu
Mungkin
tlah mati pikir
Tapi aku memikir
Tlah mati rasa, tapi merindu
Tak punya hati, tapi mencinta
Oh gila!
 _______________________________________________________________________________________
Langitku Hitam
Tak mungkin ada pelangi
Kau beri bintangpun aku enggan
Rembulan saja juga tak cukup
Lalu kau bisikkan tanya, “haruskah ku hadirkan mentari?”
Bibirku membisu
Kelu
Haruskah kau bertanya?
 ___________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Dalam sunyi Aku berteriak sepi
Lirih senandungkan lagu rindu
Wajah teduh itu gerimis di mataku
Tempat kau bertapa mulai gemuruh
Putus tasbihku terhenti pada bait do’a yang menyelipkan namamu
Bila Prasangkaku seumpama bunga
Maka pertunjukanmu adalah hama
Kau tahu apa yang terjadi pada bunga yang terserang hama?

Gugur. Layu. Lalu mati.

Ma


Ma,
Wajah teduhmu adalah penyejuk hatiku
Tawa renyahmu adalah bahagiaku
Senyum manismu adalah penyakit menular yang menyenangkan
Air matamu adalah lukaku, dimana tiap tetesnya mengoyak ngoyak bathinku
Ma,
Hatiku buncah mencinta
Rasaku bangga menggelora
Tiada dua bahagiaku
lahir dari bibir rahimmu
Ma,
Tak ada bunga atau peluk cium manja
Aku tak seromantis itu
Tapi kupastikan langit tlah terjamah oleh namamu
Malaikat begitu mengenalmu
Allah pun tahu
Ada kau dalam tiap hembusan napasku
Ada kau pengisi sajak wajib tasbihku
Ada kau di bait utama do'aku
Ma,
Padamu surga
Surga yang belum mampu kuraih
Tapi tenanglah, aku akan selalu menjangkau untuk meraihnya
seperti aku selalu menjangkau bahagia untukmu, Ma.

Kota Bertuah, 22 Desember 2015

Ai Wasureta


Aku tahu ia adalah lelaki yang sangat pelupa. Acap kali ia lupa dimana menyimpan kunci apartemen, lupa membawa handuk ke kamar mandi, lupa membawa ponsel, lupa mematikan AC dan banyak lagi. Tapi, aku tak pernah menyangka, kalau kali ini, aku menjadi bagian dari lupa-nya.
Langkah kakiku terhenti. Sebenarnya aku masih harus melangkah 9 sampai 12 langkah lagi menuju pintu apartemnku.Mataku membulat memperhatikan dua orang yang baru saja keluar dari apartemen di depan mataku.
“Hinata-san? Mizuki Oneesan?” Nada suaraku terdengar kecewa. Aku tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mataku, Mizuki oneesan, dokter berusia 28 tahun itu sudah kuanggap sebagai kakakku. Ia tinggal di apartemen yang sama denganku, hanya saja ia berada di lantai dua. Sementara Hinata ...dia kekasih halal-ku. Apartemen Hinata berada tepat di depan pintu apartemenku, kami memang belum satu apartemen karena ini kali pertama kami bertemu kembali di Kyoto setelah menikah. Usia pernikahan kami baru memasuki satu bulan dan kami belum pergi berbulan madu karena sehari setelah menikah Hinata harus kembali ke Kyoto atas tuntutan pekerjaannya, sementara aku harus menjaga ibuku yang sakit untuk beberapa waktu, hingga sekarang aku baru bisa menyusulnya ke Kyoto.
Aku ingin sekali melangkah mendekati mereka lalu mengomeli mereka, tetapi kakiku justru berbalik. Aku berlari. Pergi.
“Aira-chan!”Aku mendegar panggilan itu dengan sangat jelas. Tapi kakiku enggan berhenti. Aku menaiki anak tangga menuju atap apartemen. Air itu menyeruak keluar. Kupandangi langit hitam. Bintang malam ini tak seperti bintang malam itu.
“Semua tak seperti yang kau pikirkan, Aira-chan,” telingku mendengar suara itu tapi kepalaku enggan menoleh ke asal suara tersebut. Kepalaku lebih nyaman memandangi langit.
“Aku hanya berusaha menjaga Hinata, menjaga Hinata untukmu, hingga kau kembali. Itu saja.”
“Apa maksudmu?”  Kali ini aku menoleh, kemudian melanjutkan perkataanku sebelum jawaban keluar dari mulut Mizuki,“Alasanmu lucu sekali Mizuki Oneesan. Kau tahu, usia Hinata sudah 27 tahun, dia bukan anak usia lima tahun yang harus kau jaga!” Marahku pada Mizuki.
Mizuki tertunduk. Kemudian kembali memandang ke arahku, “Ini,” ia menyodorkan sebuah map biru kehadapanku. Kupandangi map biru itu kemudian melirik ke arah Mizuki. Tanganku mengambil map tersebut dari tangan Mizuki dan membukanya.
Dadaku sesak. Seketika pipiku terasa basah kembali. Kepalaku menggeleng. Aku menggigit bagian bibir bawahku kemudian menoleh ke arah Mizuki, berharap ia menjelaskan kalau apa yang kubaca hanyalah mimpi buruk.
“Aku tak sengaja bertemu dengannya seminggu yang lalu di Kamogawa. Saat itu ia baru saja dipecat karena lupa saat presentasi bisnis. Dan kau tahu, saat itu ia mengaku lupa jalan pulang dan bahkan ia tak mengenaliku. Kupikir dia bercanda, tapi aku teringat pada salah seorang pasiensku, kakek Yamamoto, aku sering menceritakannya padamu, bukan? Namun aku masih berharap dia tak seperti kakek Yamamoto, untuk itu aku langsung membawanya kerumah sakit. Tapi ternyata setelah diperiksa, hasilnya ialah apa yang kau pegang di tanganmu saat ini.”
“Tidak! Tidak mungkin! Alzeimer hanya terjadi pada lansia, Oneesan. Kakek Yamamoto sudah 72tahun, wajar saja bila dia terkena alzeimer, sementara Hinata masih berusia 27 tahun!”
“Yang kau katakan memang benar, tapi belakangan ini, ada beberapa pasiens seusia Hinata yang juga terkena Alzeimer, jadi bukan tidak mungkin Hinata terkena penyakit tersebut,” Mizuki menyeka air matanya dan terus menghadap lurus melihat pemandangan Kyoto di malam hari. Ia terlihat sangat serius.
“Dan,” ia melanjutkan perkataannya dan menoleh ke arahku. Aku menatap matanya menantikan kata selanjutnya, “Tadi ia bertanya padaku tentang siapa kau, Aira,” jantungku serasa berhenti berdegup. Lidahku kelu.
Mizuki merangkulku. kemudian menyeret tubuhku untuk tenggelam dalam dekapan hangatnya. Aku bergeming.“Tapi kau tenang saja, untuk saat ini, hanya daya ingat Hinata yang mengalami penurunan secara signifikan, sisanya, belum begitu mengalami penurunan yang begitu terlihat, oh ya, satu mukjizat Tuhan, dia masih bersikap seperti muslim, ternyata Alzeimer belum merusak agamanya, bahkan ia tak terlihat seperti pernah menjadi umat kristiani. Aku salut ketika melihatnya mendirikan sholat dan mengaji. Itu luar biasa,” senyumku terbit untuk sejenak, meski hatiku masih sakit tapi setidaknya Hinata tidak lupa bahwa dia adalah seorang muslim, meski mungkin ia lupa kalau dia adalah seorang mualaf.
“Apakah nanti dia akan seperti kakek Yamamoto?”Aku keluar dari dekapan Mizuki, memandanginya dengan mata merah. Ia mengangguk.
“Setelah ia masuk ke tahap yang lebih parah, ia akan mengalami penurunan emosi dan tidak tahu bagaimana cara melakukan aktifitas sehari-hari. Lalu, akan menjadi seperti balita, seperti kakek Yamamoto,” aku menelan ludah. Mengapa harus Hinata? Mengapa harus suamiku?
Mizuki memelukku lagi. Bulir-bulir air itu belum berhenti membasahi pipi. “Aira-chan, sekalipun dia tak mampu mengingatmu kembali, sekalipun dia tak bisa bersikap sebagaimana yang kau inginkan,  jangan pernah tinggalkan dia, karena semua ini juga bukan kemauannya. Bukan dia yang melupakanmu, tapi alzeimerlah yang membuatnya lupa akan dirimu.”
***
Aku mengetuk pintu apartemen Hinata dengan hati-hati. Sementara tangan kananku mengetuk pintu, tangan kiriku memegang sebungkus keripik nenas oleh-oleh yang kubawa dari kota asalku, Pekanbaru. Keripik nenas adalah makanan kesukaan Hinata, dulu setiap aku kembali ke Pekanbaru, ia selalu minta dibawakan keripik nenas. Tangan kananku berhenti mengetuk begitu pintu dibuka oleh Hinata. Ia memandangiku dengan wajah bingung.
Ohaiyo!” Sapaku riang dengan senyum lebar, bermaksud mencairkan kebingungan dari wajahnya.
“Kau?Ada apa mengetuk pintu apartemenku pagi-pagi begini?”Aku menghela napas panjang. Ia bahkan tak membalas senyum lebarku. Hanya memasang wajah datar.
“Kau benar-benar tak mengingatku? Lihat aku bawa apa?” Aku memperlihatkan kepadanya keripik nenas yang kubawa.
“Itu apa?”
“Ini keripik nenas, makanan khas dari Pekanbaru. Kau suka sekali ini. Kau mau coba?”Ia terdiam. Tanpa menunggu jawaban darinya aku langsung membuka bungkusan keripik nenas tersebut, kuambil satu dan kusodorkan kepadanya. Dengan wajah bingung ia mengambil keripik itu dari tanganku dan mencobanya.
“Enak,” katanya dengan senyum. Aku balik tersenyum, bila ia bisa merasakan rasa keripik itu kembali, akankah ia mampu merasakan rasa cinta ini kembali? Akankah ia bisa mengingatku kembali?
“Oh ya, kau lihat ini, siapa tahu dengan melihat ini kau bisa mengingatku kembali,” aku mengeluarkan dompetku dan memperlihtan kepadanya foto saat aku berdua dengannya usai acara akad nikah. Itu satu-satunya foto kami berdua yang aku punya, sisanya kutinggalkan di Indonesia.
Hinata melihat foto tersebut. Ia terdiam kemudian berkata, “Wah, kita pernah berfoto berdua? Apakah kita berteman dekat? Siapa namamu?” Tanyanya. Wajahnya polos. Hatiku sedikit kesal. Mengapa ia tak mengingatku sama sekali?
***
Aku menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Mataku memandang luas pohon-pohon maple yang mengelilingi danau Ooi River, ada yang telah menguning, ada yang berwarna merah dan juga jingga. Indah. Ooi River yang berada di tengah pegunungan Arashiyama ini masih sama seperi dulu, seperti dua tahun yang lalu. Mataku beralih melihat laki-laki itu. Ia tampak asing dengan tempat ini.
“Tempat ini indah sekali, ini tempat apa?” Pertanyaan itu membuat aku lagi-lagi harus menelan kecewa. Ini sudah hari kelima aku berusaha mengingatkannya tentang siapa aku dan siapa dia, tapi dia masih tidak bisa mengingat itu. Aku sudah membawanya ke tempat biasa kami menghitung bintang, ke tempat biasa kami menghabiskan secangkir kopi, ke tempat saat pertama kali kami bertemu di Kiyomizudera, dan sekarang aku mengajaknya ke tempat dimana ia menyatakan cintanya kepadaku untuk yang pertama kali, tapi ia juga tak mengingatku.
“Kau benar-benar tak mengingat tempat ini?”Aku menatapnya. Ia menggeleng dengan polos.
“Jadi kau masih tak mengingatku?” Mataku yang telah dipenuhi genangan air menatap matanya lekat. Aku tak berkedip untuk dapat menahan genangan air itu agar tak jatuh lagi.
Ia menatap mataku. Hatiku seketika merasakan sesuatu yang aneh. Tatapannya seperti ia telah mengenaliku. Sejenak kami terdiam, terhanyut membiarkan dua pasang bola mata itu saling bicara, hingga kemudian ia membuka mulutnya untuk mengungkapkan sesuatu. Aku menelan ludah. Entah mengapa aku merasa tak sabar mendengar apa yang akan ia katakan, namun juga merasa takut mendengar kembali perkataannya yang begitu polos mengatakan bahwa ia masih tak bisa mengingatku.
“Mengapa kau melakukan semua ini? Memangnya, seberapa penting kau hingga aku harus mengingatmu?” Mataku berkedip. Air itu akhirnya membasahi pipiku lagi. Aku tak mengeluarkan jawaban apapun, hanya berlalu meninggalkannya duduk di sisi perahu yang lain. Ia tidak mengingutiku, ia hanya mematung di tempat ia berdiri.
            Aku duduk termenung di bibir perahu memandang hampa pada danau. Terasa udara musim gugur menyelinap masuk menembus jaket tebalku. Aku menggosokkan kedua tanganku yang tak dibalut sarung tangan untuk menciptakan kehangatan kemudian memasukkan tanganku ke dalam kantung jaket. Tak sengaja aku merasakan ada sesuatu dalam kantung jaket sebelah kiriku. Aku ingat, itu adalah surat ucapan selamat hari jadi yang diberikan Hinata satu tahun lalu. Rencananya aku ingin memperlihatkan surat itu dan berharap setelah membacanya Hinata dapat mengingatku kembali. Tapi rasanya percuma, Hinata tak akan mengingatku lagi. Tidak akan.
Aku beranjak kemudian meminta paman yang membawa perahu itu agar membawa kami ketepi. Begitu sampai di tepi aku mengambil surat itu dari kantung jaketku, meremasnya kemudian membuangnya begitu saja. Berlalu pergi meninggalkan Hinata. Hinata tak memanggilku, itu artinya, aku benar-benar tak berarti untuknya.
***
Ketika hendak menaiki anak tangga menuju lantai empat, tak sengaja aku bertemu dengan Mizuki, ia tampak tengah terburu-buru. Akan tetapi ia sempat berhenti untuk menyapaku, “Aira-chan, kau dari mana saja? Mengapa sendirian? Tampaknya kau menangis? Dimana Hinata? Mengapa kau tak bersamanya?” Oh tidak, ia berhenti bukan sekedar untuk menyapaku, tapi untuk mengajukan sekelumit pertanyaan.
“Aku meninggalkannya di Ooi River. “
“Apa? Kau meninggalkannya sendirian di Ooin River? Itu tempat yang amat jauh dari sini?Ia bisa saja tersesat,” Mizuki tampak begitu khawatir.
“Aku tak peduli,oneesan, sudahlah. Lusa aku akankembali ke Indonesia dan mengatakan kepada ibuku kalau Hinata dan aku sudah tidak bisa bersama lagi. Bila kau peduli padanya, kau saja yang menjaganya. Aku tak sanggup menjaga orang yang tak bisa menjaga perasaanku.” Aku kemudian berlalu menaiki anak tangga kembali tanpa menantikan jawaban dari Mizuki.
***
Pukul 17.58 waktu Kyoto aku terbangun dari tidurku, terdengar suara pintu apartemenku diketuk. Aku beranjak dari atas ranjang dengan malas. Begitu aku membuka pintu apartemenku, tak ada siapa-siapa yang kulihat. Tapi begitu mataku melihat ke depan, kulihat ada tempelan kertas di pintu apartemen 407, tempelan kertas itu berisi tulisan, “Naik ke atap tepat jam 9 malam nanti. Aku menunggumu.–HD,” aku mencabut tulisan tersebut.
Aku melihat ke arah jam dinding. Jarum-jarum jam itu telah menunjukkan pukul 21.05 waktu Kyoto, separuh hatiku ingin sekali naik ke atap karena penasaran dengan isi dari kertas itu, akan tetapi separuhnya lagi tak ingin beranjak pergi karena takut kekecewaan itu harus kurasakan lagi. Aku terus saja memandangi jam, menghitung tiap detik yang berdetak.
Pukul setengah sepuluh, akhirnya diriku mengalah pada hati, aku memutuskan untuk naik keatap apartemen.
Sebuah tikar bambu terbentang dikelilingi oleh lilin-lilin yang telah tinggal setengah, mungkin akibat sudah terlalu lama menyala. Di tengah tikar itu ada lilin kecil, dua gelas kaca dengan sebotol shake, dua piring kosong disertai dua pasang pisau dan garpu, tapi tak ada makanan disana.
Happy anniversary yang ke-2 tahun Lativia Aira, dan selamat hari jadi pernikahan kita yang ke satu bulan,” aku memutar kepalaku menoleh ke sumber suara. Kulihat Hinata tersenyum dengan sepiring Okonomiyaki yang dihiasi lilin bertuliskan angka dua. Okonomiyaki, itu makanan kesukaanku, aku biasa menyebutnya ...Pizza Jepang.
“Kau?” aku benar-benar tak menyangka.Hinata? Melakukan hal yang sama dengan apa yang ia laukan setahun yang lalu saat merayakan anniversary kami yang ke-satu tahun? Bila dia bisa melakukan hal yang samaitu berarti ...dia mengingatku? Dia telah mengingatku!
“Ayo duduk dan kita nikmati malam ini,” aku mengikutinya, seperti terhipnotis aku tak melakukan aksi yang berlawanan sedikitpun, aku duduk di atas tikar yang dikelilingi lilin lilin kecil berwarna merah itu. Tersenyum melihat ia memotong okonomiyaki dan memberinya kepadaku.
 “Enak, kau semakin mahir saja memasak okonomiyaki,” pujiku. Hinata langsung terdiam.dengan gugup ia berkata, “Maaf, itu bukan buatanku, aku membelinya karena aku tidak tahu cara membuatnya.”
Seketika aku terdiam. Bagaimana bisa Hinata mengingat semua ini akan tetapi dia tak tahu cara membuat okonomiyaki?
“Maafkan aku, Aira-chan, jujur saja aku masih belum bisa mengingatmu dan mengingat semua hal yang pernah terjadi diantara kita dan ini semua aku tahu dari surat yang kau buang di Ooi River dan juga dari cerita Mizuki.”
“Jadi ...jadi kau melakukan ini bukan karena kau telah mengingatku?” Seharusnya aku memang tak menemui Hinata lagi.
Aku berdiri, bersiap untuk meninggalkan Hinata.“Bila kau memang tak bisa mengingatku, maka biarkanlah aku melupakanmu,” aku berbalik dan berjalan pergi. Kali ini Hinata tak membiarkan langkahku pergi, ia menahanku.
“Aira-chan!” ia berdiri di hadapanku. Langkahku terhenti.
“Ingatanku memang masih belum bisa mengingatmu, tapi hatiku masih bisa merasakanmu Aira-chan, bahkan sejak pertama kali aku melihatmu, hati ini memberikan isyarat berbeda. Hanya saja saat itu aku masih belum mampu mengertikan isyaratnya. Tahukah kau, sekalipun aku tak bisa mengingatmu, rasa itu masih tetap sama. Masih tetap milikmu. Jangan melupkan aku, aku janji akan belajar mengingat dengan baik. Aku akan lawan Alzeimer ini. Boku no soba ni ite kurenai?”
Aku teringat kata-kata oneesan. Kupandangi wajah ovel Hinata, sepasang mata besarnya menatap lekat mataku. Aku memeluknya,“Sekalipun kau tak mampu mengingatku kembali. Aku tak akan pernah meningglkanmu. Aku akan bersamamu menghadapi alzeimer itu, sayang,” bisikku dalam pelukannya.


Keterangan Kata
1.      San                                                      :  Panggilan untuk teman laki-laki
2.      Oneesan                                              : Panggilan untuk kakak perempuan bukan
kandung
3.      Chan                                                    : Dipakai pada anak kecil atau teman akrab
perempuan
4.      Ohaiyo                                                            : Ucapan selamat pagi
5.      Shake                                                  : Minuman bir Jepang
6.      Okonomiyaki                                      : Makanan Jepang berupa goring tepung dengan
kolditambah isi, seperti daging sapi, kerang,
cumi-cumi, atau udang yang diletakkan dibagian
atas sesuai dengan selera

7.      Boku no soba ni ite kurenai                : Maukah kau berada di sisiku?